DISFUNGSI ereksi membuat pria tidak mampu mencapai atau mempertahankan ereksi dengan baik, termasuk ketika berhubungan intim. Karena sering dianggap memalukan, banyak pria yang enggan melakukan pemeriksaan ke dokter, sehingga kondisi ini sering tidak ditangani dengan baik. Padahal, disfungsi ereksi merupakan penyakit yang bisa diatasi jika ditelusuri penyebabnya, lho.
Secara umum, ada beberapa kondisi yang bisa menyebabkan seorang pria mengalami disfungsi ereksi. Kondisi tersebut dibagi menjadi tiga jenis, yaitu ereksi yang kurang kokoh sehingga tidak mampu melakukan hubungan intim, ereksi yang kurang lama, dan ereksi yang terjadi dalam waktu yang sering. Lantas, bagaimana cara menyembuhkan disfungsi ereksi?
Menyembuhkan Disfungsi Ereksi Berdasarkan Penyebabnya
Sebelumnya, perlu diketahui bahwa ada beberapa kondisi yang bisa menjadi penyebab pria mengalami disfungsi ereksi. Oleh sebab itu, menyembuhkan kondisi ini dapat dilakukan dengan mengatasi penyebabnya terlebih dahulu. Ereksi pada pria melibatkan otak, saraf, otot, pembuluh darah, emosi, dan hormon. Nah, disfungsi ereksi bisa terjadi saat ada gangguan atau masalah pada salah satu bagian tersebut atau kombinasi dari beberapa kondisi.
Artinya, disfungsi ereksi bisa disebabkan oleh kondisi medis tertentu, ketidakseimbangan hormon, usia, masalah psikologis, efek samping obat-obatan tertentu, cedera, hingga efek samping dari tindakan operasi. Dengan mengetahui penyebab dari disfungsi ereksi, kondisi ini bisa diatasi dengan cepat. Hingga saat ini, ada beberapa cara pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi disfungsi ereksi, yaitu:
- Obat-obatan
Salah satu cara mengatasi disfungsi ereksi adalah dengan mengonsumsi obat khusus, yang diresepkan dokter. Biasanya, dokter akan meresepkan jenis obat yang paling sesuai dengan kondisi tubuh serta riwayat kesehatan sang pengidap disfungsi ereksi. Oleh karena itu, penting untuk memberi tahu dokter jika Anda memiliki riwayat penyakit tertentu dan obat apa yang tengah dikonsumsi.
Jika merasa malu kalau konsultasi langsung, Anda bisa download aplikasi Halodoc untuk berbincang dengan dokter lewat chat. Kalau dokter merekomendasikan pemeriksaan lebih lanjut, Anda bisa buat janji dengan dokter di rumah sakit terdekat di kota Anda lewat aplikasi Halodoc juga, agar lebih cepat dan tidak lama mengantri lagi.
- Terapi Testosteron
Pada beberapa kasus, disfungsi ereksi juga disertai dengan rendahnya kadar hormon testosteron. Oleh karena itu, mengatasi disfungsi ereksi bisa juga dilakukan dengan tindakan terapi penambahan hormon ini. Biasanya, terapi testosteron dilakukan sebagai langkah pertama dalam mengobati disfungsi ereksi.
- Perangkat Vakum
Mengobati disfungsi ereksi juga bisa dilakukan dengan menggunakan alat bantu, yaitu tabung vakum yang telah dirancang khusus. Dalam terapinya, Anda akan diminta untuk menempatkan penis ke dalam tabung yang terhubung dengan pompa. Lalu, Anda akan diminta untuk memindahkan cincin elastis khusus dari ujung tabung ke dasar penis. Tujuannya adalah untuk menjaga darah mengalir kembali ke dalam tubuh. Namun, dibutuhkan beberapa kali latihan untuk dapat menggunakan alat vakum ini.
- Implan
Implan penis merupakan pilihan untuk mengatasi disfungsi ereksi yang parah. Prosedur ini melibatkan operasi penempatan perangkat pada dua sisi penis. Implan yang digunakan terdiri dari batang karet yang menggembung atau kaku. Kemudian, perangkat yang menggembung akan dipasangkan untuk membantu mengontrol kapan saja dan berapa lama ereksi harus terjadi. Sementara itu, batang kaku akan menjaga penis tetap kencang, tetapi bisa ditekuk.
- Konsultasi Psikologi
Pada beberapa kasus juga, disfungsi ereksi terjadi karena ada masalah psikologis. Kalau itu penyebabnya, dokter akan menyarankan pengidap disfungsi ereksi untuk melakukan konsultasi psikologi sebagai cara pengobatan.
Nah, itu dia 5 pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi disfungsi ereksi. Perlu diingat lagi, bahwa kondisi ini sama saja seperti penyakit lainnya, yang bisa diobati dan disembuhkan, selama Anda segera membicarakannya pada dokter dan mengikuti semua prosedur medis yang disarankan. Jangan lupa juga untuk selalu menerapkan gaya hidup sehat dan kurangi stres.**(Tulisan sudah ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani/Sumber: Halodoc)





