Opini

Nasihat emas PERBEDAAN

164views

Kolom Sosial Politik
Oleh Ridhazia

YANG sepele bagimu, bisa berarti segalanya bagi orang lain. Itu nasihat emas tentang bagaimana memahami narasi berbeda dan konflik. Sebab tidak ada yang salah dengan perbedaan dan konflik. Terlebih lagi perbedaan diantara seluruh manusia tejadi sebagai anugerah. Dan, semua itu bukan hasil pilihan dan permintaan. Perbedaan dan konflik bersifat inheren dengan kehidupan. Pendek kata, perbedaan dan konflik akan terus terjadi setiap ruang dan waktu, di mana saja dan kapan saja.

Istilah “konflik” sendiri secara etimologis berasal dari bahasa Latin “con” yang berarti bersama. Dan “fligere” yang berarti benturan atau tabrakan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konflik dirumuskan sebagai percecokan; perselisihan; pertentangan; ketegangan

Nasihat Teoritisi

Konflik dalam pandangan Karl Marx (1818-1883) merupakan suatu bentuk pertentangan kelas. Sekaligus sebagai arena ketimpangan (inequality). Sedangkan menurut Lewis A. Coser (1913-2003) bahwa konflik memiliki fungsi positif jika mampu dikelola dan diekspresikan sewajarnya. Sebab konflik tidak selalu bersifat negatif. Malah dapat mempererat hubungan antarindividu dalam suatu kelompok. Memicu suatu bentuk interaksi dan memberikan konsekuensi yang sifatnya positif.

Sejalan dengan pikiran pendahulunya, Ralf Dahrendorf (1929-2009) berpendapat kalau konflik itu buah dari relasi-relasi sosial dalam sistem.
Dan, konflik kepentingan menjadi sesuatu yang tidak dapat terhindarkan.*

Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, pemerhati komunikasi sosial politik, bermukim di Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response