

SIAPAPUN-– tidak pernah akan siap menerima manakala kejadian yang luar biasa pada diri kita, apalagi bagi seorang Popon S Latifah yang kehilangan penglihatannya sejak SD.
Renungan demi renungan, dan kesadaran reflektifnya dia tuangkan pada buku Antologi Puisi dan Sajak, “Kupinjamkan Mataku pada Malam” yang diterbitkan Ultimus (2024).
Karyanya dibedah dan dibacakan dalam kegiatan DILANS Indonesia minggu sore kemarin.
Jauh dari sekedar penyesalan dan kemarahan akan takdir dari ketidakberdayaannya menatap dunia seperti umumnya warga lain. Bangkitnya semangat yang luar biasa untuk melihat dunia dari sisi lain, termasuk bersama warga perempuan mendirikan Blind’s Moms Community untuk memberdayakan perempuan senasib.
Ibu dengan seorang putri ini aktif sebagai atlet catur, penulis News Difabel , dan instruktur “komputer bicara” untuk teman-teman difabel netra.
Berbagai karyanya luar biasa ini beragam isinya, termasuk berbagai gugatan agar pemenuhan hak penyandang disabilitas dipenuhi oleh negara.
Tentunya apa yang diartikulasikan sejalan dengan apa yang diperjuangkan oleh DILANS Indonesia. Karenanya kami mengapresiasi karya yang ditulisnya dan merasa bangga diantara relawan dan aktivis kami ikut membacakannya.
Tentunya ini awal yang baik, akan munculnya karya sastra yang juga bisa mengungkapkan realitas otentik yang dituliskan oleh penyair difabel.





