Kolom mahasiswa
Oleh Rahma Dini Amalia
BULAN lalu saya melihat berita mengenai banyaknya kasus bunuh diri yang pelakunya adalah remaja yang masih bersekolah dan mahasiswa semester akhir yang sedang menyusun skripsi.
Dilansir dari Kumparan.com yang mengutip data dari WHO (World Health Organization), bunuh diri menjadi penyebab kematian nomor dua terbesar setelah kecelakaan di kalangan remaja berusia 15-29 tahun, dan mengakibatkan sekitar 4.600 jiwa di dunia meninggal setiap tahunnya.
Menurut dr. Yunias Setiawati, spesialis kejiwaan, kasus bunuh diri ini kerap dialami para remaja yang depresi. Depresi ini dapat ditandai dengan perasaan sedih, hilang minat, prestasi menurun, hingga sosialisasi terganggu.
“Karena fase remaja ini adalah fase mencari jati diri. Nah, kalau orang tua atau orang terdekatnya tidak bisa memahami, mereka (remaja) akan merasa tidak ada yang peduli, sehingga mereka akan menarik diri dan bisa saja depresi itu muncul,” ucap Kepala Unit Rawat Jalan Psikiatri di RSUD Dr Soetomo Surabaya ketika ditemui Basra pada Selasa (14/12/2022)
Apa hal yang menyebabkan mereka melakukan hal itu, apakah dikarenakan kurang iman? Kurang religius? Kurang beribadah? Atau kurangnya hal-hal agamis lainnya? Tidak. Itu karena mental mereka yang tidak kuat menahan semua beban yang ditujukan kepada mereka. Hiruk pikuk yang sedang terjadi didunia saat ini, perputaran globalisasi yang kian cepat membuat otak mereka kaget, selain harus memikirkan diri sendiri mereka pun harus memikirkan bagaimana caranya membahagaikan orang-orang yang mereka sayang. Namun, tidak seperti jaman dahulu, kini dunia sudah serba canggih, peralatan seperti smartphone, internet dan teknologi mutakhir lainnya haruslah dipelajari secepat yang mereka bisa, jika tidak mereka akan tertinggal.
Lain karena tekanan teknologi itu sendiri, tekanan dari sosial saat ini pun ternyata telah ada dua, yaitu tekanan sosial dan media sosial. Segalanya saat ini telah berada di sebuah vitur yang bernama media sosial atau social media, dimulai dari berjualan, ajar-mengajar, berdiskusi hingga membuat sebuah rapat besar pun saat ini bisa dilakukan dimana pun dan tidak harus bertatap muka secara langsung. Tetapi, layaknya dunia yang selalu punya sisi buruk, media sosial dan teknologi lainnya pun begitu.
Jika kita berbicara dengan orang secara langsung dan kita mengatakan hal buruk mungkin masih bisa dilupakan oleh orang tersebut tapi sama sekali tidak jika di media sosial. Sekali kita berkata buruk hal itu akan terekam secara otomatis didalam media sosial, sulit di hapus bahkan tidak bisa di hapus.
Hal-hal semacam itulah yang menjadi makanan sehari-hari remaja saat ini. Sangat melatih mental bukan?
Sisi positifnya, remaja dan dunia sudah mulai meng-upgrade diri mereka juga. Mereka menjadi lebih peka terhadap diri mereka sendiri dan akan segera melakukan tindakan lebih lanjut jika mereka merasa diri mereka ada yang salah. Beruntungnya bukan hanya kalangan muda saja yang upgrade, namun ternyata sudah ada beberapa kalangan usia lanjut yang telah sadar akan hal ini dan membangun sebuah ‘pos penyelamat’ bagi remaja remaja yang sedang berjuang untuk survive ini. Namanya adalah Posyandu Remaja. Ya, dari namanya saja sudah bisa kita ketahui untuk siapa lembaga ini dibuat dan untuk apa.
Posyandu remaja menurut Sehat.com merupakan salah satu kegiatan berbasis kesehatan masyarakat khusus remaja, untuk memantau dan melibatkan mereka demi peningkatan kesehatan dan keterampilan hidup sehat secara berkesinambungan. Setiap dusun atau RW biasanya mengadakan posyandu remaja dengan beranggotakan maksimal 50 orang.
Kriteria kader posyandu remaja, yaitu berusia antara 10-18 tahun, mau secara sukarela menjadi kader, dan berdomisili di wilayah posyandu remaja tersebut berada.
Kehadiran Posyandu Remaja ini, menurut saya akan menajdi sebuah jalan terang atas masalah yang dialami oleh remaja-remaja di Indonesia. Mereka menjadi lebih percaya dan semangat menjalani hidup karena saat mereka sudah lelah atau bahkan ingin menyerah, kini mereka sudah tahu harus ke mana dan berbuat apa.
Kita harus tetap menjaga iman dan kedekatan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena jiak bukan karena-Nya mungkin tidak akan terbuka pikiran generasi tua untuk membuat ‘pos penyelamat’ ini.
Teman-teman seperjuangan, saya tahu dan sangat mengerti bagaimana sulitnya menjadi remaja d saat seperti ini, saat ketika semua berada di atas bayangan yang bisa hancur seketika itu juga, dan saat ketika kita bahkan hampir tidak mengenali siapa diri kita sebenarnya dan untuk apa kita ada didunia ini.
Namun, di balik itu semua saya ingin kawan-kawan ku tetap konsisten dalam menjalankan ibadah dan cobalah membuat hubungan yang sehat dan baik dengan orang-orang terdekat, entah siapabpun itu orangnya. Karena kita harus sadar kawan-kawan, kita adalah manusia yang rapuh dan selalu membutuhkan bantuan satu sama lain. Take careof your mental health my friend.*
Rahma Dini Amalia, mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Pasundan Bandung, tinggal di Bandung.





