Daerah

Ditemukan Beberapa Sumber Air Asin di Sumedang

114views
SUMEDANG, BANDUNGPOS.ID – Fenomena mata air asin di sebuah sumur milik warga Dusun Ciseupan Desa Ciuyah cukup menarik perhatian. Pasalnya, d itempat yang sangat jauh dari laut tapi air sumur di sebuah desa di Kecamatan Cisarua Sumedang rasanya asin. Padahal jarak terdekat ke laut utara sekira50 km. Apalagi kalau ke laut selatan, jarak Sumedang ke Pangandaran atau ke pantai Santolo di Garut sejauh 100 km. Mustahil jika air laut itu bisa tembus ke Sumedang.
Berdasarkan penuturan warga setempat, mata air asin di lingkungan desa itu tidak hanya satu. Ada beberapa sumber mata air yang rasanya asin.
“Di desa kami ini ada beberapa lahan sawah warga yang tidak bisa ditanami padi karena area sawah itu mengeluarkan mata air asin,” kata Ruminah (63), seorang petani Desa Ciuyah seperti diberitakan detikjabar.
Kemudian Ruminah menunjuk beberapa petak sawah yang tumbuh tidak merata. Bahkan sebagian petak terlihat tidak ditumbuhi padi sebagaimana mestinya.
“Lihat petak sawah itu, setengahnya tidak ditumbuhi padi karena lahan itu mengeluarkan mata air asin,” ungkapnya. Ruminah mengaku tidak tahu asal-usul kenapa mata air itu asin.
Mungkin karena ada beberapa mata air yang mengeluarkan rasa asin kenapa desa tempat ia tinggal dinamakan Desa Ciuyah (Ci : air. Uyah : garam).
Jika dihitung berapa jumlah sumber mata air asin di desa Ciuyah ini, mungkin jumlahnya tidak akan terhitung karena satu buah sumur atau sumber mata air,  mengeluarkan beberapa titik semburan air.
“Kalau sumber mata air asin itu memang ada di sana. Di lahan milik Uka, salah seorang petani warga desa Ciuyah,” papar Musohanah (54), petani lainnya seperti dilansir detikjabar.
Sumber mata air paling terkenal di Desa Ciuyah memang milik Uka (68). Di sumber mata air itu dibuatlah kolam kecil sebagimana sumber mata air pada umumnya. Material kolam hanya batu yang dipasang mengelilingi sumber mata air asin itu.
Kepala Desa Ciuyah Suharja menerangkan, lokasi mata air itu secara administratif kini masuk wilayah Desa Cisarua. Pascapemekaran pada 1982 hadirlah desa baru, yaitu Cisarua (kini menjadi ibukota Kecamatan Cisarua). Sebelumnya lokasi mata air itu termasuk ke dalam wilayah administratif Desa Ciuyah.
“Sekarang mah lokasi sekitar mata air itu jadi wilayah perbatasan dua desa. Desa Ciuyah dengan Desa Cisarua. Lokasi itu dibatasi sebuah sungai kecil atau selokan yang ada di sekitar sumber mata air,” papar Suharja.
Kepala Desa Ciuyah menerangkan, beberapa waktu lalu datang sebuah tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mengambil sampel air untuk diteliti. Namun kabar tentang hasil penelitian Tim ITB itu hingga kini belum diketahui. Karena hasil secara ilmiah belum diketahui, akhirnya Suharja menduga rasa asin air di sumber mata air milik beberapa warga itu mungkin dari Gunung Tampomas.
“Sepertinya keberadaan mata air asin di daerah kami mungkin karena kedekatan wilayah kami dengan Ggunung Tampomas. Kalau ke daerah Conggeang mengeluarkan air panas dan belerang, mungkin residu belerang Tampomas dikeluarkan di tempat kami berupa mata air asin,” ujar Suharja menduga-duga.
Suharja menceritakan suatu kisah tentang sumber mata air asin di desanya yang konon tidak pernah surut walau kemarau panjang.
“Dahulu agar peternakan warga kenyang, pakan untuk ternak itu diberi cipratan air asin. Ditenggarai air asin itu mengandung banyak vitamin untuk kesehatan ternak,” katanya.
Suharja menambahkan terlepas dari semuanya, keberadaan sumber mata air asin itu tetap misterius. Dibutuhkan kajian dan penelitian ahli geologi untuk mengungkapnya. (Eks/BP)

Leave a Response