Keluarga

Benarkah Anak Broken Home Lebih Berpotensi Terkena BPD?

286views

MENURUT data kesehatan yang dipublikasikan oleh Harvard Medical School Affiliate, anak dengan kondisi Borderline Personality Disorder (BPD) tidak selalu dipicu oleh masalah keluarga salah satunya broken home. Banyak juga anak dengan BPD memiliki keluarga yang harmonis dan orangtua yang perhatian. Seperti dilansir dari The Conversation, disebutkan kalau 80 persen orang dengan gangguan kepribadian ambang memiliki riwayat trauma. Bisa karena dampak dari pelecehan emosional, fisik, atau seksual. Penjelasan selengkapnya baca di bawah ini!

Mengenal BPD dan Risikonya

BPD adalah gangguan kesehatan mental yang berdampak pada cara berpikir dan merasakan tentang diri sendiri dan orang lain. Ini bisa menyebabkan masalah pada kehidupan sehari-hari. Termasuk masalah citra diri, kesulitan mengelola emosi dan perilaku, serta pola hubungan yang tidak stabil. Orang dengan BPD memiliki ketakutan yang kuat akan pengabaian atau ketidakstabilan, dan mungkin mengalami kesulitan mentolerir sendirian. Kemarahan yang tiba-tiba, impulsif, dan perubahan suasana hati seringnya dapat membuat orang sekitar menjauh.

Biasanya gejala gangguan kepribadian ini lebih parah ketika pengidapnya menginjak usia muda, tetapi secara bertahap akan membaik seiring dengan pertambahan usia. Tanda dan gejala BPD adalah:

  1. Ketakutan yang kuat akan pengabaian, bahkan melakukan tindakan ekstrem untuk menghindari perpisahan atau penolakan nyata atau yang dibayangkan.
  2. Memiliki pola hubungan yang tidak stabil.
  3. Perubahan cepat dalam identitas diri dan citra diri yang mencakup pergeseran tujuan dan nilai, dan melihat diri sendiri buruk.
  4. Periode paranoia yang berhubungan dengan stres dan hilangnya kontak dengan kenyataan. Bisa berlangsung dari beberapa menit hingga beberapa jam.
  5. Pola perilaku impulsif dan berisiko.
  6. Melakukan ancaman atau perilaku melukai diri, seringkali sebagai respons terhadap rasa takut akan perpisahan atau penolakan.
  7. Perubahan suasana hati yang cepat; bahagia, lekas marah, malu, kemudian cemas.
  8. Perasaan kosong yang berkelanjutan.

Penanganan Gangguan BPD

Perawatan untuk gangguan BPD dilakukan untuk mengelola dan mengatasi kondisi. Mulai dari psikoterapi atau terapi bicara. Tujuan psikoterapi adalah untuk membantu:

  1. Fokus pada kemampuan saat ini sehingga tetap beraktivitas seperti biasa.
  2. Belajarlah mengelola emosi yang terasa tidak nyaman.
  3. Kurangi dorongan impulsif dengan mengamati perasaan ketimbang melakukan tindakan.

Selain mendapatkan bantuan profesional, penting juga menggali informasi mengenai BPD sehingga Anda bisa mengelolanya dengan baik. Pelajari tentang gangguan ini sehingga Anda dapat memahami penyebab dan perawatannya. Belajarlah untuk mengenali apa yang dapat memicu ledakan kemarahan atau perilaku impulsive. Cari bantuan profesional dan patuhi rencana perawatan hadiri semua sesi terapi dan minum obat sesuai petunjuk.

Bekerja sama dengan penyedia kesehatan mental untuk mengembangkan rencana untuk apa yang harus dilakukan pada saat terjadi krisis berikutnya. Pertimbangkan untuk melibatkan orang-orang terdekat dalam perawatan yang membantu mereka memahami dan memberikan dukungan. Kelola emosi dengan mempraktikkan keterampilan koping, seperti penggunaan teknik pernapasan dan meditasi mindfulness. Tetapkan untuk diri sendiri dan orang lain dengan mempelajari cara mengekspresikan emosi secara tepat dan tidak mendorong orang lain sehingga memicu pengabaian atau ketidakstabilan.

Jangan membuat asumsi tentang apa yang orang rasakan atau pikirkan tentang diri Anda. Pertahankan gaya hidup sehat, seperti makan makanan sehat, aktif secara fisik, dan terlibat dalam kegiatan sosial. Jangan salahkan diri sendiri atas gangguan ini, tetapi kenali dan bertanggung jawablah untuk menanganinya.**(Tulisan di atas sudah ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli/Sumber: Halodoc)

 

 

Leave a Response