Dikeluhkan Warga, Lapangan Terminal Cimalaka Bak Sungai Kekeringan Akibat Batu Koral Urugan Tak Diratakan
Sumedang, BANDUNGPOS.ID – Lapangan Sub Terminal Cimalaka Sumedang rusak berat. Kerusakan lapangan terminal yang secara de jure milik pemerintah daerah Sumedang itu, rusak berat akibat urugan batu koral yang tidak diratakan.
Menurut keterangan yang berhasil dihimpun, batu koral itu sumbangan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sumedang, Titus Diah.
Menurut warga sekitar, seharusnya jika diurug dengan batu koral pihak yang memberikan bantuan itu sekaligus memberikan bantuan alat berat stoom guna meratakanya. Setelah rata baru kemudian diplester adukan pasir semen.
“Jangan setelah diurug lalu ditinggalkan begitu saja. Para pedagang pemilik kios, kaki 5, sopir angkutan perdesaan dan pengemudi ojeg pangkalan yang secara de facto adalah pemilik terminal Cimalaka tidak mungkin untuk bekerja meratakan batu batu koral yang ukurannya ada yang sebesar kelapa,” ujar Silvia salah satu pemilik kios kepada kontributor Bandungpos.id, di Sumedang Selasa 17/1.
Seperti diberitakan Bandung Pos sebelumnya, hanya PKL yang diajak kerja bakti untuk mempercantik terminal Cimalaka. Sedangkan pemilik de facto yang lainnya tidak diajak. Hal itu menyebabkan terjadinya friksi diantara para pemilik kios, sopir angdes, dan para opang dengan para PKL.
Untuk meratakan batu koral tersebut para PKL iuran sebesar 30 ribuan. Hasil iuran terkumpul sejumlah 400 ribu. Uang itu diberikan kepada para pegawai yang bekerja meratakan terminal.
“Kalau harus kami para PKL yang bekerja meratakan batu batu koral itu, waktunya tidak mungkin. Kami harus kerja mempersiapkan dagangan, harus istirahat siang karena kami berjualan dari sore sampai malam bahkan terkadang sampai pagi,” ungkap Aceng, salah seorang PKL terminal Cimalaka.
Bantuan Ketua UMKM
Bantuan satu dam truk batu koral untuk meratakan terminal Cimalaka itu diberikan oleh Titus Diah yang juga Ketua UMKM Kabupaten Sumedang. Dijanjikan Titus setelah diurug batu koral, terminal akan diplester pasir semen agar jadi rata dan baik serta cantik. Namun hingga berita ini diturunkan, janji meratakan terminal Cimalaka dengan memplester itu, belum terwujud.
Pantauan kontributor Bandung Pos biro Sumedang di lapangan terlihat lapangan terminal Cimalaka seperti sungai kering. Batu batu koral sebesar buah kelapa teronggok dipojok terminal. Ditengah lapangan dibuat saluran pembuangan air seperti selokan kecil. Selokan kecil itu dibuat dengan cara mengeruk batuan koral. Setelah dikeruk dibuatlah saluran dengan batuan hasil kerukan sebagai peninggi selokan. Seperti polisi tidur yang terbuat dari batu koral. Tujuan dibuat parit atau selokan itu supaya air tidak menggenang bagian terminal sebelah selatan.
Beberapa pengendara motor terlihat kesulitan melewati selokan di terminal Cimalaka itu. Mereka bersusah payah agar tidak jatuh. Akibat dari batu koral yang tidak distoom lalu diplester terminal Cimalaka terlihat kumuh.
“Seharusnya kalau mau membantu membenahi terminal, jangan hanya PKL yang dilibatkan. Tetapi pemilik de facto yang lain seperti kami ini para pemilik kios, para sopir angdes juga para sopir ojek ikut diajak bicara. Tujuannya agar terjadi sinergitas saling memahami, saling tolong menolong dan menghindari perbedaan paham, penafsiran serta kecemburuan sosial,” ungkap Syamsuddin, pemilik kios lainnya di terminal Cimalaka.
Titus Diah yang juga Ketua UMKM Kabupaten Sumedang menginisiasi serta berinisiatif merapikan para pedagang kaki 5 agar tidak dituding sebagai biang kerok kemacetan di jalur keluar masuk gerbang tol Cimalaka.
Imbas dibukanya GTO Cimalaka terjadi kemacetan panjang mulai terminal Cimalaka sampai SMAN 1 Cimalaka. Arah Sumedang Cirebon kendaraan mengular sejauh 3 km. Mulai bunderan Dano sampai perempatan Cimalaka. Dari arah Cirebon kendaraan tersendat mulai radio Jusyan sampai masjid besar Cimalaka.
Selama ini para PKL terutama yang mangkal di trotoar jalan, dituding sebagai biang kemacetan arus lalulintas Cimalaka ke gerbang tol. Terutama jika hari libur panjang. Namun kemungkinan besar kemacetan itu tidak akan berlangsung lama. Pasalnya tol Cisumdawu akan dioperasikan penuh akhir Februari 2023.
Seperti diberitakan beberapa media online nasional menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki (PUPR) Basuki Hadimuljono menjanjikan Cisumdawu beroperasi penuh akhir Februari 2023 ini.
“Setelah beroperasi secara total, orang Majalengka kalau mau ke Bandung hanya butuh kurang 1 jam perjalanan lewat tol ini. Sebaliknya orang Bandung kalau mau ke Bandara Kertajati Majalengka, tidak perlu keluar di Cimalaka. Langsung saja ke pintu keluar di Bandara Kertajati,”kata Basuki saat rapat kerja dengan komisi V DPR RI di Jakarta, Selasa 17/1. secara total bisa kita operasikan pada akhir Februari tahun ini,” ujar Basuki dalam Rapat Kerja bersama Komisi V DPR RI di Jakarta, Selasa, 17/ini.
Inisiatif Ketua UMKM
Titus Diah, wakil ketua DPRD Kabupaten Sumedang yang juga ketua UMKM kabupaten tergerak merapihkan PKL dengan menempatkan mereka di dalam terminal Cimalaka. Para PKL yang biasa mangkal di trotoar jalan dipindahkan ke dalam terminal Cimalaka. Diharapkan setelah dibenahi warga masyarakat sekitar maupun wisatawan luar kota yang sedang healing atau berwisata mencoba terowongan tol terpanjang di Indonesia itu, keluar pintu tol Cimalaka mau berkunjung atau sekedar mampir di pujasera terminal Cimalaka.
“Saya tidak mencari keuntungan atau uang dari PKL ataupun dari kegiatan ini. Hal ini merupakan bentuk kepedulian saya selaku wakil ketua DPRD kabupaten Sumedang sekaligus sebagai ketua UMKM Sumedang yang secara kebetulan tinggal di kecamatan Cimalaka,” ungkapnya.
Selama ini mereka yang berjualan di trotoar jalan dituding biang kemacetan lalulintas. Padahal banyak faktor lainnya. Salah satunya lebar jalan provinsi yang kurang sesuai dijadikan tempat pintu keluar masuk tol.Terutama jika hari libur nasional atau cuti bersama.
“Kalau setelah dibenahi para PKL merasa tidak nyaman atau penjualannya menurun, saya persilahkan kembali ke lapak masing-masing sebelum pembenahan. Namun untuk para PKL yang kembali ke trotoar jalan lantas kemudian mereka kena penertiban satpol PP, saya tidak bisa membantu serta melindunginya,” ujar Titus ketika rapat audensi dengan para PKL belum lama ini. (Eks/BP)





