
Bandung, BANDUNGPOS– Minggu ketiga bulan Januari 2024 akan dilakukan pengukuhan tim Pelatda Jabar ke PON XXI/2024. Menyikapi hal ini Ketua Umum Pengprov Persatuan Olahraga Layar Seluruh Indonesia (Porlasi) Jabar Arief Prayitno mengatakan ada beberapa tahapan yang dilakukan Porlasi Jabar.
Yang pertama, aturan dari PB Porlasi mengatakan, atlet yang lolos ke PON itu adalah pemenang 1 sampai 5 di Babak Kualifikai (BK). Untuk pemenang 1 sampai 5 ini di tim Jabar ada 15 atlet. Dan ini melebihi dari gelaran PON XX di Papua tahun 2021. Secara kuantitas PON di Papua itu berjumlah 11 atlet yang lolos BK.
“Dari 15 atlet yang lolos BK itu Jabar memperoleh 1 medali emas, 2 perak dan 1 perunggu, selebihnya ada diurutan 4 dan 5. Saya tidak tahu persis kebijakan KONI Jabar apakah nantinya mengambil no urut 1 sampai 3 atau 1 sampai 5,” ujar Arief yang ditemui di Gedung KONI Jabar Jalan Pajajaran Kota Bandung, Rabu (3/1/2024).
Menurutunya, kalau yang diambil no urut 1 sampai 3 maka yang berangkat ke PON berjumlah 6 atlet. Target dari KONI Jabar sendiri untuk Porlasi di pentas PON adalah 2 medali emas. Adapun dari 6 atlet jika diambil no urut 1 sampai 3 yang pertama adalah Kahya di nomor IQ foil, kemudian Jatmiko di nomor perseorangan putra dan Silvi. Dari target 2 medali emas, salah satunya lagi di nomor hobie 16 dan double handed atas nama Wibowo dan seorang atlet putri. Dari 4 nomor yang diikuti, Porlasi Jabar menargetkan 2 medali emas.
“Pada prinsipnya dicabor layar tidak ada target yang muluk-muluk tapi kemudian hasilnya diluar harapan. Bicara soal target emas, kita realistis saja. Saya memantau setiap hari perkembangan cabor layar. Insya Allah setelah melihat perkembangan, target 2 emas bisa diwujudkan di PON tahun depan. Harapannya sih mudah-mudahan bisa lebih dari 2 emas,” kata Arief.
Akan halnya ukuran ideal Pelatda menurut Arief adalah efektif dan efisien. Misalnya dalam seminggu tim latihan di Pelatda bisa dilakukan 5 atau 6 kali daripada seminggu sekali misalnya. Pelatda cabor layar akan dilaksanakan di National Sailing Center (NSC) , Ancol, Jakarta Utara.
“Pengambilan venue di NSC Ancol alasannya yang pertama adalah tempat pertandingan di PON yaitu di Ule Ule Banda Aceh mirip dengan di Ancol . Yang kedua sarana dan prasarana di Ancol lebih lengkap dan jaraknya juga tidak terlalu jauh ,” ungkap Arief.
Soal training centre (TC), Arief sudah mengusulkan kalau tidak Juni, pastinya Juli dengan mengambil tempat di Thailand atau Malaysia. Kedua negara ini dipilih karena pada bulan tesebut sedang menggelar event layar Internasional dan tim layar Indonesia bisa ikut serta di event itu. Kemudian alasan lainnya adalah kedua negara ini di wilayah Asia Tenggara prestasinya cukup bagus .
Disinggung soal peralatan, Arief mengatakan sudah mengajukan ke KONI Jabar yaitu peralatan untuk nomor hobby kite, IQ foil dan laser, sebab – menurut Arief, salah satu faktor non teknis di cabor layar itu adalah masalah peralatan, selain tentunya faktor alam.
“Akan halnya soal fakta intergritas, Porlasi Jabar sudah melakukannya di gelaran Porprov beberapa waktu lalu, isinya antara lain jalinan kerjasama dengan KONI-KONI daerah untuk menjaga atlet-atletnya. Fakta intergritas selanjutnya adalah menjaga atletnya untuk tidak keluar dari Jabar,” tutur Arief. (den)





