Keluarga

Dampak Anak Melihat Orangtua Berhubungan Seks dan Cara Meresponsnya

324views

Penulis: Aditya Prasanda

BANYAK hal tidak terduga yang dapat terjadi selama mengasuh anak. Salah satunya adalah ketika anak melihat orangtua berhubungan intim secara tak sengaja. Tentu tak ada orangtua yang menginginkan hal tersebut terjadi. Namun, tanpa disengaja, anak bisa saja melihat Mama dan Papa berhubungan seks. Lalu, apa dampaknya pada anak dan bagaimana cara menanggapinya?

Dampak Anak Melihat Orangtua Berhubungan Seks

Perlu diketahui, respons setiap anak mungkin akan berbeda-beda setelah melihat orangtuanya berhubungan seks. Respons tersebut bergantung pada usia dan tingkat pemahaman anak. Anak yang masih bayi mungkin belum mengerti. Sementara anak usia 2-3 tahun, mungkin bisa berpikir bahwa ayahnya sedang “menyakiti” ibunya. Adapun anak berusia lebih besar sekitar usia lima tahun bisa saja merasa penasaran. Mereka kemudian akan berusaha mencari tahu apa yang sedang terjadi. Bagi anak usia sekolah, seperti delapan tahun ke atas, mungkin akan berpikir orangtuanya melakukan hal yang aneh. Pada anak usia praremaja, mereka mungkin menganggap hal tersebut menjijikan.

Terlepas dari respons tersebut, hingga sejauh ini, belum ada penelitian yang mengkaji mengenai dampak psikologis ketika anak melihat orangtuanya berhubungan seksual. Namun, bukan berarti tidak ada sesuatu yang dapat dilakukan saat hal tersebut terjadi.

Lakukan Ini Jika Terlihat Berhubungan di Depan Anak

Lalu, bagaimana jika anak melihat orangtua sedang berhubungan intim? Bila anak memergoki Mama dan Papa berhubungan seksual, lakukan beberapa hal berikut:

  1. Tetap Tenang

Kepergok berhubungan seks di depan anak, tentu bisa menimbulkan rasa panik. Ini adalah hal yang wajar. Meski begitu, menurut Ikhsan Bella Persada, M. Psi., Psikolog, Mama dan Papa harus tetap tenang. Hindari memarahi anak, ya.

  1. Awali dengan Minta Maaf

Saat Mama-Papa menenangkan diri dan situasi sudah kondusif, coba mulai percakapan dengan anak. Mama dan Papa dapat meminta maaf bila anak merasa terusik atau tidak nyaman. Kemudian, tanyakan pada anak mengenai perasaannya. Jika anak berusia lebih besar, Mama dan Papa bisa bertanya mengenai pengetahuan dia seputar hubungan seks. Cara ini bisa memancing percakapan antara orangtua dan anak.

  1. Jelaskan pada Anak

Ketika anak melihat orangtua sedang berhubungan intim, sedapat mungkin berikan penjelasan kepadanya. Jelaskan sesuai dengan usia dan tahapan perkembangan anak. Pada anak usia 1-3 tahun, jelaskan bahwa Mama-Papa sedang memiliki waktu pribadi dan bukan menyakiti satu sama lain. Setelah itu, diamkan saja, kecuali anak memiliki pertanyaan lebih lanjut.

“Jika anak sudah cukup besar misalnya, di atas usia 5 tahun, Mama-Papa bisa sampaikan mengenai bagaimana proses bayi dibuat. Dengan begitu, anak dapat memahami bahwa yang dilakukan orangtua bukanlah sesuatu yang salah. Sampaikan juga bahwa aktivitas tersebut dapat dilakukan jika sudah menikah,” papar Ikhsan.

Untuk anak usia sekolah dasar, biasanya dia sudah mengerti dan memiliki rasa ingin tahu mengenai seks. Ada juga anak yang tidak mau membahas topik mengenai seks. Karena itu, Mama-Papa perlu menjelaskan berdasarkan respons anak. Jika anak ingin tahu, maka Mama dan Papa boleh jelaskan. Namun, saat anak tidak mau membahasnya, jelaskan saja di lain waktu. Lalu, bagaimana jika anak yang melihat orangtua berhubungan seks sudah remaja? Mama dan Papa perlu memberikan pemahaman kepada anak, bahwa hubungan seks hanya boleh dilakukan oleh pasangan yang sudah resmi menikah. Hal ini dapat mencegah anak meniru dan mencoba melakukan hubungan seks.

  1. Berikan Edukasi Seks pada Anak

Tak bisa dimungkiri, edukasi seks pada anak sejak dini sangat penting, terutama ketika Mama dan Papa kepergok berhubungan seks. Edukasi seks juga perlu dilakukan agar anak memiliki sikap dan pandangan yang sehat terhadap seksualitas dan organ reproduksi.

Banyak sekali informasi keliru tentang seks yang beredar di sekitar anak. Bila tidak diwaspadai, informasi tersebut bisa merusak persepsi anak tentang seks. Jadi, penting sekali bagi Mama dan Papa untuk mengedukasi anak seputar seks sejak dini. Sebenarnya, tidak ada kata terlalu cepat untuk memulai edukasi seks pada anak, asalkan sesuai dengan umurnya.

Untuk usia bayi dan batita, Mama dan Papa bisa mulai mengenalkan nama organ reproduksi. Ajarkan perbedaan bagian genital laki-laki dan perempuan, yaitu penis dan vagina. Hindari penggunaan istilah lain dari organ intim pria dan wanita. Hal ini bisa membuat anak makin bingung.

Untuk anak balita hingga usia sekolah dasar, beri tahu bagian tubuh mana yang boleh disentuh orang lain dan mana yang tidak. Ingatkan bahwa bagian genital itu penting dan bersifat sangat pribadi sehingga tidak boleh disentuh orang lain. Ketika bagian tubuh yang pribadi disentuh atau diraba oleh orang lain, ajarkan anak untuk berani melaporkan kepada Mama-Papa atau guru di sekolah.

Cara Mencegah Anak Melihat Orangtua Berhubungan

Nah, agar anak tidak melihat aktivitas intim yang Mama-Papa lakukan, coba terapkan beberapa cara di bawah ini:

  1. Pilih Waktu yang Tepat

Psikolog Ikhsan menyebut pentingnya memilih waktu yang tepat untuk berhubungan intim. “Mama dan Papa perlu mengetahui waktu tidur anak biasanya. Jadi, hubungan intim bisa dilakukan setelah anak tidur,” jelas Ikhsan.

  1. Pilih Tempat yang Aman

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pilih tempat yang aman untuk berhubungan intim. Lakukan hubungan seks di kamar dalam kondisi pintu sudah terkunci. Mama dan Papa juga bisa memilih tempat lain yang tidak mudah dilihat oleh anak.

  1. Ajari Anak untuk Mengetuk Pintu Kamar

Psikolog Ikhsan menganjurkan agar Mama dan Papa membiasakan anak mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk kamar orangtuanya. “Misalnya, disepakati setelah jam 10 adalah jam istirahat. Jadi, perlu mengetuk dahulu, tidak boleh langsung masuk,” saran Psikolog Ikhsan.

Itulah beberapa hal yang dapat Mama dan Papa lakukan saat anak melihat orangtuanya berhubungan intim tanpa sengaja. Jangan panik dan takut, ya Ma, Pa. Tetaplah tenang, lalu berikan penjelasan yang sederhana dan tepat kepada anak.**(Artikel sudah ditinjau oleh: Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog/Sumber: KlikDokter)

 

 

Leave a Response