Metro Bandung

Yana Sebut Difteri Mulai Mengancam, Ajak Warga Terus Menjaga PHBS

205views

Bandung, BANDUNG POS.ID – Wali Kota Bandung, Yana Mulyana meminta warga Kota Bandung untuk terus menjaga Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Selain karena Covid-19 belum berakhir, difteri juga mulai mengancam kesehatan masyarakat.

“Selain Covid-19, difteri juga virus lain yang mengancam yakni flu burung varian baru di Kamboja juga telah menularkan dari unggas ke manusia,” kata Yana pada kegiatan Rapat Kerja Kewilayahan, di Hotel Papandayan, Kamis (2/3/2023(.

Oleh karena itu, Yana meminta aparat kewilayahan untuk terus menyosialisasikan soal PHBS.

“Saya mengajak kepada aparat kewilayahan, agar jangan sampai melupakan Covid-19. Kondisikan masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan, dan terus edukasi warga agar divaksin covid-19,” imbaunya.

Mirip Covid-19

Di tempat terpisah Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung, dr Ira Dewi Jani menyebut, difteri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium.

Penularannya pun, kata Ira, serupa dengan Covid-19, yakni melalui droplet (air liur) saat berbicara, bersin, atau batuk. Sehingga hal terpenting yang harus dilakukan adalah mencegah difteri menjadi wabah.

“Imunisasi itu dapat mencegah dia (difteri) bermanifestasi. Sehingga meski potensi tertular itu tetap ada tapi tidak menimbulkan manifestasi klinis atau saat anak tertular atau bergejala tidak menimbulkan komplikasi yang hebat atau kematian,” papar Ira, dikutip dari laman Humas Pemkot Bsndung.

Selain itu, hal penting lainnya untuk masyarakat adalah cara mendeteksi gejala difteri sedini mungkin. Meski bagi masyarakat umum memang agak sulit untuk mendeteksi gejala atau keluhan yang dialami pasien.

Sebab, menurut Ira, keluhannya bisa beragam, seperti bisa ada demam, bisa juga tidak. Namun, ada juga gejala lain seperti nyeri menelan, sesak nafas, dan batuk pilek.

“Gejala-gejala tersebut karena kuman difteri membentuk selaput berwarna abu keputihan di tenggorokan pasien. Itu yang menyebabkan sakit tenggorokan dan jika sudah parah bisa mengganggu pernafasan, atau berliur terus,” ungkapnya.

Ia menekankan jika sudah menemui gejala seperti itu, sebaiknya pasien langsung dibawa ke faskes terdekat. Sebab masyarakat umum biasanya sulit menentukan apakah ini benar karena difteri atau bukan.

Jika sudah dibawa ke faskes, nantinya tenaga kesehatan yang akan menentukan itu difteri atau bukan. Sebab untuk mendiagnosis secara pasti memerlukan pemeriksaan kultur di laboratorium dan butuh waktu sampai hasilnya keluar.

“Setelah kita mencurigai secara klinis difteri, harus segera dicari kontak eratnya dan yang bersangkutan harus diisolasi sampai memang dibuktikan ia tidak terkonfirmasi. Mirip seperti Covid-19,” paparnya.

Tak hanya anak-anak, difteri pun bisa menyerang orang dewasa. Ira mengungkapkan, beberapa faktornya bisa saja karena dulu status imunisasinya kurang lengkap. Pun jika sudah lengkap bisa saja terkena, tapi tidak memiliki komplikasi yang serius.

Ira mengimbau bagi seluruh masyarakat untuk tetap menerapkan disiplin pola hidup bersih dan sehat (PHBS), melaksanakan prokes seperti cuci tangan dan menggunakan masker.

” Khusus untuk anak balita dan anak sekolah, harap dilengkapi lagi imunisasi DPT, kenali gejala dan tanda untuk mendeteksi dini difteri,” imbuhnya.

Terkait pelayanan publik, Yana meminta agar diselenggarakan dengan komitmen dan integritas, terutama layanan kependudukan seperti KTP, KK, surat kematian, dan akta kelahiran, agar dipermudah.

​”Kota Bandung, kota terdepan pengembangan smart city government di Indonesia, peringkat ke – 28 di dunia berdasarkan studi dari Eden Strategy Institut of Singapore. Maka permudah pelayanan dengan digitalisasi, sehingga penerima pelayanan dimudahkan,” tuturnya.(SR/BP)

Leave a Response