Kolom Mahasiswa

ACAB, Slogan Protes di Inggris

164views

 

Oleh Renaldy Firmantua

A.C.A.B adalah sebuah singkatan dari bahasa Inggris yang memiliki kepanjangan “All Cops Are Bastards”.Indonesia: “Semua Polisi Adalah Bajingan.  Singkatan ini digunakan sebagai slogan dalam grafiti, tato, dan gambar lain untuk memprotes perilaku polisi yang tidak etis, dan polisi pada umumnya. Kadang-kadang ACAB ditulis secara numerik sebagai “1312”, mengikuti urutan alfabet Inggris.

Ungkapan “All Cops Are Bastards” pertama kali muncul di Inggris pada tahun 1920-an, kemudian disingkat menjadi “ACAB” oleh para pekerja yang melakukan pemogokan pada tahun 1940-an.

Singkatan yang kemudian dianggap sebagai  akronim ini secara historis dikaitkan dengan penjahat di Inggris. Pertama kali dilaporkan sebagai tato penjara pada tahun 1970-an, tato ini biasanya digambarkan sebagai satu huruf per jari, atau terkadang disamarkan sebagai titik-titik kecil simbolis di setiap buku jari.

Pada tahun 1980–an, ACAB menjadi simbol antikemapanan, terutama dalam subkultur punk dan skinhead. ACAB pun semakin mendapatkan popularitas berkat subkultur punk. Gerakan punk disebut berjasa menyebarkan slogan ini ke seluruh dunia, dari Eropa, Amerika, hingga Indonesia. Selain lekat dengan anak punk, anarko dan gerakan-gerakan anti-otoritarian kerap menggunakan slogan tersebut.

Di tahun-tahun berikutnya, ACAB berubah menjadi slogan populer di kalangan hooligan dan ultras sepak bola Eropa, dan di antara gerakan anarkis dan anti-otoriter di seluruh dunia. Dalam konteks tertentu, Liga Anti-Pencemaran Nama Baik mengkategorikan frasa tersebut sebagai simbol kebencian dan mendeskripsikannya sebagai “slogan yang sudah lama ada dalam budaya skinhead“, sambil mencatat bahwa frasa tersebut digunakan baik oleh skinhead rasis maupun anti-rasis.

Sejumlah kejadian dewasa ini ini pun turut menjadi panggung tempat slogan ACAB bergema nyaring. Seperti dikutip Kompas TV, di Indonesia, usai Tragedi Kanjuruhan, ACAB juga disuarakan. Tidak hanya terpampang di ruang-ruang publik, tetapi juga di media sosial.

Peran kepolisian dalam Tragedi Kanjuruhan sendiri disorot berbagai pihak. Pasalnya, polisi menembakkan gas air mata ke arah tribun. Setelah tembakan gas air mata, kekacauan besar timbul, merenggut 131 jiwa.

Ada juga kasus saat Dago Elos sedang melawan ‘Muller Si Penipu’, seorang anggota kepolisian yang baru saja lulus dari SMA dan hanya dibekali dengan lima bulan masa pendidikan lalu dibekali senjata dengan gagah mengunggah ‘story’ dengan caption BAZOKA . Background tersebut dalam kondisi kericuhan di Dago Elos. Karena caption tersebut banyak orang menanggapi akan sifat arogannya seorang ‘polisi cilik’ yang sedang bertugas mengamankan situasi.

Para pendukung istilah ini berpendapat bahwa ACAB berarti setiap petugas polisi terlibat dalam sistem yang tidak adil. Mereka berpendapat bahwa petugas polisi, meskipun mereka tidak ikut serta dalam kebrutalan polisi atau tindakan rasisme dalam menjaga polisi, tetap bertanggung jawab atas apa yang dilakukan rekan-rekan mereka karena mereka tidak bersuara menentang atau mencoba menghentikannya.*

* Renaldy Firmantua, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pasundan (Unpas)  Angkatan2022, bermukim di Margahayu Raya Barat, Kota Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response