Kolom Sosial Politik
Oleh Ridhazia
PRESIDEN Prancis Emmanuel Macron memang beda. Ia terbang dari Paris ke Qatar hanya untuk nonton final piala dunia 2022 di Stadion Lusail, Doha, Qatar. Meski duduk di tribun kehormatan, tapi tingkahnya seperti supporter lain. Begitu ekspresif menyaksikan timnas kebanggaannya duel dengan Argentina.
Empati
Untuk standard presiden negara berkelas, mungkin kehadirannya dianggap norak. Tapi tidak demikian bagi politisi kelahiran 1977 itu. Apalagi ia turun ke lapangan ketika pertandingan usai. Ia menyegerakan menyalami dan memeluk seluruh pemain yang tengah terpuruk. Bahkan secara khusus, menarik tangan bintang Perancis pemain bernomor 10 Kylian Mbappé yang tertunduk lesu. Mengajaknya berdiri.
Di sesi pembagian trofi Piala Dunia, dari panggung kehormatan ia tampil tegar. Ia tidak menunjukan kekecewaan berlebihan. Malah menyalami dan menepuk seluruh pemain. Tak hanya dari negara asalnya. Juga seluruh pemain Argentina. Dan ia hadir menjadi orang pertama menjadi penghibur mewakil bangsa dan negaranya.
Simpati
Sesuatu yang langka ini membedakan dengan presiden Perancis sebelumnya yang anggun. Bahkan tak merakyat. Sedangkan presiden termuda sepanjang sejarah Perancis apa adanya. Sama halnya ketika ia datang ke G-20 Bali. Ia memilih berjalan kaki usai menghadiri Gala Dinner di Garuda Wisnu Kencana (GWK) hanya untuk menyapa rakyat . Bahkan sempat menggendong bayi yang ditemuinya di tepi jalan.
Inilah presiden sesungguhnya. Sesuatu banget…*
Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, pemerhati komunikasi sosial politik, bermukim di Panyawangan, Kabupaten Bandung.





