Metro Bandung

Perpustakaan Kewilayahan Bukan Sekadar Pemenuhan Persyaratan

Perpustakaan Kewilayahan Bukan Sekadar Pemenuhan Persyaratan

199views

 

KOTA BANDUNG, Bandungpos.id– Keberadadaan  Perpustakaan di Wilayah Kecamatan dan Kelurahan se-Kota Bandung bukan sedadar pemenuhan persyaratan  pada indeks pembangunan literasi  Kota Bandung, namun harus menjadi sarana menggeliatkan literasi di Kota Bandung.  Jika Perpustakaan kewilayahan hidup bergelora, Kota Bandung akan memiliki tambahan 30 perpustakaan kecamatan dan 151 perpustakaan kelurahan, ini artinya akan memperkuat perpustakaan 4 micro library yang kini sudah dimiliki Kota Bandung, diantaranya Microlibrary Hegarmanah, Taman Bima, Babakansari dan Microlibrary taman Alun-alun Bandung.

Hal itu disampaikan  Kepala Disarpus Kota Bandung, Drs.H. Fajar Kurniawan,. M.Si melalui Sekretaris Disarpus, Medi Mahendra, AP,. S. Sos,.M.Si  dihadapan Ketua Pokja Literasi Kota Bandung yang juga istri Pj. Wali Kota Bandung, Ny.Linda Nurani Hapsah,.S.E, .M.M, Kasie Kesos kecamatan se-Kota Bandung,  Pengurus Pokja Literasi, dan Duta Baca  Kota Bandung, hari ini, di acara Capacity Buiding bagi penggiat Literasi  di kewilayahan  bertempat Cikole Jayagiri Resort, Bandung.

Menurut Fajar, kedepannya diharapkan tidak hanya ada pojok baca atau gerobak baca saja, namun sudah harus mulai dirintis  terbentuknya perpustakaan  di tingkat  kelurahan dan kecamatan  degan langkah awal dibuatnya  SK Kepengurusan.

“ Hasil kajian  Indeks baca masyarakat di Kota Bandung pada tahun 2022 lalu menunjukkan angka 76.07,  sehingga dapat dikatakan bahwa indeks baca masyarakat  sudah baik. Namun ini bukan berarti kita sudah puas, malah kita harus terus berinovasi, “ katanya.

Fajar menambahkan, pengukuhan K-Lik( kios literasi kewirausahaan kewilayahan)  di Kota Bandung telah berhasil melahirkan literasi di 30 kecamatan  sepanjang tahun 2022-2023, dimana pada momen tersebut Disarpus  memberikan bantuan  sejumlah bukun sebagai rintisan terbentuknya pojok baca di kewilayahan , bahkan berapa kewilayahan  telah dilengkapi pinjam pakai gerobak baca dan buku.

Di tempat yang sama Sekidis Disarpus Medi Mahendra, AP.S.Sos,. M.Si, secara khusus  memaparkan  tentang menggeliatkan literasi untuk  kesejahteraan masyarakat  melalui potensi kewilayahan.  Lebih  jauh Medi menjelaskan, ada enam dimensi dalam literasi dasar, yakni literasi  baca tulis,literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial dan literasi budaya serta kewargaan.

Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial selaas dengan program K-Lik ( kios literasi kewirausahaan kewilayahan).Perpustakaan berbasis inklusi sosial dicanangkan Perpusnas RI  sebagai pembina perpustakaan di Indonesia,dimana perpustakaan menjadikan perpustakaan berbasis inklusi sosial sebagai saraa pembelajaran bagi pemustaka.  Pembelaaran sepanjang hayat merupakan kata kunci dalam pengembangan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, tambah Medi.**(Rm/BNN)

Leave a Response