Kolom Sejarah Media
Oleh Kin Sanubary
HARIAN Nusantara mulai memperkenalkan diri kepada para pembacanya sejak 9 Desember 1957, 66 tahun silam.
Adapun surat kabar Nusantara sebelumnya bernama “Nieuwsgier” surat kabar nasional berbahasa Belanda. Surat kabar, majalah dan penerbitan berbahasa Belanda tidak diperboleh-kan terbit lagi mulai t/1 Desember 1957, termasuk koran “Nieuwsgier”
Edisi perdana Harian Umum “Nusantara” Nomor 1 Tahun ke-1 terbit Senin, 9 Desember 1957 dengan harga eceran hanya Rp 1 (satu rupiah). Surat kabar ini dikelola dan dipimpin oleh jurnalis senior Mr Teungku D. Hafas dan berkantor redaksi di Jalan Pintu Air no. 23 Jakarta.
Berdasarkan keputusan pemerintah Republik Indonesia, bahwa surat-surat kabar dan penerbitan Belanda tidak diperbolehkan terbit dan beredar lagi di seluruh wilayah Indonesia. Surat kabar berbahasa Belanda “Nieuwsgier” tidak terbit lagi dan berganti menjadi surat kabar berbahasa Indonesia dengan nama “Nusantara” yaitu sebuah koran nasional yang tidak berpihak kepada salah satu partai politik atau golongan mana;pun. Nusantara terbit dengan misi sesuai berdasarkan cita-cita politik nasional yaitu menuju pelaksanaan Proklamasi 17 Agustus 1945 untuk menciptakan suatu masyarakat yang adil dan makmur.
Surat kabar Nusantara terbit dengan 4 halaman. Halaman muka surat kabar ini menurunkan berita-berita hangat berbagai peristiwa penting yang terjadi di tanah air. Di antaranya yaitu :
~ Keluarga dan staf diplomatik Indonesia bersiap-siap meninggalkan Negeri Belanda, karena memanasnya hubungan diantara dua negara, akibat masalah Irian Barat.
~ Belanda mengajukan protes sekeras-kerasnya ke Sidang NATO dan juga PBB soal sengketa dengan Indonesia.
~ Kapal-kapal perang Belanda memasuki perairan Irian Barat.
~ Kunjungan Presiden Soekarno ke Surabaya untuk memenuhi undangan dan berbicara pada rapat raksasa yang diselenggarakan oleh Panitia Pembebasan Irian Barat. Presiden Soekarno didampingi oleh Menteri Penerangan Sudibjo dan Sekjen Dewan Nasional Ruslan Abdulgani.
~ Menteri Luar Negeri dr. Subandrio tiba kembali di tanah air setelah mengadakan kunjungan ke New York Amerika Serikat memimpin delegasi Indonesia di PBB dalam perdebatan mengenai persoalan Irian Barat.
Halaman 2 surat kabar Nusantara memuat berita-berita tentang:
~ Memorandum mengenai pampasan perang Jepang.
~ Kapal-kapal Perang Belanda sudah memasuki Laut Jawa.
~ Konstituante mengakhiri sidang.
~ Tragedi “Cikini” percobaan pemboman untuk usaha pembunuhan Presiden Soekarno pada 30 November 1957. Sekolah Perguruan Cikini di buka kembali.
~ Gudang Mesiu Tentara di Bandung Meledak. Seluruh Kota Bandung goncang, peledakan terjadi di gudang mesiu Angkatan Darat di daerah Bojong Koneng yang letaknya sekitar 6 km dari pusat Kota Bandung. Jalan Cikutra yang panjangnya sekitar 3 km dan menghubungkan Bojong Koneng dengan jalan raya penuh sesak dijejali para pengungsi.
~ Halaman 3 surat kabar Nusantara berisikan dan memuat tulisan Pidato Roeslan Abdulgani “Pancasila sebagai Dasar Negara”
~ Memuat berita-berita olahraga seperti:
Sepakbola Kompetisi Persija Jakarta antara kesebelasan Maesa melawan klub Hercules dengan skor 4-2 untuk kemenangan tim Maesa. Sementara PSSI melakukan training center. Adapun hasil pertandingan antara Sumut versus Aceh yaitu 5-3 untuk kemenangan tim Sumut. Dari cabang olahraga Tinju dikabarkan Aay Ming Chan mengalahkan Rilley. Adapun Tenis Piala Davis antara timnas AS menang atas timnas Filipina dengan skor 5-0.
Surat kabar Nusantara dibredel oleh pemerintah Orde Baru dan dibekukan SIUPP nya sejak 16 Juni 1874 setelah Peristiwa Malari (Malapetaka Januari)
~ Halaman 4 surat kabar Nusantara memuat cerita bergambar, komik strip Flash Gordon dan memuat pariwara atau iklan niaga. Adapun beberapa iklan yang dimuat diantaranya :
~ Iklan film yang tayang di beberapa bioskop di Jakarta.
~ Asuransi Jiwa “Boemi Poetra 1912, iklan radio transistor merk “Philips” minyak rambut Lavender merk “Grossmith” bola tenis “Dunlop” dan susu bubuk “NoMad” buatan Nutricia.
Surat kabar Nusantarau dibredel oleh pemerintah Orde Baru dan dibekukan SIUPP nya sejak 16 Juni 1974 setelah Peristiwa Malari (Malapetaka Januari).
~ Semoga dengan membaca dan mengulas kembali surat kabar lawas “Nusantara” terbitan 66 tahun silam bisa membuka kembali catatan peristiwa yang pernah terjadi di tanah air dalam lintasan sejarah perjalanan bangsa. *
Kin Sanubary, netizen, kolektor dan pengelola media media lawas, bermukim di Subang, Jawa Barat.





