Kesehatan

Pengobatan Terapi Kanker di Bandung Mengkhawatirkan

324views

SEMUA orang ingin sehat, namun semuanya dikembalikan pada Sang Pencipta. Salah satu penyakit mengerikan yang kerap masyarakat takutkan adalah kanker. Seperti yang dialami oleh ibu Gina (nama samaran) yang merupakan salah satu pengidap kanker payudara yang telah berjuang melawan penyakitnya dua tahun belakangan.

Secara tidak sengaja tim redaksi bertemu dan berbincang dengannya di salah satu rumah sakit swasta di Bandung yang beberapa waktu kemarin baru saja mendapatkan predikat Rumah Sakit Kelas A dan digadang-gadang menjadi pusat penanganan penyakit kanker di kota tersebut.

Gina bercerita dengan bahasa daerah bahwa dirinya melakukan pengobatan di rumah sakit tersebut merupakan hasil rujukan dari fasilitas kesehatan sebelumnya karena penanganan di rumah sakit sebelumnya harus menunggu berbulan-bulan. Terlebih, penyakit yang ia derita telah memasuki stadium lanjut.

“Saya ke sini dirujuk dari RS sebelumnya (menyebutkan nama rumah sakit di Bandung sebelum ia dirujuk ke rumah sakit baru, red.), itu punya pemerintah pusat tapi buat radiasi harus menunggu sampai 1 bulan, apalagi katanya ini (kanker, red.) udah stadium lanjut. Udah gak kuat kalau ditahan-tahan,” ungkapnya.

Selama proses pengobatan dirinya menggunakan fasilitas JKN/KIS atau yang akrab disebut dengan BPJS Kesehatan. Dalam pembicaraan, sempat terbesit dalam benaknya karena menggunakan BPJS sehingga layanan yang ia dapatkan membutuhkan waktu  cukup lama.

“Saya cuma mampu bayar iuran BPJS kelas 2 mas. Sempet mikir juga kalau saya dilama-lamain gini karena cuma pakai BPJS,” ujar ibu 49 tahun itu.

Ketika ditanya soal pelayanan di rumah sakit rujukan yang kini dirinya jalani perawatan, ia menuturkan jika alat LINAC (Linear Accelelator) sebagai alat penunjang pengobatan kanker di sana sering rusak sehingga menghambat proses pengobatan penyakit yang dideritanya.

“Di sini gak ada antrian tunggu radiasi sampai berbulan-bulan tapi LINAC-nya sering gangguan, jadi harus nunggu selesai diperbaiki dulu baru bisa jalan lagi terapi sama pengobatannya,” tambah Gina.

Ia juga menuturkan jika fasilitas penunjang dan layanan terapi yang sedang dijalaninya tidak bermasalah, mungkin kondisinya sudah membaik dan berangsur pulih serta memilki harapan hidup yang lebih panjang.

“Kalau aja alat di sini gak sering rusak, pasti saya udah mendingan mas. Jadi, ada harapan besar ke depannya gimana. Tapi kalau gini terus, saya pasrahkan aja. Ikhtiar sudah, sisanya minta keajaiban Tuhan untuk saya aja,” pungkas ibu dua anak itu.

Pada kesempatan yang sama, tim redaksi berbincang dengan Candra (nama samaran) anak dari Gina yang mengantarkan ibunya terapi radiasi. Chandra mengatakan bahwa alat LINAC yang digunakan ibunya untuk terapi mengalami kerusakan sehingga membutuhkan waktu perbaikan selama dua minggu.

“Ini sebenernya baru radiasi lagi kang, soalnya kemarin selama dua minggu alat (LINAC, red.) rusak, hari ini (Senin (13/3), red.) baru bener lagi,” ucap pria berusia 24 tahun itu.

Candra mengungkap bahwa ia mengharapkan penanganan yang baik terhadap penyakit yang diderita ibunya agar lekas sembuh. Hal ini disebabkan karena setiap malam ibunya selalu merintih menahan nyeri pada payudaranya.

“Maunya ibu cepet-cepet sembuh, kasian kang tiap malem selalu bilang sakit di area dadanya. Selama ini saya cuma bisa bantu tenangkan ibu kalau mulai kerasa (sakitnya, red.),” ungkap Candra.

Kanker

Melansir dari laman yankes.kemkes.go.id, kanker merupakan penyakit tidak menular yang ditandai dengan adanya pertumbuhan sel secara masif dan bersifat ganas yang menyerang dan merusak jaringan atau organ normal pada area sel kanker tersebut berkembang.

Dalam penanganannya, pengobatan dan terapi kanker terbagi menjadi tiga cara, yakni terapi primer, kompelenter, dan komplementer-alternatif. Terapi primer dilakukan dengan cara penanganan secara medis, di dalamnya terdapat cara kemoterapi dan radiasi seperti yang sedang dijalani oleh Gina pada penjelasan di atas.

Adapun terapi komplementer dalam penanganan kanker. Terapi ini bersifat nonmedis dengan cara memberikan sugesti psikologi kepada pasien agar tubuhnya menyerap energi positif dari lingkungan sekitar untuk untuk meningkatkan imunitas pasien agar dapat memerangi sel kanker yang berkembang di dalam tubuhnya.

Terakhir, terapi komplementer-alternatif. Sama seperti terapi komplementer, terapi jenis ini merupakan upaya nonmedis namun ditunjang dengan mengonsumsi produk herbal yang dinilai dapat mendukung tubuh memerangi sel kanker dari dalam tubuh. Masih merujuk pada laman yang sama, beragam jenis produk herbal untuk kanker antara lain kunyit putih, sambiloto, daun sirsak, daun dewa, tapak dara, dan masih banyak lagi.

Semoga ibu Gina dapat lekas pulih dan selalu bersemangat dalam proses pengobatan penyakit yang dideritanya. Aamiin. (Lingga/bp)

Leave a Response