Nasional

Perusahaan Cina Mendominasi KCJB Mirisnya KAI Suntik Mati KA Parahyangan

Perusahaan Cina Mendominasi KCJB Mirisnya KAI Disuntik Mati Parahyangan

405views

Jakarta, BANDUNGPOS.ID:  Perusahaan Cina mendominasi KCJB (kereta api cepat Jakarta Bandung), sementara BUMN PT KAI harus rela menyutik mati saudaranya, yakni KA Parahyangan Bandung- Jakart PP demi suksesnya KCJB. Sedang ambisi negara, Juni 2023 KCJB harus beroperasi penuh melayani penumpang.

Sesungguhnya persaingan KCJB bukann hanya KAI (KA Parahiyangan), tetapi  sebenarnya masih ada moda udara (Bandara Soeta- Husen Sastranegara), moda kapal terbang ini juga singkat menuju jantung kota. Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) terus menuai panen kritik. Biaya investasi proyek kerja sama Indonesia-China ini membengkak sangat besar (cost overrun). Ketimbang jadi besi tua yang mangkrak, pemerintah terpaksa harus menambal cost overrun dengan APBN, meski hal itu sejatinya mengingkari janji awal pemerintah.

Sekadar informasi, mega proyek tersebut diperkirakan memakan biaya investasi hingga Rp 113,9 triliun sampai Rp 118 triliun. Jumlah tersebut meleset dari perhitungan awal sebesar Rp 84,3 triliun. Investasi ini juga melampaui perkiraan investasi yang ditawarkan Jepang sebelumnya.

Selain itu, dengan harga tiket di kisaran Rp 300.000, balik modal diperkirakan mencapai 40 tahun. Itu pun dengan asumsi keterisian jumlah penumpang terpenuhi. Dengan kata lain, perkiraan balik modal bisa lebih panjang apabila KCJB sepi penumpang. Penumpang Kereta Cepat Tujuan Bandung Dioper di Padalarang.

Dominasi China di Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung sangat terasa di hampir semua aspek. Dari mulai tenaga kerja asing, pembiayaan, hingga perusahaan kontraktor yang menggarap proyek ini. Sebesar 75 persen proyek ini didanai dari utang dari China dengan bunga 2 (dua) persen dan tenor 40 tahun. Jauh lebih tinggi dibandingkan bunga yang ditawarkan Jepang melalui JICA yakni hanya 0,1 persen per tahun. Sementara sisanya, sebesar 25 persen investasi merupakan modal dari konsorsium PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) yang terdiri dari 5 perusahaan China dan 4 perusahaan BUMN Indonesia, termasuk di dalamnya suntikan APBN melalui PMN PT KAI.

Dikutip dari laporan yang disampaikan PT KCIC dan KAI dalam rapat dengan Komisi VI DPR RI, aroma dominasi China juga sangat tampak dari perusahaan kontraktor penggarap engineering procurement construction (EPC) proyek ini. Biaya Kereta Cepat Bengkak Gara-gara China Salah Hitung di Proposal Di mana perusahaan BUMN China mendominasi sebesar 70 persen dari total EPC di proyek pembangunan KCJB. Pihak Indonesia kebagian sebesar 30 persen EPC yang digarap PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau Wika.  Total ada 6 perusahaan China yang menjadi kontraktor utama antara lain Sinohydro, China Railway International (CRIC), dan China Railway Engineering Corporation (CREC).

Berikutnya CRRC Corporation Limited, China Railway Signal and Communication (CRCR), dan China Railway Design Corporation (CRDC). Sementara dalam komposisi pemegang saham, 5 BUMN China yakni CRIC, CREC, Sinohydro, CRRC, dan CRSC kemudian membentuk usaha patungan bernama Beijing Yawan yang menggenggam saham KCIC sebesar 40 persen. Berikutnya pemegang saham Indonesia di KCIC sebesar 60 persen diwakili oleh konsorsium PT Pilar Sinergi Bersama Indonesia (PSBI) yang terdiri dari PT KAI, Wijaya Karya, Jasa Marga, dan PTPN 8.

Proyek besar Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) ditargetkan beroperasi Juni 2023. Dalam waktu yang relatif sebentar lagi, waktu tempuh dari Jakarta ke Bandung diklaim bisa sekitar 30-45 menit. Waktu tempuh dari Jakarta ke Bandung menggunakan kereta cepat jauh lebih sat set dibandingkan menumpangi KA Argo Parahyangan yang dibayangi isu setop operasi seiring beroperasinya sepur cepat tersebut. Jika menggunakan KA Argo Parahyangan, waktu tempuh Jakarta-Bandung sekitar 2,5 jam. Artinya, kehadiran kereta cepat bisa memangkas waktu 2 jam.

“KCJB hadir dengan menawarkan keunggulan yang salah satunya waktu tempuh singkat di mana penumpang hanya butuh 36 sampai 45 menit yang sebelumnya kurang lebih 2,5 jam untuk sampai ke tujuan yang dituju,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam seremoni Penyelesaian Manufaktur & Pengiriman Perdana EMU Proyek Kereta Api Cepat Jakarta Bandung, beberapa waktu lalu.

Soal ‘Suntik Mati’ KA Parahyangan, Erick Sarankan Jadi Kereta Barang. Namun, kecepatan waktu tempuh menggunakan Kereta Cepat Jakarta-Bandung tidak mengantarkan penumpang sampai di Kota Bandung, melainkan di Tegalluar, Kabupaten Bandung. Untuk menuju Kota Bandung, penumpang kereta cepat harus turun di Stasiun Padalarang dan menyambung KA Feeder. Jika ditarik dari pusat kota Jakarta, menuju Stasiun KCJB di Halim, Jakarta Timur bisa menumpangi LRT Jabodebek yang juga ditargetkan dalam waktu yang hampir bersamaan. Masyarakat bisa naik LRT Jabodebek dari Stasiun Dukuh Atas ke Halim dengan perjalanan 20 menit dengan headway 8 menit di jam sibuk. **(r mur/bp)

Leave a Response