Perpustakaan Kewilayahan Bukan Sekadar Pemenuhan Persyaratan
Perpustakaan Kewilayahan Bukan Sekadar Pemenuhan Persyaratan

KOTA BANDUNG, Bandungpos.id– Keberadadaan Perpustakaan di Wilayah Kecamatan dan Kelurahan se-Kota Bandung bukan sedadar pemenuhan persyaratan pada indeks pembangunan literasi Kota Bandung, namun harus menjadi sarana menggeliatkan literasi di Kota Bandung. Jika Perpustakaan kewilayahan hidup bergelora, Kota Bandung akan memiliki tambahan 30 perpustakaan kecamatan dan 151 perpustakaan kelurahan, ini artinya akan memperkuat perpustakaan 4 micro library yang kini sudah dimiliki Kota Bandung, diantaranya Microlibrary Hegarmanah, Taman Bima, Babakansari dan Microlibrary taman Alun-alun Bandung.
Hal itu disampaikan Kepala Disarpus Kota Bandung, Drs.H. Fajar Kurniawan,. M.Si melalui Sekretaris Disarpus, Medi Mahendra, AP,. S. Sos,.M.Si dihadapan Ketua Pokja Literasi Kota Bandung yang juga istri Pj. Wali Kota Bandung, Ny.Linda Nurani Hapsah,.S.E, .M.M, Kasie Kesos kecamatan se-Kota Bandung, Pengurus Pokja Literasi, dan Duta Baca Kota Bandung, hari ini, di acara Capacity Buiding bagi penggiat Literasi di kewilayahan bertempat Cikole Jayagiri Resort, Bandung.
Menurut Fajar, kedepannya diharapkan tidak hanya ada pojok baca atau gerobak baca saja, namun sudah harus mulai dirintis terbentuknya perpustakaan di tingkat kelurahan dan kecamatan degan langkah awal dibuatnya SK Kepengurusan.
“ Hasil kajian Indeks baca masyarakat di Kota Bandung pada tahun 2022 lalu menunjukkan angka 76.07, sehingga dapat dikatakan bahwa indeks baca masyarakat sudah baik. Namun ini bukan berarti kita sudah puas, malah kita harus terus berinovasi, “ katanya.
Fajar menambahkan, pengukuhan K-Lik( kios literasi kewirausahaan kewilayahan) di Kota Bandung telah berhasil melahirkan literasi di 30 kecamatan sepanjang tahun 2022-2023, dimana pada momen tersebut Disarpus memberikan bantuan sejumlah bukun sebagai rintisan terbentuknya pojok baca di kewilayahan , bahkan berapa kewilayahan telah dilengkapi pinjam pakai gerobak baca dan buku.
Di tempat yang sama Sekidis Disarpus Medi Mahendra, AP.S.Sos,. M.Si, secara khusus memaparkan tentang menggeliatkan literasi untuk kesejahteraan masyarakat melalui potensi kewilayahan. Lebih jauh Medi menjelaskan, ada enam dimensi dalam literasi dasar, yakni literasi baca tulis,literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial dan literasi budaya serta kewargaan.
Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial selaas dengan program K-Lik ( kios literasi kewirausahaan kewilayahan).Perpustakaan berbasis inklusi sosial dicanangkan Perpusnas RI sebagai pembina perpustakaan di Indonesia,dimana perpustakaan menjadikan perpustakaan berbasis inklusi sosial sebagai saraa pembelajaran bagi pemustaka. Pembelaaran sepanjang hayat merupakan kata kunci dalam pengembangan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, tambah Medi.**(Rm/BNN)





