Opini

Otak Versus Digital

301views

Kolom Mahasiswa
Oleh Muhammad Dhaffa Mukarrom Ariwardhana

HAL yang berat itu bukan berkompetisi dengan kecerdasan otak manusia, melainkan taktik dan skill di dunia digital.

Cara instan memang lebih disukai banyak orang. Padahal, menikmati masa sulit dan belajar dari tiap masalah akan lebih meningkatkan kinerja otak. Misalnya, dalam isu tentang lulusan masa pandemi dianggap hanyalah nilai Handphone dimana perajar atau mahasiswa melakukan pembelajaran secara daring menggunakan Smarphone melalui internet. Mereka cenderung terbiasa menjadi individualisme.

Sebagian besar memakai cara instan untuk mendapatkan nilai yang memuaskan tanpa belajar. Kita tidak bisa menilai perilaku mereka. Ibaratnya, “sesuatu terjadi karena adanya peluang untuk melakukannya”.

Kembali lagi. Semua bergantung pada perspektif setiap orang. Jika dilihat dari sudut pandang lain, ada sebagian yang menyukai usaha manualnya, menghentikan kecurangannya, menikmati kesulitannya, menangisi perjuangannya dan mensyukuri apabpun hasilnya. Bukan karena sombong dan merasa bisa. Namun, ia sadar bahwa yang terpenting adalah evaluasi seberapa pemahaman yang dia dapatkan.

Kemampuan otak akan mempengaruhi perkembangan digital, dan perkembangan digital akan mempengaruhi segala aktivitas, begitu pula sebaliknya.

“Otak itu untuk diasah, memiliki skill digital itu mahal dan kejujuran itu limited edition”.

Muhammad Dhaffa Mukarrom Ariwardhana, mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Pasundan, peminat masalah sosial, tinggal di Cianjur.

Leave a Response