
Oleh Tubagus Aji Wijayanto
Tidak menjadi soal sebenarnya ketika kita berbicara perbedaan, perbedaan apa pun itu. Sebab perbedaan itu adalah sunnatullah. Yang penting bagaimana cara kita menyikapi perbedaan itu.
Jangan sampai perbedaan itu membuat kita bersikap berbeda atau bahkan menjadi membenci seseorang atau sekelompok orang. Ini penting ditekankan dalam kehidupan mahasiswa di kampus, jangan hanya karena beda organisasi, teman bisa jadi tidak akrab, rasa persaudaraan dengan teman kampus sendiri bisa sedikit miring, sungguh disayangkan.
Dalam sebuah tulisan di salah satu media massa digital, disebutkan bahwa seorang ahli psikologi Amerika melakukan studi selama 10 tahun mengemukakan bahwa ada yang namanya ‘aliran jebakan’ yaitu manusia terkotak-kotak hanya karena egoisme agama, sekte, negara, parpol dan organisasi.
Contoh dalam kehidupan kampus, kita lihat saja teman-teman di sekeliling kita, tidak banyak dari mereka atau bahkan diri kita sendiri secara individu sangat baik kepada orang lain. Tetapi karena ‘aliran jebakan’ tadi yaitu dia terikat oleh perbedaan organisasi, maka terkadang teman atau kita sendiri menjadi terlihat murka di hadapan orang lain.
Coba kita perhatikan baik-baik, sepertinya contoh seperti itu nyata adanya jika kita telah menyadarinya.Jika kita ingat lagi, almarhum Gusdur juga pernah mengatakan “kalau mau bikin konflik bikin aja organisasi”. Bukan maksud organisasi tidak bisa memberi manfaat, sangat banyak memberi manfaat. Namun serin kita jumpai saat seseorang masuk organisasi, banyak dari mereka yang terjebak pada ‘aliran jebakan’ tadi. Mereka terjebak pada egoisme organisasi, maka apa yang terjadi? Terjadi saling gontok antar organisasi, banyak yang merasa hebat dengan menjatuhkan organisasi lain.
Setelah kita menyadari semua hal itu, marilah kita mengintropeksi diri jika memang kita telah terjebak pada “aliran jebakan” tadi, marilah kita keluar dari jebakan itu. Tanamkan pada diri kita, tanamkan kepada kader kita, ingatkan kepada kakak-kakak petinggi oraganisasi kita, mari budayakan adab diskusi dengan menghargai perbedaan, dan carilah persamaan-persamaan. Agar tidak terjebak pada ‘shared thought’, sebuah pemikiran bersama yang menjebak kita untuk menjadi fanatik.
Pesan bersama bagi para aktivis kampus, para organisator hebat di lingkungan kampusnya masing-masing, tetaplah ‘menjadi baik’ kepada saudara sekampus kita khususnya, dan umumnya bagi seluruh teman-teman mahasiswa, meskipun kita berbeda organisasi tapi kita masih dalam satu rumah yang sama dan memiliki tujuan yang sama sebagai agen perubahan. Semoga hati kita tetap bersih. Walau berbeda, hati harus tetap dingin.*
* Tubagus Aji Wijayanto, peminat masalah sosial dalam kancah milenial, mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Pasundan (Unpas), bermukim di Kota Bandung, Jawa Barat.



