Senang Melihat Guru Sibuk Belajar Meningkatkan Kompetensi dan Memfasilitasi Pembelajaran Anak-anak untuk Menjadi Pembelajar Mandiri
Senang Melihat Guru Sibuk Belajar Meningkatkan Kompetensi dan Memfasilitasi Pembelajaran Anak-anak untuk Menjadi Pembelajar Mandiri

KOTA BANDUNG, Bandungpos.id–Tulisan tentang meratapi ironi kurikulum merdeka, siswa belajar mandiri, guru sibuk sendiri, dimuat Bandungpos.id (Opini/Pendidikan) oleh Rianto Muradi penggerak literasi Kota Bandung, langsung direspon Dosen UPI Bandung yang juga mantan Kadisdik Kota Bandung, Dr.Drs,. H. Ellih Sudiapermana,.M.Pd.
Menurut Ellih, selama ini dirinya konsentrasi diskusi dengan para guru, apakah melihat perubahan sebagai keniscayaan atau ‘perintah’ ? Apakah pemerintah (Kemdikbud RI, dalam hal ini dinas pendidikan) masih ‘mengharuskan penggunaan perangkat tertentu dalam KM’ atau ‘mengharuskan mengoperasionalkan KM sesuai situasi anak dan sekolah masing-masing secara kreatif’.
“MB dan KM mestinya dipandang sebagai kesempatan untuk selalu belajar, beradaptasi, berintegrasi dengan perubahan tanpa perintah. Simpulan ‘Guru bekerja sendiri’ apakah obyektif menunjukkan bahwa para guru hanya mengerjakan perintah untuk kepentingan sendiri, atau hasil sebuah pengamatan pihak luar karena berasumsi kalau guru harus sibuk bicara di depan murid/konsep transfer of knowledge? “ Katanya
Mestinya tegas Ellih, fasilitas kebijakan MB-KM menjadikan Guru belajar berkelanjutan secara mandiri agar memiliki komptensi untuk memfasilitasi anak-anak belajar dan berprestasi lebih baik sesuai dengan minat, bakat, dan konteks kehidupannya. Pemenang masa depan adalah lifelong learner karena perubahan makin cepat dan kompleks, oleh karena itu anak harus dibelajarkan menjadi pembelajar mandiri yang mampu memanfaatkan berbagai sumber belajar, termasuk diluar guru. Guru penting menjadi fasilitator belajar, bukan satu-satunya sumber belajar karena sumber belajar kita sekarang melimpah dan dekat dengam anak-anak. Mungkin masih banyak pihak yang menganggap ‘apa kerjanya guru kalau tidak ngajar ‘ngablamblam’ di depan kelas sepanjang jam pelajaran?’
Jadi pemaknaan ‘murid belajar mandiri dan guru sibuk sendiri’ mesti dieksplorasi lebih detil apakah itu saling terkait secara fungsional atau sendiri-sendiri dalam makna masing-masing.
“Kalau saya senang melihat guru sibuk belajar meningkatkan kompetensi dan memfasilitasi pembelajaran anak-anak untuk menjadi pembelajar mandiri. Bukan sibuk di kelas menceriterakan ‘isi buku’ kepada murid hingga habis jam pelajaran, “ katanya.
Sementara itu pengamat pendidikan yang juga mantan Pengawas Dinas Pendidikan Kota Bandung, Dra. Nita Suherneti, M.Si merespon cepat untuk meningkatkan kualitas guru di Kurikulum Merdeka, dikatakannya, hari ini sedang dilaksanakankegiatam IHT di satu sekolah untuk menyamakan persepsi tentang KM, sehingga para guru pahami apa itu belajar dan apa itu mengajar, sehingga Neti setuju sekali dengam statement Dr.Ellih.
“Saya senang melihat guru belajar sebelum mengajar. Tahu apa tujuan kita belajar untuk siapa mengajar. Tentunya kita mengajar untuk peserta didik, berpihak kepada peserta didik, melibatkan peserta didik, yang sesuai dengan tingkat kemampuan/perkembangan peserta didik, “katanya. ** ( RM/BNN)





