Kolom Mahasiswa
Oleh Wildan Maulana
BERITA semua harga BBM naik yang sebelumnya Pertalite Rp 7.650/liter menjadi Rp 10.000/liter membuat semua kalangan masyarakat kecewa oleh keputusan pemerintah itu.
Pemerintah mengatakan semua ini sudah dipertimbangkan matang – matang karena subsidi BBM Pertalite yang ditujukan kepada masyarakat menengah kebawah, malah dinikmati pula oleh banyak kalangan menengah ke atas. Subsidi BBM tersebut ternyata tidak tepat sasaran, sehingga salah satu cara menanggulangi masalah ini adalah dengan menaikkan harga BBM.
Beberapa bulan setelah kenaikan BBM, masyarakat sudah tidak terlalu memikirkan kenaikan tersebut dan menerima apa adanya. Pemerintah juga sudah menjelaskan mengapa mereka menaikkan harga BBM. Masalah masyarakat menengah ke atas juga belum kunjung selesai, mereka tetap membeli Pertalite subsidi.
Pemerintah kurang tegas dengan fenomena ini sehingga tujuan awal mereka tidak kunjung terealisasi, pemerintah harus menerapkan pendataan masyarakat menengah ke bawah dan menengah ke atas agar dapat tepat sasaran. Contohnya memberi kartu identitas yang sesuai dengan STNK/plat nomor atau memakai aplikasi yang dijaga dengan baik dan benar.
Semua ini berimbas pada BBM nonsubsidi yaitu Pertamax dan Pertamax Turbo yang mengalami menurunan menjualan yang drastis karena naiknya semua jenis BBM, sehingga pemerintah mau tidak mau menurunkan Pertamax yang seharga Rp 13.900/liter menjadi Rp 12.800/liter.
Terlihat jelas dampak perpindahan masyarakat menengah atas yang dulunya membeli Pertamax berubah menjadi membeli Pertalite subsidi. Kesadaran masyarakat masih kurang karena sebetulnya mereka mampu membeli Pertamax.
Tapi karena longgarnya ketegasan pemerintah membuat mereka tidak memikirkan dampaknya kepada masyarakat menengah ke bawah.
Menteri BUMN, Erick Thohir mengungkapkan harga BBM Pertalite dan solar subsidi belum turun karena harga tersebut masih rendah dibanding harga ekonominya, terlihat pemerintah juga masih berkorban untuk kebutuhan BBM masyarakat walaupun masih banyak problematika di dalamnya.*
Wildan Maulana, mahasiswa Ilmu komunikas FISIP Universitas Pasundan, pecinta otomotif, tinggal di Cimahi.





