Olahraga

Soal Naturalisasi, FORKI Jabar Harus Menjadi Trendsetter Bukan Folower

73views

Bandung, BANDUNGPOS.ID – Berbicara soal naturalisasi, orang melihat karate sebagai olahraga beladiri tapi belum punya nilai jual. Saat ini naturalisasi yang sudah berjalan adalah di sepakbola. Di cabor ini sponsorship berebut.

“Oleh karena itu kita harus berpikir keras bagaimana karate  menjadi sebuah industri. Nah tentunya kita harus mencari daya tarik karate itu apa. Inilah yang saya paparkan tadi di acara Rakerprov FORKI Jabar,” ujar Wakl Ketua Umum Bidang Pertandingan FORKI Jabar Darly Akbarsyah Putra Siregar usai Rakerprov FORKI Jabar  di Hotel El Cavana Jalan Pasirkaliki Kota Bandung, Minggu (28/1/2024).

Naturalisasi itu – ungkap Dirly, bertujuan agar FORKI Jabar memiliki persaingan. Saat ini Jabar mempunyai banyak materi atlet akan tetapi FORKI Jabar butuh persaingan yang lebih keras dan kompetitif kedepannya.

“Naturalisasi tentunya akan berhadapan dengan orang asing yang memiliki karakter dan tipe cara bertandingan yang berbeda. Terus mereka bertanding di sirkuit yang kita adakan, ini akan menaikkan performa, teknical karateka-karateka Jabar,” ucap Dirly.

Dirly berhadap di tahun 2024 ini perihal naturalisasi bisa diwujudkan. Namun soal aturan hukum dan cara mainnya seperti apa tentu harus dikoordinasikan lagi karena menyangkut kerjasama antar bidang.

“Kebetulan Waketum bidang hukum adalah kabid di Kemenkumham Jabar. Otomatis beliau pasti hapal. Jadi jangan saya pikirkan hal itu lagi (naturalisasi). Karena sudah menjadi tupoks beliau. Ya bagi-bagi tugaslah.” ungkap Dirly yang juga Wakil Ketua Umum PB FORKI Bidang Luar Negeri, Penelitian dan Pengembangan.

Dirly memaparkan, atlet naturalisasi tentunya bukan atlet yang asal jadi, namun atlet yang sudah jadi yang akan ditawarkan. Untuk naturalisasi pastinya ada biaya transfer dll. Sebagai Waketum PB FORKI dengan jabatan yang relevan dengan naturalisasi, Dirly memiliki kewajiban untuk menjadi talent scouting.

“Kita tidak akan melakukan naturalisasi atlet yang tidak punya nilai jual dan prestasi bagus. Kalau mau jujur sekarang ini permintaan sudah banyak. Oleh karena itu mari FORKI Jabar bergerak bersama-sama agar maju bersama-sama,” ujar Dirly.

Dirly mengatakanj, sebenarnya di Rakerprov FORKI Jabar persoalan naturalisasi tinggal ketok palu untuk disepakati sampai 2027. Setelah itu tinggal dibuat fase-fasenya. Adapun atlet naturalisasi yang dibidik dari negara mana, sampai saat ini belum ada.

Meski demikian jika melihat prestasi karate yang mendunia, atlet dari Iran, Turki dan Khazakstan sangat kuat. Khazakstan yang baru muncul sudah melahirkan atlet karate juara Olimpiade.

“Kalau karate sudah menjadi industri dengan sendirinya akan menjadi profesi. Memiliki gaji dan fasilitas. Kita bisa mengadop sepakbola. Setelah itu tinggal memodifikasi karena karate ini lebih menarik dan punya daya jual,” ujar Dirly.

Saat ini – ujar Dirly yang juga menjabat Bendahara Umum di Asia Karate Federation (AKF), kalau orang ikut di turnamen Asia, sponsorship berebut. Sementara di kita masih sibuk dengan permohonan sumbangan.

Menurut Dirly, Jabar harus menginisiasi soal naturalisasi . Dan Jabar harus menjadi trendsetter bukan folower. Jabar penuh kreatifitas. Persoalannya, mampukah kreatifitas itu menjadi peluang ?

“Kebetulan kita memiliki ketum FORKI Jabar, Kang Ogi (Gianto Hartono) yang memimpin FORKI Jabar dengan mengempower. Jadi kepada seluruh bidang Kang Ogi selalu bilang ayo laksanakan tupoksi. Jadi bukan keputusan beliau. Kita punya saran, pendapat, kita bahas, kita putuskan secara kolektif kolegial. Kang Ogi bukan tipe pemimpin yang hanya memberikan komando saja,” ujar Dirly. (den)   

 

 

 

Leave a Response