DaerahKampusiana

Anak Kolong Berwajah Buku

323views

MEMULAI — tulisan ini dengan mengutip salah satu tulisan yunior saya di Ilmu Komunikasi Unhas Makassar yang periset sekaligus akademisi, Herman Lilo, S.Sos, M.Si.  Herman Lilo dalam sebuah tulisannya tentang Bachtiar Adnan Kusuma  yang dimuat di media nasional, beberapa waktu lalu, judulnya “Bachtiar Adnan Kusuma, Menulis Dalam Sunyi, Memilih Menulis Pilihan Hidupnya.”

Herman Lilo menyebutkan, kalau ia mengenal Bachtiar Adnan Kusuma pertama kali di Kampus Merah Universitas Hasanuddin, sebagai seniornya di jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Politik.

Namun Bachtiar Adnan Kusuma  akrab disapanya dengan sebutan Bang BAK, mengikuti tradisi di Korps Ilmu Komunikasi Unhas dimana senior disapa “Abang.”

Herman menguraikan, ketika mulai akrab dengan Bachtiar Adnan Kusuma , terasa disesaki dengan jutaan referensi.  Berbincang dengan BAK, ibarat kita berada dalam ruang perpustakaan.  Bahasanya sangat referensial, sarat kutipan bermakna. Dan ,kesimpulannya, Bachtiar Adnan Kusuma adalah pegiat buku dan pembaca yang tekun.

Saat kami dari mahasiswa Ilmu Komunikasi berpraktik memproduksi film untuk sebuah mata kuliah, menurut Herman Lilo, sering ngobrol dengan  Bachtiar Adnan Kusuma di sela-sela syuting.

Cerita panjang dilakoni BAK sebagai penulis lepas di Majalah Panjimas, Amanah, Kartini, Estafet, Tabloid Jumat sejak SMA hingga kuliah di Unhas.

Terbayang bagaimana senangnya ketika mendapatkan honor menulis untuk membeli buku, pakaian dan membayar SPP. Pada hari ini Bang BAK, kata Ilo, menjabat sebagai Sekretaris Jenderal di Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia Pusat dan Deklarator Nasional Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia Pusat.

Penggerak Akademi Literasi Nasional Ika BKPRMI Pusat dan Perpustakaan Nasional RI, adalah hal yang wajar baginya.  Jalan sutera bagi Abng BAK sebagai penulis dan tergabung di Rumah Penulis Indonesia, sudah dilakoninya sejak lama. Tulis Ilo,  Bachtiar Adnan Kusuma dalam pengakuannya, terinspirasi oleh ungkapan Napoleon Hill.

”Bukan tulisan pada nisan Anda, tapi catatan perbuatan Andalah yang bisa mengabadikan nama Anda setelah meninggal.” Inilah yang memberikan inspirasi awal, mengapa Bachtiar Adnan Kusuma memilih profesi menulis buku dalam kesunyian.

Yah, menulis dalam sunyi, tanpa hingar-bingar popularitas. Jauh dari bisingnya pujian,  Bachtiar Adnan Kusuma tak letih menyulam kata, menata kalimat menjelma sebuah buku yang ratusan jumlahnya.

Dalam sunyi terdengar pesan sang mahaguru K.H. Abdurrahman Arroisi seperti denting harpa, “Aku ingin meletakkan artefak-artefak sejarah dalam hidup ini, ya minimal menggoreskan sebait karya. takkan engkau dikenang sejarah jika engkau tak menulis, maka menulislah dan buatlah sejarah.”

 Penulis Biografi

Menulis profil atau tokoh menjadi style utama buku karya Bachtiar Adnan Kusuma.  Alasan saya simple, dengan menulis biografi orang-orang sukses, Bachtiar Adnan Kusuma dapat belajar dan menggali kisah-kisah sukses dari sang tokoh yang ia  tulis.  Pada awalnya, tokoh-tokoh itu ditulis untuk dimuat di majalah dan koran harian.

Namun, dari sanalah  Bachtiar Adnan Kusuma membangun relasi sosial dan peluang bisnis perbukuan yang bernilai profit. Kolaborasinya dengan penulis Alif we Onggang, Achmad TR, dan Aprial Hasfah telah melahirkan buku yang merangkum tokoh Sulsel yang sukses di Nusantara.  Buku itu merupakan kumpulan tulisan dari berbagai media antara lain Panjimas, Amanah, Estafet dan Tabloid Jumat.

Dibukukan kurang lebih 200 orang tokoh dalam sebuah buku bertajuk “Tentang Sejumlah Orang Sulawesi Selatan” pada 1997.  Rencana baik Tuhan rupanya seiring dengan keputusan Bachtiar Adnan Kusuma. Perusahaan penerbitan yang dikelola secara profesional berhasil menerbitkan buku pertamanya.  Buku yang berjudul “Saudagar Bugis Makassar”, diterbitkan atas biaya dari tokoh-tokoh yang terangkum dalam buku tersebut, sekaligus menjadi tonggak sejarah Bachtiar Adnan Kusuma  menyelami dunia perbukuan.

Ceritanya, ia menulis tokoh-tokoh pengusaha, birokrat, politisi dan akademisi dalam sebuah buku.  Untuk membiayai penerbitannya, ia mencari iklan dari tokoh-tokoh yang bersangkutan, kemudian dia muat dalam buku Bachtiar Adnan Kusuma sebagai umpan balik dari jasa iklan yang saya peroleh.

Bachtiar Adnan Kusuma kebetulan memiliki pengalaman pemasaran yang hoki, dan jitu.  Potensi pengalaman dan kemampuan melobi dan komunikasi yang ia miliki inilah yang Bachtiar padukan di dunia penerbitan yang gelutinya.  Alasan Bachiar sederhana, kemampuan menulis tidak cukup, kecuali diikuti dengan kemampuan marketing, promosi, penjualan dan taktik menaklukkan pasar. **( rm/bp)

 

 

Leave a Response