Opini

Dialektika GUS

173views

Kolom Sosial Politik
Oleh Ridhazia

SALAH satu perbedaan di Muhammadiyah dengan NU kata Sekretaris Umum Muhamadiyah Abdul Mut’i adalah adanya darah biru. Anak-anak kiai NU yang kelak menjadi penerus pesantren secara khusus dipanggil GUS. Sedangkan anak-anak kiyai di Muhammadiyah tidak dikenal darah biru. Siapapun dia, cukup disebut GUYS. Yakni, teman-teman.

GUS

Dari laman nu.or.id, seorang Gus yang juga disebut kiyai muda yang dapat diangkat menjadi kiai. Kelaziman yang lebih sosiologis, seorang GUS nmendapat hak priveledge (istimewa) karena mewakili sosok, nasab, keilmuan dan representasi tradisi pesantren NU.

Publik mengenal sebutan Gus secara populer dari nama Abdurrahman Wahid (1940- 2009) yang akrab dipanggil Gus Dur. Presiden Indonesia ke-4 (1999-2001) berdarah biru. Ia anak Abdul Wahid Hasyim ( 1914-1945) mantan Menteri Agama sekaligus cucu pendiri NU Hasyim Asyhari (1871-1947)

Ada GUS Naturalisasi

Jika ada GUS di luar kriteria nasab bisa dipastikan palsu. Gus jenis ini lazim disebut GUS “naturalisasi”. Tidak istimewa tapi ingin mendapat keistimewaan. Tujuannya untuk dikapitalisasi. Entah dipolitisasi untuk rebutan pengaruh kekuasaan atau sekedar penglaris praktik paranormal.*

Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, pemerhati komunikasi sosial-politik, bermukim di Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung.

Leave a Response