Daerah

Balada Keluarga Tionghoa Sumedang Merayakan Imlek

212views

IMLEK– yang identik dengan hujan, bagi keluarga Tionghoa merupakan berkah yang baik. Seluruh keluarga, baik keluarga inti maupun keluarga besar tidak boleh ada satupun yang bersedih. Sejak Sabtu sore sampai Minggu pagi hujan terus mengguyur kota tahu Sumedang.

“Saat Imlek semua keluarga berkumpul merayakan kebahagiaan. Saat Imlek itu, tidak boleh ada keluh kesah atau kepedihan. Bukan artinya kami tidak perduli terhadap kesusahan keluarga yang lain. Tapi khusus Imlek semuanya harus berbahagia. Jika ada persoalan dan keluhan bisa dibicarakan setelah Imlek, besoknya atau lusanya. Pokoknya jangan ketika hari Imlek. Dan tentunya seluruh keluarga wajib membantu saudaranya yang kesusahan itu,” ujar Ko Acu (60), seorang keluarga Tionghoa ketika ditemui Bandung Pos biro Sumedang di peternakan sapi perahnya pada Minggu 22 Januari 2023.

Imlek jika diartikan secara bahasa adalah kalender bulan (Im = bulan. Lek = tanggal). Imlek tahun 2023 jatuh pada Minggu 22 Januari. Dalam bahasa Mandarin istilah Imlek memiliki arti tersendiri. Mereka menamainya Anyin Li. Jadi untuk negara China termasuk Hongkong yang belum lama kembali masuk teritorial wilayahnya (sebelumnya dibawah pemerintahan kerajaan Inggris) dan Taiwan mereka menamakan Imlek dengan menyebutnya hari raya Anyin Li.

Menjelang hari raya Imlek, kata Ko Acu, sekeluarga mempersiapkan segala sesuatunya. Yang paling diutamakan mempersiapkan keperluan untuk sembahyang. Wangi wangian, berbagai macam buah dan makanan lainnya harus ada

“Dupa dan buah naga juga ikan bandeng harus ada. Tidak boleh tidak ada. Elemen udara, air serta darat harus tergambarkan dengan baik oleh makanan itu. Biasanya diwakili daging dagingan dan ikan,” ungkap Ko Acu.

Saat Imlek Keluarga Besar Tionghoa Kumpul

Saat malam hari menjelang Imlek, seluruh keluarga Tionghoa diharapkan bisa hadir kumpul dengan seluruh keluarganya. Pada jam 8 malam makanan sudah siap di meja makan lalu berdoa kemudian makan bersama. Selanjutnya tepat pukul 12 malam bagi yang merayakan Imlek akan pergi ke Vihara untuk sembahyang. Sembahyang Imlek ada yang sebentar, ada yang dilakukan sampai pagi.

Vihara terdekat ke kota Sumedang terletak di Bandung. Agak jauh di Majalengka dan Cirebon. Di kabupaten Sumedang umat Budha belum memiliki Vihara sendiri. Jadi kalau harus sembahyang di Vihara mereka pergi ke kota kota terdekat yang ada bangunan Vihara. Di hari raya Imlek biasanya setiap keluarga membagikan uang (angpao).

Angpao dalam kebudayaan masyarakat Tionghoa dan Asia adalah bingkisan dalam amplop merah. Biasanya berisikan sejumlah uang sebagai hadiah untuk menyambut tahun baru Imlek. Tak heran setiap Imlek di Indonesia sejumlah Vihara dipenuhi para pengharap berkah Imlek. Dan tentunya keluarga yang merayakan harus menyiapkan sejumlah angpao untuk dibagikan kepada para pengharap berkah itu.

“Hanya anak-anak dan orang yang belum nikah di keluarga Tionghoa boleh menerima angpao. Yang sudah nikah atau dewasa dan bekerja tidak boleh menerima. Justru mereka itu yang harus memberikan angpau,” tandas Ko Acu.

Hari raya Imlek merupakan keberkahan. Hari Raya Imlek diyakini merupakan sesembahan kepada arwah leluhur. Namun saat Imlek biasanya setelah ritual selesai, keluarga Tionghoa yang merayakan menggunakan waktu liburan untuk mengunjungi tempat wisata. (E Koesnadi s/BANDUNGPOS).

Leave a Response