Medi Mahendra; Kisah Sikancil Bisa Jadi Inspirasi Korupsi
Medi Mahendra;nKisah Sikancil Bisa Jadi Inspirasi Korupsi
Bandung, BANDUNGPOS.ID: Inisiatif membangkitkan semanagat menulis, tidak cukup didorong hanya dari diri si penulis saja, tetapi perlu adanya habitat dimana si penulis biasa berkreativitas. Diskusi itu berlangsung bersama penulis cerita anak dari Sorong Papua Barat, Dayu Rifanto dalam sela-sela sesi kegiatan “Petualangan di Dunia Imajinasi: Workshop Menulis Cerita Anak bagi Pegiat Literasi”, bertempat di Aula Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) Kota Bandung.
Dayu menegaskan, menilai soal keadaan di Kota Bandung, kalangan penulisnya sangat banyak dan terus berkembang. Tetapi di sisi lain, mereka masih bergerak secara personal dalam proses berkarya.
Bagi seorang Dayu Rifanto, keadaan seperti itu perlu adanya penyeimbangan kondisi dan situasi yaitu dengan mencipta habitat relevan bagi para penulis. Kecenderungan berkarya seorang diri, bisa diminimalisir dengan menyertakan mereka dalam suatu komunitas penulis.”Menulis secara kolektif menjadi menarik, terlebih saat konsep kolaboratif terus digagas selama ini dalam bidang apapun, “katanya. Berkarya secara kolaboratif mampu mencipta karakteristik karya yang lebih kuat secara komunal, model proses kreatif seperti ini, menjadi peluang terbangunnya karakter bangsa secara kolektif, tambahnya.
Sedangkan Kepala Disarpus Kota Bandung, Drs. Fajar Kurniawan, dikesempatan yang sama mengatakan, hari ini kita sedang menghadapi krisis identitas bangsa secara keseluruhan. Puncak permasalahannya, generasi penerus bangsa semakin kesulitan mengenal keunggulan karakter bangsanya sendiri. kibatnya, pilihan menjadi bagian keberadaan karakteristik bangsa lain, itulah kemudian yang dapat dilakukan.
Sementara Leader Smartfren Comunity Kota Bandung, Nicky Puspitasari,M.Pd dalam sesi pertemuan pelatihan sama, menuturkan bahwa pelaksanaan workshop menulis cerita anak ini sengaja digelar, paling tidak ada tujuan yang ingin diraih, diantaranya, peserta dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan praktis dalam menulis cerita anak, peserta dapat menjadi agen perubahan dalam meningkatkan minat baca dan keterampilan menulis, khususnya dikalangan anak-anak. Menarik apa kata Nicky Puspitasari, sejalan dengan pernyataannya bagaimana kita menjadi agen perubahan dalam dunia kepenulisan secara komunal.
Ditegaskan Nicky, banyak pihak mulai menyadari arti kata kolaborasi, sehingga dari ruang publik ini, kegiatan kepenulisan, banyak didukung pihak-pihak berkompeten, seperti, Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung dan beberapa organisasi mitra, diantaranya Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) kota Bandung, Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (HIMPAUDI) Kota Bandung, Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca Masyarakat (GPMB) Kota Bandung. Tentunya, pihaknya sangat berterima kasih dengan munculnya inisitif berbagai kalangan itu.
Sekretaris Disarpus Kota Bandung, Medi Mahendra, S,IP. S.Sos, turut memberikan pandangan berharga saat dirinya diminta menjadi pembicara kunci pada pertemuan pelatihan kepenulisan cerita anak itu. Menurut Medi, bahwa usaha membangun karakter kuat sebuah kehidupan bangsa, kita harus sering melakukan pemantauan bahkan koreksi terhadap karya-karya anak bangsa, seperti halnya terhadap karya-karya tulis atau cerita bentuk lain berupa dongeng anak. Selama ini, kata Medi Mahendra, sudah banyak cerita anak terlanjur menyebar luas dan diingat anak-anak dan masyarakat dalam waktu lama.
Kita lalai memaknai cerita anak itu secara mendalam. Hasilnya, dari cerita itu, berkembang pada periodisasi tertentu tumbuh karakter buruk, terpapar tema cerita buruk. “Cerita Sikancil, disaripatikan dalam syair lagu //Si kancil anak nakal suka mencuri mentimun, ayo lekas dikurung jangan diberi ampun//. Dongeng ini awal dikenal menimbulkan kesan bahwa adanya prilaku suka mencuri, apabila dilakukan berakibat timbulnya hukuman. Pada ulasan cerita lengkapnya, si Kancil setelah tertangkap petani, dia bisa meloloskan diri. Si Kancil pun dinilai cerdik.
Pemaknaan cerita si Kancil ini, jika ditelaah lagi, sangat bahaya dalam konteks membangun karakter generasi bangsa, bahwa prilaku jahat mencuri itu seperti ditolerir sebagai prilaku wajar selama si pelaku memiliki kecerdikan karena mampu melarikan diri setelah sebelumnya tertangkap, atau seolah mencuri itu boleh-boleh saja asal tidak ketahuan.
Menulis cerita anak, dalam hal ini, Medi Mahendra mengingatkan, penulis juga dituntut mampu memperkaya kemampuan literasi dan pemaknaan dari bahan-bahan referensi yang ia gunakan sebagai bahan dasar menulis cerita. Kebiasaan membaca memang baik, tetapi alangkah elok jika kemampuan literasi diiikutkan oleh para pembaca dalam menikmati dan menelaah bahan-bahan bacaannnya. Terutama bahan-bahan bacaan kita setiap harinya. Era digital sudah membuka kran kebebasan teks membanjiri gawai-gawai kita, maka dari itu kita semua dituntut cermat memilah bacaan, tidak sekedar rajin menjadi bagian dalam kegiatan peningkatan kegemaran membaca.** ( RM/BNN)





