Opini

Mengapa ‘Orang Komunikasi’ Susah Diajak Diskusi?

602views

Kolom Sosial Politik
Oleh: Dr Emeraldy Chatra

BÀGI saya ilmu komunikasi itu sebuah samudra. Bukan danau, apalagi kolam kecil. Begitu luas, dan begitu dalam. Ia sudah mendekati filsafat, walaupun masih berstatus ilmu.

Mengapa demikian?

Komunikasi adalah aktivitas manusia paling mendasar, paling penting. Dunia (realm) terbentuk karena komunikasi. Tanpa komunikasi kita hanya tahu apa yang bisa kita lihat, apa yang bisa kita dengar – tidak termasuk melihat media dan mendengar perkataan orang lain. Bayangkan apa yang kita lihat dan kita dengar ketika kita duduk sendiri di rimba yang tidak ada orangnya. Hanya sebatas yang dapat kita lihat dan kita dengar itu sajalah pengetahuan kita.

Kita bisa mengetahui bermacam persoalan yang jauh – baik secara geografis maupun waktu – karena kita berkomunikasi dengan orang lain. Kita tahu mana yang benar dan salah juga karena berkomunikasi dengan orang lain.

Peradaban manusia lahir dari komunikasi. Perang dan perjanjian damai setelah perang juga tak lepas dari peran komunikasi. Kemana manusia bergerak, apakah ke surga atau neraka, melibatkan komunikasi juga. Begitu luasnya komunikasi. Seperti samudra.

Komunikasi, dengan materi yang melimpah, mustinya tidak habis ‘ditimba’ dalam diskusi. Tak terhitung banyaknya dan tak dapat digambarkan betapa peliknya masalah komunikasi yang melilit manusia hari ini. Samudra itu sedang bergolak, sementara mereka yang berkuasa di atasnya berusaha menggiring perahu kita ke arah tertentu yang hanya menguntungkan mereka.

Tapi mengapa para sarjana, para magister dan para doktor komunikasi pada umumnya tutup mulut dan tidak tertarik untuk diskusi?

Saya anggota–bahkan ada beberapa yang saya buat sendiri–dari grup-grup ‘orang komunikasi’ di WhatsApp maupun Telegram. Levelnya mulai dari tingkat S1 sampai S3, dari praktisi sampai akademisi.

Semua grup – tanpa kecuali – tidak pernah mendiskusikan sesuatu yang menurut saya ‘menimba air samudra’. Paling isinya ucapan selamat ulang tahun, ucapan belasungkawa, atau percandaan yang tidak penting. Sudah sering saya pancing anggota grup itu mendiskusikan apa yang menurut saya penting, tapi nyaris tidak ada respon. Tak ada yang tertarik untuk mendiskusikan masalah itu.

Aneh bin ajaib. ‘Orang komunikasi’ kok pada bisu? Apakah karena berusaha menghemat kata sehingga secara tidak disadari justru menjadi kikir dengan kata-kata? Atau karena sebab lain yang lebih serius, yang selama ini belum pernah didiskusikan di kalangan ‘orang komunikasi’ sendiri?

Saya curiga, ‘orang-orang komunikasi’ tidak lagi berada di samudra yang penuh riak-riak itu. Mereka sudah tidur di tempat yang nyaman, di darat, sehingga mereka tidak tahu apa yang sedang bergejolak di samudra. Mereka bukan hanya tidak terusik tapi juga sudah tidak tahu apa-apa tentang praksis kekuasaan di samudra, yang membuat perahu-perahu saling bertabrakan dan nyaris tenggelam.

Saya juga curiga, ‘orang-orang komunikasi’ umumnya hanya dapat cerita tentang samudra, tapi tidak pernah berlayar. Akibatnya, mereka tidak pernah merasakan goncangan, kedaruratan, bahkan tidak tahu mana yang buritan kapal, mana yang layar, dan mana pula yang disebut batu karang. Singkatnya, di kepala mereka hanya ada gambar, bukan realitas, sehingga otak mereka tidak mampu memikirkannya.

Mudah-mudahan kecurigaan saya ini salah. Tapi kalau benar berarti kita harus menggiring ‘orang komunikasi’ ke samudra, sejak awal mereka belajar ilmu komunikasi. Perlu kita beritahu mereka bahwa samudra itu bukan lautan yang tenang yang hanya elok untuk wisata, tapi sebuah masalah kemanusiaan, kebudayaan dan peradaban yang pelik. Untuk itu mereka harus tahu banyak hal. Tak perlu menjadi pakar, setengah pakar saja sudah cukup.

Memang, kalau stock of knowledge kita sangat minim tentang sesuatu biasanya kita tidak mampu berdiskusi. Kita akan terjebak dan tak berkutik ketika berlayar di samudra luas.*

Dr Emeraldy Chatra, MSi, Ketua Program S2 Ilmu Komunikasi Universitas Andalas, tinggal di Padang.

E.C.

Leave a Response