SATU-dua tahun belakangan, hampir setiap hari kita mendengar masyarakat terkena wabah covid-19 dan tak sedikit yang berakhir dengan kematian. Ya, bencana dunia ini telah mengalihkan hampir semua perhatian manusia tentang wabah yang disebut covid-19. Namun di tengah pemberitaan seputar pendemi covid-19, di beberapa negara juga muncul citra Islam berkaitan dengan wabah tersebut.
Dilansir dari https://www.alhakam.org/prophet-muhammads-teachings-regarding-pandemics mengenai ajaran Islam tentang wabah ada beberapa hal yang diamati menggunakan analisis framing Robert W Entman.
Pada awalnya konsep framing identik dengan pengamatan terhadap teks media yang berdampak pada soal citra. Demikian juga dengan analisis terhadap berita yang dikeluarkan oleh alhakam.org ini. Melalui media asing ini citra Islam di dunia internasional bisa dibilang positif seiring dengan pemberitaan yang selalu menampilkan islamophobia. Melalui berita ini masyarakat dunia paham bahwa Islam sebagai rahmatan lill aalamin hadir di sebuah situasi dan kondisi.
Dalam pemberitaan ini disebutkan bahwa bagaimanapun, Islam telah menangani pandemi selama ebih dari 1.400 tahun dan studi tentang tradisi Nabi Muhammad menunjukkan bahwa pengendalian infeksi melekat dalam praktik Islam.
Selain itu pada berita ini dipaparkan bahwa ada lima ajaran Nabi Muhammad yang langsung atau tidak langsung berhubungan dengan pendemi covid-19.
Pertama, larangan untuk bepergian dan melakukan karantina bagi masyarakat yang terindikasi tertular virus corona. Nabi saw mengakui dan mengajarkan pentingnya larangan bepergian dan karantina di tempat-tempat yang terkontaminasi penyakit untuk mengurangi penyebaran penyakit. Nabi bersabda, “Jika kamu mendengar wabah wabah di suatu negeri, jangan memasukinya; dan jika wabah itu terjadi di suatu tempat ketika kamu berada di dalamnya, jangan tinggalkan tempat itu.” (Sahih al-Bukhari)
Kebijaksanaan dalam ajaran ini menegaskan bahwa ketika menghadapi wabah apa pun, sangat penting bagi kita untuk mengasumsikan yang terburuk sampai kita mengetahui sebaliknya (dan bertindak sesuai dengan itu). Dengan demikian, larangan perjalanan ketat yang diberlakukan jauh lebih awal dalam timeline Covid-19 bisa sangat membatasi penyebaran virus.
Kedua, menjaga jarak sosial dan isolasi. Nabi Suci juga mempraktikkan untuk menjaga jarak sosial. Dalam riwayat disebutkan bahwa seorang penderita kusta pernah ingin berjanji setia kepada Nabi Muhammad, suatu tindakan yang mengharuskan dia untuk menyentuh atau memegang tangan Nabi Suci. Namun, Nabi Suci dengan ramah mengirim pesan kepadanya bahwa janjinya telah diterima dan bahwa dia harus kembali ke rumah. Kejadian ini membuktikn bahwa saat Rasulullah tahu ada yang terkena penyakit maka dia pun mengurungkan untuk bertemu dikarenakan menghindari tertular. Anjuran habistnya berasal dari Ibnu Majah.
Mengenai isolasi, Nabi SAW mengajarkan bahwa mereka yang sakit tidak boleh dengan cara apa pun berkompromi dengan masyarakat luas. Beliau bersabda, “Jangan tempatkan pasien yang sakit dengan orang yang sehat.” Ajaran ini diperluas ke hewan juga; “Sapi yang sakit tidak boleh dicampur dengan sapi yang sehat.” (Sahih al-Bukhari
Hazrat Umarra pernah mendorong seorang wanita kusta yang mengelilingi Ka’bah Suci di Mekah untuk kembali ke rumahnya karena akan lebih baik baginya (dan orang lain). Setelah kematian Hazrat Umar, seorang pria mengatakan kepadanya bahwa orang yang melarangnya telah meninggal sehingga dia bisa pergi dan mengelilingi Ka’bah sesuka hatinya.
