Metro Bandung

85 Peta Tematik One Map Belum Bisa Dirasakan Warga Difabel, Termasuk Peta Bencana

85 Peta Tematik One Map Belum Bisa Dirasakan Warga Difabel, Termasuk Peta Bencana

186views

KOTA BANDUNG, Bandungpos.id–Relawan DILANS Indonesia di Bandung Raya sudah 500an orang, sejak didirikan dua tahun lalu. Suatu jumlah yang signifikan untuk membangun kultur inklusif yang dipraktekkan secara sosial dalam keseharian.

Kultur inklusif bukan sekedar jargon, dan bukan juga sekedar “gimmick” dari masyarakat yang sebenarnya berperilaku sebaliknya.

Di DILANS Indonesia, saya tidak pernah bosan mengingatkan soal budaya memberi dan empati kepada seluruh aktivis dan relawannya. Partisipasi dan literasi harus diperluas, bukan hanya dengan sesama warga difabel tetapi dengan semua warga yang lebih luas walaupun berlatar belakang beragam: suku, agama/keyakinan, profesi atau konstruksi sosial lainnya yang seringkali mendiskriminasi.

Berbagai soal ini bermuara pada berbagai gagasan progresif, diantaranya tentang sarana dan prasarana inklusif perkotaan yang dinikmati oleh semua. Banyak mahasiswa dan peneliti yang saya layani untuk berdialog dengan berbagai alasan: magang, tugas, skripsi atau sekedar untuk kegiatan mahasiswa dan komunitasnya. Kepada semuanya saya sampaikan filsafat dari “No One Left Behind” dan “Nothing About Us Without Us”.

Tetapi tidak hanya itu. Interaksi itu harus berlangsung dengan kedua belah pihak, berkomunikasi diantaranya. Tidak selalu dalam ruang-ruang tertutup, dalam suasana akademik, tetapi interaksipun dapat dibangun lewat berbagai aktivitas seperti diantaranya lewat karoke.

Insha Allah, hal-hal begini sudah jadi bagian dari keseharian. Harus dilatih dan dipraktekkan!

Kepada semua kawan difabel, saya juga selalu mengingatkan jangan menampilkan diri  sebagai pribadi yang dikasihani.  Justru sebaliknya menunjukkan bahwa difabel itu punya perilaku yang keren, penuh semangat, produktif, bahagia, dan mempraktekan perilaku yang bisa menjadi contoh bagi diri, kerabat disekelilingnya, dan warga yang lebih luas lagi.

“Saya dan teman-teman DILANS dibantu oleh para relawan mahasiswa Geodesi dan Geomatika ITB membuat mock up peta Sumur Bandung dengan 3D printing untuk difabel dengan berbagai ukuran baik sebagai alat peraga ataupun ukuran saku yang mereka bisa rasakan secara otentik. Bagi difabel mungkin dimanapun berada sama saja, tapi dengan peta ini mereka akan merasakan sensasi lain karena adanya orientasi lokasi yang berbeda, ” katanya.**(Rm/BNN) 

Leave a Response