
Oleh Kin Sanubary
Giwangkara “Sunda Post” Edisi 8 Juni 1996. Giwangkara merupakan salah satu surat kabar berbahasa Sunda terbitan Bandung. Giwangkara terbit dan beredar satu minggu dua kali yaitu hari Rabu dan Sabtu. Koran ini pernah menjadi bacaan pilihan pembaca era tahun 1970-an hingga tahun 1990-an. Giwangkara hadir bersama dengan beberapa penerbitan berbahasa Sunda lainnya seperti Sipatahunan, Kudjang, Galura dan Majalah Mangle.
Surat kabar Giwangkara dirintis oleh Mh Romli, salah seorang jurnalis senior dan tokoh pers Jawa Barat. Giwangkara era tahun 90-an dipimpin oleh U. Abdul Kudus Munawar sebagai Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan Penanggungjawab. Redaktur Pelaksana yaitu Eko Komaruddin dan Dewan Redaksi yaitu U Abdul Kudus Munawar, Mh Romli, Eko Komaruddin dan Iskandar. Para Redaktur terdiri atas Rukmana Hs, Bully Tarongkeng, Yuldan B Yasin, Ukin Basuni, Yos Rosadi, Yusup Supardi, Benny Royat dan Denny Kurniadi. Giwangkara diterbitkan oleh PT Karya Rosda Bandung mempunyai slogan “Ngahontal Karaharjaan Masarakat. Harga ecerannya yaitu Rp 700 per eksemplar dan untuk langganan perbulan sebesar Rp 5.400.
Giwangkara edisi 8 Juni 1996, 27 tahun silam memuat berita utama Meninggalnya Bp Letjen (Purnawarman) HR Dharsono salah seorang tokoh Jawa Barat. Hartono Rekso Dharsono merupakan mantan Pangdam Siliwangi meninggal pada usia 71 tahun. HR Dharsono meninggal dunia pada tinggal 5 Juni 1996 di Rumsh Sakit Advent Bandung setelah menderita cukup lama. Almarhum dimakamkan di TPU Sirnaraga Bandung dalam upacara militer dan yang menjadi inspektur upacara yaitu Letjen (Purnawirawan) H. Mashudi mantan Pangdam Siliwangi yang juga mantan Gubernur Jawa Barat.
Kirab Piala Thomas & Piala Uber di Bandung. Lambang kebesaran dan kebanggaan dunia bulutangkis yaitu Piala Thomas dan Piala Uber kembali diboyong ke tanah air dari Hongkong. Piala Thomas dan Piala Uber dapat digondol oleh atlet bulutangkis Indonesia, ketika kejuaraan bergengsi bulutangkis tingkat dunia itu berlangsung di Hongkong awal bulan Juni 1996. Kedua piala kebanggaan seluruh masyarakat Indonesia diarak keliling Kota Bandung. Rute kirab akan melewati jalan-jalan utama Kota Bandung yaitu dimulai dari kaluar Pintu Tol Pasteur- Pasirkaliki-Pajajaran-Abdurachman Saleh-Garuda-Sudirman-Jamika-Lingkar Selatan-Ahmad Yani-Asia Afrika-ABC-Braga-Wastukencana dan berakhir di Kantor Balaikota Bandung.
Catatan Sejarah Jalan Daendels oleh H Rukmana Hs, Redaktur Giwangkara Pembangunan dan pengerjaan proyek “Jalan Post” yang dipimpin oleh Daendels menelan banyak korban jiwa, ada sekitar 30.000 jiwa para pekerja rodi bangsa Indonesia yang tewas disiksa dan meninggal di tiang gantungan. Secara umum rakyat Indonesia tidak mengetahui jumlah korban tewas dalam pembuatan Jalan Daendels yaitu sebanyak 30.000 jiwa Pekerja Rodi. Rodi yaitu para pekerja paksa rakyat Indonesia yang turut serta membuat jalan raya dari Anyer hingga Panarukan yang panjangnya 1.040 km.
Di Bandung yang menjadi pekerja rodi yaitu wargi Gegerkalong Girang, Gadog, Balubur dan lain sebagainya. Sepanjang jalan Cadas Pangeran dikerjakan oleh Pekerja Rodi yang berasal dari Tasikmalaya, Ciamis dan Parakan Muncang. Di tepi jalan banyak dibangun saung dan tenda darurat untuk para pekerja rodi. Mereka bermalam, tidur, merebus air, ngaliwet, me rebus ubi di sana. Bila sumber dan bahan makanan habis mereka masuk ke hutan-hutan untuk mencari sumber makanan seperti umbi-umbian, ketela pohon, takas dan singkong. Bila terlambat kerja dan hasil pekerjaan kurang bagus disiksa dan bila melawan di gantung. ~ Giwangkara juga menampilkan rubrik-rubrik menarik lainnya seperti “Openan” yaitu semacam pojok redaksi yang mengomentari dan mengkritisi secara singkat kebijakan pemerintah yang tak sejalan dengan aspirasi masyarakat. Kolom “Mang Ara” yaitu ikon Giwangkara (seperti Mang Ohle di Pikiran Rakyat).
Selain itu ada kolom : Kokolot Begog~Surat Nembrak~Lapor Pak~Warta Saliwat~Pangalaman Kuring dan Carnyam (Carita Nyambung) yaitu Cerita Pendek dalam Bahasa Sunda. Adapun Carnyam yang disajikan Giwangkara yaitu : Cerita Bersambung Misteri “Titipan Siluman” karya Ki Bully Tarongkeng yang cukup digemari pembaca. Selain itu ada Carnyam Roman “Campaka Ligar di Reuma” karya Eutik Surtiah dan komik silat bersambung “Anjing Kajajaden” karya Yulius. Giwangkara secara rutin juga menyajikan Lembaran Khusus Pendidikan “Gentra Winaya” dan sisipan Lembaran Khusus Koran Masuk Desa (KMD) yang bernama “Cahara Desa” dikhususkan untuk pembacanya yang tinggal di perdesaan. *
- Kin Sanubary, kolektor, pendiri dan pengelola Rumah Media Lawas, penerima penghargaan PWI Jawa Barat 2023 dalam bidang pelestarian media pers nasional, bermukim di Tanjungwangi, Kabupaten Subang, Jawa Barat.