Ketiga, soal kebersihan. Jika ada satu hal yang dipelajari orang selama beberapa minggu terakhir, itu adalah teknik mencuci tangan yang benar dan praktik higienis yang menyeluruh. Padahal hal itu merupakan ajaran Islam. Setiap anak Muslim dapat mengutip kata demi kata tradisi yang menyatakan, “Kebersihan adalah setengah dari iman.”
Sebelum setiap salat lima waktu, seorang Muslim melakukan wudhu yang terdiri atas pembersihan ritual dari kepala sampai kaki dengan air bersih. Nabi Suci juga mengajarkan melalui praktiknya bahwa tangan kanan dan kiri harus digunakan masing-masing untuk menangani hal-hal yang suci dan berkomitmen pada standar kebersihan yang tinggi setiap hari.
Selanjutnya, ketika dia akan bersin, Nabi Suci akan menutupi wajahnya dan meredam bersin, yang secara efektif mengandung penyebaran bakteri dan virus di udara. (Jami’ al-Tirmidzi)
Intinya, umat Islam diajarkan bahwa kebersihan jasmani dan kesucian rohani memiliki keterkaitan yang erat satu sama lain. Dengan demikian, Al-Qur’an mengajarkan, “Sesungguhnya, Allah mencintai orang-orang yang kembali kepada-Nya [bertobat] dan dia mencintai orang-orang yang menjaga diri bersih dan murni.” (Surat al-Baqarah, Bab 2: V.223)
Keempat, mencari perawatan medis. Islam, sebagaimana diajarkan oleh Nabi Suci merupakan sistem berbasis iman yang praktis dan progresif. Nabi Suci mendorong orang untuk mencari bantuan medis di samping mengandalkan kekuatan doa.
Suatu ketika, nabi ditanya oleh sekelompok Badui apakah dianggap berdosa jika mereka tidak mencari perawatan medis. Nabi pun menjawab, “Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah tidak menciptakan suatu penyakit melainkan Dia juga menciptakan dengannya obatnya, kecuali usia tua.” (Ibnu Majah)
Nabi Suci juga menjelaskan bahwa mencari bantuan medis ditambah dengan intervensi ilahi adalah kunci keberhasilan pengobatan; “Setiap penyakit ada obatnya. Jika diberikan obat untuk penyakitnya, penyakit itu sembuh dengan izin Allah SWT”. (Sahih Muslim)
Kelima, bertobatlah wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah tidak menciptakan suatu penyakit melainkan Dia juga menciptakan dengannya obatnya, kecuali usia tua.” Perawatan medis gratis dan bantuan keuangan selama pandemi sangat penting dalam keberhasilan mengendalikan penyebaran penyakit. Jika warga suatu negara tahu bahwa mereka akan disediakan dan dirawat, mereka akan cenderung mengikuti sanksi yang dapat menempatkan mereka dalam kesulitan keuangan.
Baitul-mal (perbendaharaan pemerintah) dikonseptualisasikan pada masa Nabi Suci dan secara resmi didirikan pada masa Khilafat Hazrat Umarra. Pajak yang terkumpul di kas ini digunakan untuk menafkahi fakir miskin, cacat, lanjut usia, yatim piatu, janda, dan lain-lain yang membutuhkan. Pemerintah juga bertanggung jawab untuk menimbun persediaan makanan jika terjadi bencana atau kelaparan.
Sebagai ajaran Nabi Muhammad SAW seputar pandemi mengusulkan mekanisme pengendalian infeksi yang menyerukan iman dan langkah-langkah praktis yang harus diambil untuk secara efektif mengendalikan penyakit menular.
Efek Media
Bicara mengenai framing secara sederhana adalah sebuah teori efek media terkait dengan bagaimana sebuah pesan ditampilkan dibandingkan dengan apa yang disajikan.
