Oleh: Siti Putri Nurmayani
PERCERAIAN bukanlah proses yang mudah, baik bagi pasangan maupun anak. Seringkali, proses ini diwarnai berbagai konflik antar-orangtua, yang juga berdampak negatif pada anak. Akan tetapi, tanggung jawab sebagai orangtua dalam mengasuh anak tidak lantas hilang meski sudah bercerai. Co-parenting menjadi salah satu solusi terbaik dalam mengasuh anak ketika Anda dan pasangan memutuskan untuk bercerai.
Apa itu Co-Parenting?
Menurut Iswan Saputro, M.Psi., Psikolog, co-parenting adalah konsep pengasuhan yang dilakukan pasca perceraian pada anak. “Dalam co-parenting anak menjadi prinsip atau kepentingan utama dalam memberikan pengasuhan. Jadi prinsipnya, anak tetap dapat kasih sayang dari orang tua, baik ibu dan ayah, walau status keduanya telah bercerai,” jelasnya. Dalam pola asuh co-parenting, kedua orangtua diharapkan berperan aktif dalam mengasuh anak dan terlibat dalam kesehariannya. Dengan begitu, bercerai tidak membuat anak tidak kehilangan sosok orangtuanya.
Melansir dari Psychology Today, co-parenting adalah pilihan terbaik bagi sebagian besar anak yang orang tuanya bercerai. Pasalnya, anak-anak akan melakukan hal yang terbaik ketika mereka menghabiskan sepertiga atau setengah dari waktu mereka dengan masing-masing orang tua.
Manfaat Co-Parenting
Manfaat bagi anak dengan orangtua bercerai yang menerapkan pola asuh co-parenting adalah:
- Kepercayaan Diri Anak Meningkat ~ Pada dasarnya, perceraian orangtua akan berdampak signifikan pada psikologis anak dan orang-orang di sekitarnya. Namun, adanya co-parenting dapat membuat kepercayaan anak tetap terjaga dan meningkat.
- Anak Merasa Aman ~ Anak merasa lebih aman karena tetap dicintai oleh kedua orangtuanya. Walau status orangtua telah bercerai, co-parentingmembuat anak merasa aman karena menilai atau memaknai ayah dan ibunya masih ada untuknya.
- Memiliki Panutan ~ Salah satu manfaat co-parentingbagi anak adalah ia masih memiliki role model terhadap orang dewasa melalui orangtuanya yang hadir dalam co-parenting. Menurut Psikolog Iswan, role model sangat penting bagi tumbuh kembang anak, baik secara psikologis atau sosial.
- Memahami Pemecahan Masalah ~ Dengan adanya perceraian dan co-parentingsebagai solusinya, anak jadi memahami setiap konflik bisa disikapi bersama-sama. Anak akan melihat, mengevaluasi, dan menilai dari bagaimana orangtua memperlakukannya meski sudah bercerai.
- Memiliki Kehidupan yang Konsisten ~ Pola pengasuhan co-parenting membuat anak memiliki kehidupan yang konsisten. Artinya, anak tetap mendapatkan aturan, arahan, serta masukan ketika ia melakukan kesalahan atau melakukan sesuatu. Jadi, rewarddan punishment tetap berjalan, sehingga anak tetap hidup masih dalam aturan, nilai-nilai, atau value yang ingin diturunkan oleh kedua orangtuanya yang sudah bercerai.
Tips Sukses Melakukan Co-Parenting
Menerapkan pola asuh co-parenting tidak selalu berjalan mulus. Akan ada banyak tantangan, apalagi jika Anda dan mantan pasangan menjalani perceraian yang penuh pertikaian. Mungkin, masih ada perasaan sakit hati, marah, dan dendam terhadap mantan pasangan.
Supaya berhasil, berikut tips melakukan co-parenting yang bisa diterapkan:
- Prioritaskan Anak ~ Saran Psikolog Iswan, coba untuk fokus atau memprioritaskan anak. Dengan begitu, kedua pasangan yang sudah bercerai akan menurunkan egonya dan lebih mengutamakan kebutuhan anak. Nantinya, proses pengasuhan pun jadi lebih optimal bagi Anda dan mantan pasangan, serta bagi si kecil.
- Kompromi ~ Anda dan mantan pasangan perlu melakukan kompromi terhadap banyak hal, mulai dari cara mengasuh, kapan waktu kunjungan, hingga berapa lama menghabiskan waktu secara bergantian. Dalam hal ini, kompromi bukan berarti membagi peran 50:50, namun artinya, Anda dan mantan pasangan menyadari bahwa masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Sehingga, perlu ada kerjasama untuk saling memahami kesibukan dan tanggung jawab yang dimiliki untuk kepentingan tumbuh kembang anak.
- Menjaga Komunikasi yang Sehat ~ Anda dan mantan pasangan bisa melakukan komunikasi yang sehat, setelah perceraian dengan tidak menyalahkan dan merendahkan satu sama lain di hadapan anak. Selain itu, coba untuk berkoordinasi yang fokusnya tidak mementingkan ego, tetapi mementingkan apa yang terbaik untuk anak. Kemudian, coba komunikasi secara kooperatif dan logis dengan tetap menjaga sopan santun. Ketika anak melihat orangtuanya saling menghina satu sama lain, ini akan membuat anak memiliki persepsi negatif tidak hanya pada satu orang, tetapi bisa jadi ke kedua orangtuanya.
- Jangan Libatkan Anak dalam Permasalahan ~ Pastikan untuk tidak melibatkan anak dalam permasalahan Anda dan mantan pasangan. Ini bertujuan agar orangtua lebih fokus pada pengasuhan. Melibatkan anak pada proses penyelesaian masalah orangtua sangatlah berisiko, apalagi jika anak masih di usia sekolah. Anak memiliki keterbatasan dalam memahami masalah dan situasi, apalagi jika ada keberpihakan yang dituntut oleh orangtuanya. Hal tersebut hanya akan memicu timbulnya persepsi negatif, baik kepada ibu atau ayahnya. Ini akan memengaruhi kondisi psikologis anak ketika sudah dewasa.
- Saling Bertukar Informasi ~ Usahakan untuk tetap saling bertukar informasi terkait keadaan anak. Misalnya, Anda dan mantan pasangan bisa saling memberi tahu satu sama lain sebelum melakukan perubahan pada kehidupan anak, seperti pindah ke rumah baru atau memperkenalkan pasangan baru. Selain itu, pastikan satu sama lain mengetahui kegiatan yang berhubungan dengan si kecil, seperti jadwal kegiatan anak sekolah, les, bermain, atau kegiatan lainnya.
Menerapkan co-parenting merupakan solusi terbaik untuk anak ketika kesulitan untuk menghadapi perceraian orangtua dan masa setelahnya. Dengan pola asuh ini, anak tetap merasa memiliki keluarga dan orangtua. Ini juga dapat membuat mereka menjalani hidup dengan lebih positif dan bahagia.**(Tulisan sudah ditinjau oleh: Iswan Saputro, M.Psi., Psikolog/Sumber: KlikDokter/bnn/jit)





