
Oleh Ajeng Nur Azizah
Anak muda merupakan salah satu kelompok umur yang rentan terpengaruh oleh tren masa kini. Salah satu masalah yang marak ditemui adalah remaja impulsif dalam berbelanja. Fenomena ini semakin memperparah dengan kemudahan akses internet dan pertumbuhan media sosial yang tak terelakkan. Impulsivitas adalah kemampuan individu untuk merespon dengan cepat tanpa pertimbangan yang matang. Dalam remaja, impulsivitas melibatkan tindakan dan keputusan yang segera tanpa mempertimbangkan konsekuensinya.
Kemunculan media sosial remaja sering kali terjebak dalam budaya konsumsi yang ditampilkan melalui media sosial. Mereka sering terpengaruh dan tergoda untuk memiliki barang-barang atau gaya hidup yang ditampilkan oleh selebriti atau pengguna media sosial lainnya. Iklan menjadi faktor penting lainnya yang mempengaruhi remaja impulsif dalam berbelanja. Iklan sering kali menggoda dan mengintensifkan keinginan mereka untuk membeli produk tertentu, terutama yang sedang tren.
Tuntutan sosial juga turut mempengaruhi remaja impulsif berbelanja. Mereka sering merasa harus memenuhi ekspektasi teman-teman mereka terkait penampilan, merek pakaian, atau barang-barang lainnya. Kemudahan akses ke toko online atau aplikasi belanja membuat remaja semakin mudah belanja tanpa pertimbangan yang matang. Hanya dengan beberapa klik, mereka bisa mendapatkan barang yang diinginkan, tanpa memikirkan akibat dan dampaknya secara finansial.
Banyak anak muda yang kurang memiliki pemahaman tentang pengelolaan keuangan. Hal ini membuat mereka impulsif dalam berbelanja tanpa memikirkan apakah mereka benar-benar membutuhkan barang tersebut atau tidak. anak muda cenderung memiliki lingkungan teman sebaya yang melakukan gaya hidup konsumtif. Hal ini membuat mereka merasa perlu untuk ikut serta dalam pola belanja dan gaya hidup yang sejalan dengan teman-teman mereka.
Anak muda yang tidak memiliki nilai-nilai yang benar saat berbelanja seringkali menjadi impulsif dan tidak bertanggung jawab. Mereka lebih cenderung mengambil keputusan pembelian hanya berdasarkan keinginan dan keinginan. Orang tua juga berperan penting dalam mengendalikan perilaku belanja impulsif pada remaja. Namun, mereka sering kali kurang memberikan perhatian terhadap pengelolaan keuangan atau memberikan pengawasan dan bimbingan yang tidak memadai
Anak muda yang terbiasa berbelanja impulsif menghadapi risiko besar dalam jangka panjang, seperti hutang atau kesulitan mengatur keuangan di masa depan. Selain itu, pola belanja impulsif dapat mengurangi kualitas hidup mereka dan menyebabkan tekanan emosional.
Jelas bahwa peningkatan belanja impulsif di kalangan remaja merupakan masalah yang memerlukan pertimbangan lebih lanjut oleh keluarga, pendidik, dan masyarakat.
Untuk mengendalikan tren tersebut diperlukan pendekatan yang tepat, seperti meningkatkan pemahaman remaja tentang pengelolaan keuangan, mendidik remaja tentang nilai-nilai yang benar dalam berbelanja, dan memperkuat peran orang tua dalam mengawasi dan membimbing remaja. *
* Ajeng Nur Azizah, peminat fashion, mahasiswa Jurisan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Pasundan (Unpas), bermukim di Kota Bandung, Jawa Barat”



