Bandung, BANDUNGPOS.ID: Kabar film dokumenter tentang keseharian penyandang disabilitas, suara istimewa: Tentang Suara yang Belum Terdengar” sudah selesai dan mendapatkan apresiasi sebagai film yang layak untuk masuk dalam suatu festival. Mudah-mudahan dalam waktu tak terlampau lama bisa dinikmati oleh publik secara luas.
Film dokumenter selama 30 menit ini menggambarkan realitas otentik kehidupan penyandang disabilitas, keluarga, dan lingkungan. Mungkin label “suara yang belum terdengar” yang ditempelkan pada judul film ini merupakan perenungan yang dalam dari kawan-kawan mahasiswa ini setelah melihat langsung apa yang terlihat di lapangan.
Hampir tiga bulan sejak serombongan anak muda dari Jurusan Film dan Televisi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) secara intens mengikuti banyak kegiatan yang saya lakukan dalam keseharian dan juga kegiatan yang dilakukan oleh Pergerakan DILANS-Indonesia. Layaknya sebuah produser film profesional, sedari awal sudah membentuk suatu tim yang solid. Ada produser, sutradara, script writer, camera person, soundman, editor, etc. Perjalanan para mahasiswa ini pernah ditulis di laman FB Farhan Helmi Oktober 2022 lalu.
“Tentunya saya berharap karya film dokumenter seperti ini bisa terus bertumbuh. Kesadaran kolektif dan literasi warga tentang ruang publik dan kehidupan inklusif harus terus disebarluaskan dan didialogkan secara masif. Publik perlu medium otentik untuk berkomunikasi dengan para penentu kebijakan dan sesama warga,” katanya.
Apresiasi kepada Kang Hery Udo dan kawan-kawan di Jurusan Film dan Televisi UPI, yang telah memberikan kesempatan para mahasiswanya untuk mendapatkan bimbingan dari lapangan.**(rm/bp)





