Kolom Mahasiswa

Tren Cut Off Pertemanan: Menavigasi Dinamika Hubungan Sosial

70views

Oleh  Rifka Saputri

Di era digital ini, sebuah tren yang semakin mencuat adalah fenomena “cut off pertemanan.” Bagaimana sejauh ini kita membentuk dan mempertahankan hubungan sosial telah mengalami perubahan signifikan, dengan kecenderungan untuk secara drastis memutus ikatan pertemanan. Mari kita telaah dampak dan dinamika dari tren ini.

Era media sosial membawa kemudahan dalam terhubung dengan orang baru, tetapi di saat yang bersamaan, membuka pintu bagi tren cut off (memutuskan) pertemanan. Dalam pencarian akan kesempurnaan dan kepopuleran, beberapa orang cenderung dengan mudah memutuskan hubungan pertemanan yang tidak lagi sesuai dengan citra mereka. Hal ini menciptakan kesenjangan sosial yang mungkin berdampak pada kesehatan mental dan kebahagiaan.

Selain kondisi tersebut, kondisi mental dan tren cut 0ff membuat  keputusan untuk  mengakhiri ertemanan seringkali dipicu oleh ketidakcocokan nilai, perbedaan pendapat, atau perubahan arah hidup. Namun, apakah kita benar-benar menyadari dampak psikologis dari tindakan ini? Tren cut off pertemanan dapat menyebabkan perasaan kesepian, kehilangan identitas sosial, dan bahkan masalah kesehatan mental seperti depresi.

Pengaruh media sosial dan self-image ternyata dapat menjadi dampak yang berkelanjutan, media sosial memainkan peran kunci dalam tren cut off pertemanan. Dorongan untuk menampilkan citra yang sempurna dan mendapatkan persetujuan dari orang lain dapat memicu keputusan untuk memutus hubungan dengan siapa pun yang dianggap “tidak layak.” Oleh karena itu, pertanyaan etika muncul: sejauh mana kita dibentuk oleh ekspektasi digital?

Sehingga keharusan kita membangun kesadaran sosial dan empati, dengan menanggapi tren cut off pertemanan, penting untuk membangun kesadaran sosial dan meningkatkan empati. Keterbukaan untuk memahami perspektif orang lain, menyelesaikan konflik, dan memberikan ruang bagi pertumbuhan individu adalah kunci untuk membangun hubungan yang berkelanjutan.

Lalu dengan menavigasi dinamika hubungan sosial, kita perlu menjadi agen perubahan positif. Menavigasi dinamika hubungan sosial memerlukan keterbukaan untuk berkomunikasi, kesediaan untuk memaafkan, dan kemampuan untuk tumbuh bersama-sama. Memahami bahwa setiap pertemanan memiliki kurva pertumbuhannya sendiri adalah langkah pertama untuk membangun hubungan yang kokoh.

Dalam memahami dan merespon tren cut off pertemanan, kita dapat membentuk masyarakat yang lebih berempati dan menghargai nilai-nilai hubungan manusiawi. Kita perlu kembali menilai cara kita memperlakukan dan memahami satu sama lain, memastikan bahwa keputusan kita tidak hanya didasarkan pada tren atau tekanan sosial, tetapi juga pada kedalaman dan keunikan hubungan yang kita bentuk. *

* Rifka Saputri,  mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Pasundan,  bermukim di Andir, Ciroyom, Kota Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response