PURWAKARTA, BANDUNGPOS.ID – KULINER khas yang satu ini sudah lama terkenal luas di Jawa Barat, khususnya Purwakarta.
Ya sate maranggi. Namanya memiliki kesan khas, yang bisa membuat para pemburu kuliner penasaran. Namun tahukah Anda asal mula kuliner yang satu ini?
Sebagian masyarakat mungkin belum tahu banyak asal mula serta bagaimana proses pembuatan sate maranggi yang cukup sohor di Jawa Barat tersebut.
Berikut ulasan tentang asal mula sate maranggi yang berhasil dirangkum dari beberapa sumber:
Mengutip dari Lensa Purwakarta, sejak lama Kabupaten Purwakarta dikenal dengan kuliner khas berbahan dasar daging sapi atau domba yang melegenda, yaitu sate maranggi.
Karena menjadi kuliner khas, wajar saja jika di wilayah ini banyak dijumpai pedagang sate maranggi di hampir seluruh wilayah Kabupaten Purwakarta. Misalnya, di sepanjang Jalan Raya Bungursari, Plered, serta Jalan Raya Purwakarta-Wanayasa.
Potongan kecil daging sapi atau domba yang ditusuk dan diberi bumbu, kemudian dipanggang di atas bara api itu dipastikan memberikan aroma yang bisa merangsang selera, apalagi bila perut keroncongan.
Dengan racikan bumbu rempah-rempah warisan leluhur, serta sambal dadakan, jenis makanan khas ini bisa memberikan sensasi di lidah.

Sebagian masyarakat mungkin ada yang masih bertanya-tanya dan belum tahu apa itu sate maranggi Purwakarta? Bagaimana bentuk penyajian kuliner khas ini dan seperti apa sejarahnya hingga dinamai sate maranggi?
Ada sepenggal cerita tentang asal-mula penamaan sate maranggi khas Purwakarta ini. Konon, sate maranggi awalnya merupakan makanan hasil kreasi para pekerja di sebuah peternakan domba di Kecamatan Plered.
Saat itu, para pekerja hanya bisa menikmati makanan berbahan dasar daging domba ini di waktu-waktu tertentu. Itupun, kadang merupakan daging sisa potongan.
Menurut cerita yang dirangkum dari berbagai sumber, dari sanalah mulai muncul ide dari para pekerja itu. Mereka berfikir, bagaimana caranya daging domba sisa ini bisa diolah menjadi makanan yang lezat.
Akhirnya, mereka menemukan resep untuk mengolah daging sisa tersebut. Daging sisa itu, kemudian mereka potong-potong kecil supaya bisa digunakan dan dimakan secara berkala tanpa membusuk.
Potongan daging itu pun mereka rendam dalam racikan rempah-rempah dengan menambah sedikit gula aren. Walhasil, air rendaman itu bisa membuat daging tersebut awet dan memiliki citarasa tersendiri.
Penemuan racikan daging dari para pekerja ternak ini pun terdengar santer di masyarakat. Namun sejak diciptakan, panganan dari desa itu tak memiliki nama baku dan warga saat itu hanya menyebutnya sate. Hingga pada akhirnya, di Kecamatan Plered, terdapat warung sate domba yang tersohor milik Mak Anggi.
Seiring berjalannya waktu, penyebutan sate Mak Anggi pun berubah hingga menjadi sate Makanggi dan kini lebih dikenal dengan nama beken sate maranggi.
Kiprah pedagang sate maranggi yang lahir di Kecamatan Plered pun terus menyebar ke berbagai daerah dengan resep yang semakin bervariasi. Bahkan bukan hanya di Purwakarta, sate ini pun mulai banyak variasinya hingga ke Cianjur, Sukabumi, dan Subang.
Di Purwakarta sendiri, hampir setiap daerah atau kecamatan yang ada memiliki cita rasa berbeda dalam penyajian sate maranggi. Meskipun bahan dasar berupa daging domba, rempah, serta gula aren selalu menjadi resep utama dalam pembuatan kuliner tersebut.
Seperti halnya sate maranggi Cibungur yang menggunakan sambal tomat sebagai pelengkapnya, atau sate maranggi Wanayasa yang menggunakan sambel oncom dan ketan bakar sebagai pengganti nasi.
Dengan kata lain, kuliner ini menjadi sajian khas di hampir seluruh kecamatan di Purwakarta. Juga sudah menjadi representasi masyarakat di wilayahnya.
Dengan adanya keberagaman itu, artinya sate maranggi merupakan cerminan dari kreatifitas masyarakat Purwakarta pada umumnya. ***