Jika menganalisis berisi di atas maka ada 2 (dua) pengertian, yaitu pada tingkatan makro dan mikro. Pengertian framing pada tingkatan makro adalah terkait dengan bagaimana sebuah berita disajikan dan bagaimana hal ini dapat berdampak pada isi pesan. Berita ajaran nabi tentang wabah penyakit menunjukkan bagaimana konten berita tersebut mampu memberikan citra postif Islam di media asing. Selama ini yang muncul adalah stigma bahwa kalangan umat Islam jorok dalam hidupnya sehingga cenderung dianggap sebagai agama yang tidak mengindahkan kebersihan. Melalui pemberitaan tersebut media alhakam memberikan pesan yang berdampak kepada masyarakat. Jauh sebelum wabah pandemic covid-19 muncul di seluruh dunia, semuayang danjurkan atau diwajibkan di beberapa negara berupa social distance, cuci tangan, isolasi, karantina dan lainnya 1600 tahun lalu sudah diperintahkan oleh Rasulullah SAW. Hal ini membuktikan bahwa citra jorok sama sekali jauh dari ajaran Islam.
Dalam hal ini media cukup representatif memberikan citra positif terhadap Islam berkaitan dengan pandemic covid-19.
Pengertian framing yang kedua yaitu pada tingkatan mikro terkait dengan bagaimana masing-masing elemen dalam sebuah narasi berita dapat berdampak pada pembaca. Menurut Scheufele (1999) proses ini dinamakan frame media dan frame khalayak. Pada level mikro ini teks berita bisa dianalisis berdasarkan elemen-elemennya. Di sini media sudah menyajikan elemen-elemen dalam bentuk narasi. Misalnya narasi dari Nabi Muhammad, narasi dari Khalifa dan narasi dari suku Baduy. Narasi dari Rasulullah jelas dalam bentuk hadist yang menjadi panduan umat Islam setelah Al quran. Ada beberapa hadist yang berisi kabar tatkala ada musibah.
Narasi kedua disampaikan Hazrat Umarra sebagai seorang khalifah yang memegang estafet kepemimpinan setelah Rasulullah. Dan narasi ketiga disampaikan oleh sekelompok orang Badui Arab yang waktu itu bertanya kepada Rasulullah.
Narasi-narasi yang merupakan elemen-elemen dalam berita tersebut menunjukkan bagaimana media melakukan framing terhadap berita yang disajikan. Media pun mampu memilih elemen narasi yang akan memperkuat berita tersebut sehingga mampu menciptakan citra positif tentang Islam kaitannya dengan wabah virus corona.
Pada skala mikro elemen narasi pun terbagi menjadi tiga strata, yakni Rasulullah, khalifah dan orang badui sehingga proses framing oleh media bersangkutan cukup komprehensif. Tingkatan kredibiltas narasi juga mampu membentuk keyakinan dari proses framing tersebut, yakni Rasulullah sebagai orang suci yang sabdanya tidak mungkin keliru karena selalu mendapatkan tuntutan dari Allah. Saat Rasulullah sudah meninggal maka kepemimpinan dilanjut oleh para khalifah yang membawa risalah Rasulullah. Sementara sekelompok orang Badui merupakan representasi khalayak umum yang menjadi bagian dari struktur masyarakat di mana pun.
Selain itu teori framing dibangun berdasarkan asumsi bagaimana diskusi media merefleksikan atau memilih sudut pandang yang tepat untuk mengatakan sebuah kisah berita (frame media) dapat memengaruhi bagaimana publik memandang isu-isu sosial yang penting (frame khalayak), bukan pada isu yang dipandang penting oleh khalayak.
Simpulannya melalui konsep analisis framing dari Robert W Entman bagaimana suatu media membingkai suatu peristiwa atau kebijakan tertentu yang menjadi perhatian khalayak. Saat pandemic covid-10 masih merebak, media asing yang dibahas di atas mampu memberikan citra positif tentang Islam berkaitan dengan penanganan wabah virus corona di seluruh dunia. Media ini menyiratkan pesan bahwa Islam telah mengajarkan penanganan suatu wabah secara komprehensif melalui ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW. (Askurifai Baksin/berbagai sumber)





