
Oleh: dr. Nitish Basant Adnani, BMedSc MSc.
HELICOPTER parenting adalah pola asuh orangtua yang terlalu fokus memperhatikan anak-anaknya. Hal ini diibaratkan seperti seseorang yang selalu dipantau oleh helikopter di atasnya. Orangtua dengan pola asuh ini memiliki rasa tanggung jawab yang berlebihan untuk segala aspek kehidupan sang anak, terutama terkait kesuksesan dan kegagalan buah hatinya. Orangtua yang melakukan pola asuh helikopter juga memiliki kecenderungan untuk mengendalikan, melindungi, dan mencari kesempurnaan bagi sang anak, yang dapat dianggap berlebihan oleh orang lain.
Istilah helicopter parenting sering digunakan untuk mendeskripsikan orangtua yang punya fokus berlebih pada anaknya yang berada di usia sekolah. Padahal pada periode ini, anak biasanya sudah mulai mandiri dan mampu menangani keperluan diri sendiri. Misalnya, dalam hal mengatur jadwal, dan mengerjakan pekerjaan rumah. Namun begitu, pola asuh ini sebenarnya dapat diamati pada orangtua yang memiliki anak dari berbagai kelompok usia, seperti:
- Pada masa kanak-kanak. Pola asuh helikopter bisa dilihat dari perilaku orangtua yang selalu membayangi anak-anak, mengatur jadwal kegiatan mereka, dan tidak memberikan kesempatan untuk berkreasi atau bermain sendiri.
- Pada masa sekolah dasar. Beberapa contoh dari pola asuh helikopter di periode ini, orangtua akan memastikan anak mendapatkan guru atau pelatih yang sesuai dengan keinginan orangtua.
Selain itu, orangtua juga akan memilih dengan siapa anaknya boleh berteman. Orangtua dengan pola asuh helikopter juga akan memilih aktivitas yang dapat dilakukan anak dan berlebihan membantu pekerjaan sekolah mereka.
Penyebab pola asuh helikopter
Apakah yang menyebabkan orangtua menerapkan pola asuh helikopter? Umumnya, pola asuh yang satu ini dianut oleh orangtua yang merasa ketakutan apabila anaknya mendapatkan hasil yang buruk. Contohnya, nilai sekolah yang buruk, tidak dapat bekerja dalam kelompok tertentu, atau tidak mendapatkan pekerjaan di masa depan. Hal-hal tersebut dianggap menyeramkan bagi para orangtua, terlebih apabila mereka berpikir bahwa hal-hal itu dapat diubah dengan campur tangan mereka sebagai orangtua.
Namun, terkadang sebagian orangtua melupakan bahwa hal-hal, seperti ketidakbahagiaan, perjuangan, dan ketidaksempurnaan, adalah penting untuk dipelajari anak dalam kehidupan. Kekhawatiran orangtua akan ekonomi, lapangan pekerjaan, dan dunia secara umum dapat mendorong orangtua untuk lebih cenderung mengatur anak. Dengan melakukan aneka ‘perhatian’ tersebut, orangtua berharap dapat menghindarkan anak disakiti atau dikecewakan. Orangtua yang pada masa kecilnya merasa tidak mendapatkan cukup perhatian akan cenderung melimpahkan segala perhatiannya pada sang anak. Mereka berharap anak tidak merasakan apa yang dialami oleh orangtuanya saat kecil.
Dampak pola asuh helikopter
Walaupun didasari oleh tujuan yang baik, pola asuh ini dapat memberikan dampak yang buruk bagi anak-anak. Sebagai contoh, anak yang diasuh dengan pola asuh helikopter dapat mengalami rasa rendah diri karena orangtua terlalu terlibat dalam segala aspek hidupnya. Anak pun dapat merasa, bahwa orangtua mereka tidak percaya suatu hal dapat dikerjakan sendiri. Mereka pun berisiko kehilangan rasa percaya dirinya. Selain itu, pola asuh helikopter dapat membuat anak tidak siap menghadapi kegagalan, masalah, atau kekecewaan. Anak yang diasuh dengan pola asuh ini ternyata menunjukkan tingkat kegelisahan yang tinggi dan rasa depresi yang lebih nyata. Efek yang paling berpengaruh adalah kurangnya kemampuan anak yang seharusnya dikuasai oleh anak.
Melindungi anak adalah naluri setiap orangtua. Namun, terlalu fokus melindungi anak hingga membuatnya tidak bebas berkreasi dan mengambil keputusan, seperti yang terjadi pada helicopter parenting, dapat menghambat anak menjadi pribadi yang mandiri. Terkadang, perjuangan, kegagalan, dan kekecewaan adalah pelajaran hidup yang dapat bermanfaat bagi anak seiring pertumbuhannya menjadi manusia dewasa.**(Sumber: KlikDokter/bnn/jit)





