Olahraga

Kolom Piala Dunia Qatar 2022

890views

SANG BINTANG

Oleh AS Haris Sumadiria

DALAM setiap perhelatan akbar, seperti juga Piala Dunia Qatar 2022 sekarang ini, selalu saja muncul sejumlah sosok figur bintang yang menjadi idola publik dunia. Tentu buka karena atas rekayasa klub atau bahkan media, melainkan karena kerja keras, kecerdasan, dan prestasi yang diukirnya sendiri.

Siapa yang tak kenal Lionil Messi dari Argentina, Cristian Ribaldo dari Portugal, atau Kylian Mbape dari Perancis? Begitu juga dengan Neymar dari Brazil, Kevin De Bruyne dari Belgia, Rivert Lewandowski dari Polandia, Luka Modric dari Kroasia, Harry Kane dari Inggris, Aymeric Laporte dari Spanyol, Marten de Roon dari Belanda, Ritsu Doan dari Jepang, atau Son Heung Min pemain bintang yang sekaligus menjadi tumpuan Korea Selatan dalam Piala Dunia Qatar 2022.

Bagi tim kesebelasan masing-masing, kehadiran mereka tidak sekadar menjadi pemain yang mengandalkan kekuatan fisik saat berlaga. Mereka sekaligus menjadi kreator, generator, motivator, sekaligus inspirator bagi sepuluh pemain lainnya dalam tim. Karena merekalah, tim terbangun menjadi solid, kokoh, kuat, dan tentu saja selalu haus prestasi. Tim kemudian menjadi sumber kebanggan negara masing-masing.

Mereka memiliki talenta dan kecerdasan individual. Tetapi mereka sekaligus memiliki daya rekat tim yang sangat memesona dan memanggakan. Terbukti kehadiran mereka dalam tim sendiri selalu dinanti dan dirindukan. Mereka, para pemain bintang itu, selalu menjadi magnet tim, magnet klub, dan magnet sepak bola di mana pun mereka berada. Mereka pun selalu viral. Selalu menjadi buah bibir. Apa pun yang mereka katakan dan lakukan, dunia mendengarkan dan mengikutinya.

Sebagai sang bintang, mereka mendapatkan segalanya: prestasi, nama besar, popularitas, kekayaan, dan bahkan sanjungan tanpa batas dari publik. Tapi tunggu dulu. Mungkinkah semua itu dapat diraih tanpa kerja keras, tanpa keringat bercucuran, tanpa menguras isi pikiran, tanpa kedewasaan bersikap dan berperilaku, dan tanpa kejernihan hati? Juga tanpa moralitas serta kepribadian yang baik?

Sejujurnya, itulah yang sering kita lupakan , atau bahkan sering kita kesampingkan dewasa ini. Akibatnya kita terlalu lama hanya berjalan di tempat. Kita entah kapan bisa mengikuti jejak dan ethos Arab Saudi, Korea Selatan , Jepang, atau bahkan Maroko dalam panggung Piala Dunia. Dalam kehidupan keseharian pun, sebagian dari kita kadang terlalu bermanja-manja. Karier dan prestasi individu masing-masing akhirnya tak juga bisa diraih. Apalagi sampai bersinar. *

*AS Haris Sumadiria, doktor kajian media dan agama, dosen komunikasi dan jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati, dan beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta di Bandung, penggemar sepak bola.

Leave a Response