Keluarga dan Rumah Tangga

Ini Ciri Orangtua yang Permisif

105views

Oleh: dr. Dyah Novita Anggraini

SEBAGIAN orang yang berpikir untuk menjadi ayah atau ibu yang benar-benar terbuka dan memberikan kebebasan penuh kepada anaknya. Orangtua yang seperti itu disebut juga sebagai orang tua permisif. Perlu diketahui, bahwa pemilihan pola asuh sangat penting untuk perkembangan anak. Jika pola asuh yang diberikan tak cocok dengan karakter anak, dalam hal ini pola asuh permisif,  bisa jadi bumerang di kemudian hari.

Sebenarnya ada beberapa jenis pola asuh. Di tahun 1960-an, beberapa peneliti, seperti Diane Baumrind, Eleanor Maccoby, dan John Martin mulai mempelajari berbagai gaya pengasuhan. Mereka kemudian membaginya menjadi tiga tipe, yaitu:

  • Tipe orangtua otoriter, cirinya adalah memiliki kekuasaan dominan.
  • Tipe orangtua demokratis, kerja sama yang baik antara orangtua dan anak menjadi ciri khas pola asuh ini. Namun, tentu saja tetap ada bimbingan dan arahan dari orangtua.
  • Tipe orang permisif, cirinya adalah anak diberikan kebebasan penuh dari orangtua.

Ya, selain memberikan kebebasan penuh pada buah hati, karakteristik utama dari pola asuh permisif adalah Anda berperan sebagai orangtua yang hangat dan mengayomi. Sayangnya, orangtua permisif cenderung memanjakan anak dan jarang menuntut sesuatu dari anak mereka. Mereka cenderung enggan memberi batasan pada anak. Lantas, apakah Anda termasuk orangtua dengan pola asuh tersebut? Mari kenali beberapa ciri-cirinya di bawah ini.

  1. Tidak Memiliki Aturan yang Tegas

Orangtua yang menerapkan pola asuh permisif jarang memiliki peraturan yang ketat bagi anak mereka. Akibatnya, anak cenderung semaunya dalam memilih apa yang dia inginkan. Misalnya, anak bebas makan apa pun yang dia mau (walaupun kurang bergizi, misalnya). Anak tidak memiliki jam tidur tetap, anak bebas menonton televisi, atau bermain dengan gawai terus-menerus, dan sebagainya. Sekali pun ada peraturan, sering kali orangtua menerapkannya secara tidak konsisten. Selain itu, bila orangtua meminta anak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginannya, anak akan mengabaikan. Intinya, anak menjadi penguasa dan ‘raja’ dalam keluarga.

  1. Jarang Menghukum Anak

Pada pola asuh permisif, orangtua jarang memberikan hukuman atau mendisiplinkan anak apabila melakukan sesuatu yang salah. Sebaliknya, orangtua hanya berusaha mengalihkan perilaku anak dengan hal lain. Apabila anak diberikan hukuman, mungkin hanya hukuman ringan. Sehingga, di mata orang luar, Anda seolah tidak memberikan tindakan sama sekali yang mendisiplinkan perilakunya.

  1. Menggunakan Suap

Lalu, bagaimana jika anak melakukan tindakan yang kurang baik? Orangtua tipe ini jarang mengatakan kata ‘tidak’ kepada anaknya. Mereka cenderung memilih untuk menyuap anak untuk menghindari perilaku tidak baik dari pada memberikan hukuman. Misalnya, menjanjikan untuk membeli mainan apabila anak berhenti menangis, memberikan jajanan, seperti permen atau es krim, dan lain-lain.

  1. Penuh ‘Kasih’ 

Orangtua permisif cenderung penuh ‘cinta kasih’ terhadap anaknya. Sehingga, mereka tidak tega untuk melakukan sesuatu yang menyebabkan anak tidak senang (contohnya, menerapkan peraturan, menghukum apabila salah, dan sebagainya). Karena itu, gaya pengasuhan permisif sering kali terkesan sangat santai, dan orangtua lebih sering berperan sebagai sosok teman dari pada orangtua.

  1. Mengabaikan Sifat Kurang Hormat dari Anak

Pernahkah Anda membiarkan anak marah dan memukul Anda? Pernahkah Anda membebaskan anak menangis keras-keras di muka umum? Pernahkah Anda mengabaikan sikap anak yang berkata kasar kepada pengasuhnya? Jika jawabannya iya, itu artinya Anda menerapkan pola asuh permisif. Dengan gaya pengasuhan seperti itu, Anda cenderung mengabaikan sifat kurang baik dari anak, sekalipun itu sangat tidak sopan. Anda selalu menganggap hal itu sebagai perilaku kekanak-kanakan yang tidak perlu dikoreksi.

  1. Anak Dibebaskan tanpa Diberi Tanggung Jawab 

Tidak ada aturan di dalam rumah. Anak bebas melakukan apa saja yang mereka mau, tanpa tanggung jawab sama sekali dan mereka tidak bisa menjaga hal yang telah dibebankan kepada mereka.

  1. Menanyakan Pendapat Anak saat Mengambil Keputusan Penting 

Peran sebagai teman dibandingkan peran sebagai orangtua semakin menonjol saat di dalam keluarga, pendapat anak sangat dibutuhkan dalam membuat keputusan penting. Pendapat mereka sangat dipertimbangkan ketika mengambil keputusan penting, tanpa adanya sudut pandangan orang dewasa yang lebih berpengalaman.

  1. Dibebaskan dalam Memilih Pendidikan Formal

Anak diberikan kebebasan untuk memilih sekolah sesuai keinginan mereka. Opsi yang diambil biasanya tanpa memerhatikan pendidikan dari sisi moral dan lain sebagainya.

  1. Membiarkan Anak Berteman dengan Siapa Saja

Ciri orang permisif yang selanjutnya adalah Anda selalu memberikan kebebasan bagi anak untuk berteman dengan siapa saja, tanpa ada kontrol pergaulan.

  1. Perilaku yang Tidak Sesuai Norma pun Dibiarkan 

Perilaku anak tidak dipantau dan dikontrol sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Alhasil, anak tumbuh dengan sifat memberontak atau rebel.

Itu dia beberapa ciri orangtua dengan pola asuh permisif. Anak-anak yang dibesarkan  dalam gaya pengasuhan ini cenderung tumbuh menjadi orang yang kurang disiplin, memiliki kemampuan sosial yang buruk, dan juga egois. Untuk mengubah situasi, salah satu cara yang dapat Anda lakukan, adalah dengan menetapkan batasan dalam keluarga. Hindarilah sikap terlalu permisif. Namun, terlalu otoriter pun sesungguhnya tidak baik. Jadi, seimbangkanlah gaya pengasuhan, seperti tipe pengasuhan demokratis (tegas, namun tetap penuh kasih).**(Sumber: KlikDokter/bp/jit)

 

 

Leave a Response