
Oleh Muhamad Agung Arlan Kurniawan
Permasalahan sampah di Indonesia kerap sekali terdengar karena sulitnya penguraian dan juga pengurangan dari sampah tersebut. Apakah akan begini saja dan tidak ada perubahan ?
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2022 hasil input dari 202 kabupaten dan kota se Indonesia menyebut jumlah timbunan sampah nasional mencapai angka 21.1 juta ton. Dari total produksi sampah nasional tersebut, 65.71% (13.9 juta ton) dapat terkelola, sedangkan sisanya 34,29% (7,2 juta ton) belum terkelola dengan baik.
PLTSa atau kerap disebut Pembangkit Listrik Tenaga Sampah bisa menjadi solusi dari jawaban tersebut, karena hal ini sudah digunakan di beberapa negara terutama di Denmark dan terbukti dari kerja alat ini bisa menetapkan Denmark menjadi negara terbersih di dunia.
PLTSa di Indonesia pun sebetulnya sudah ada pembangkit listrik ini namun dalam penguraiannya masih kurang, sehingga akibat dari pembakaran sampah tersebut membuat polusi yang dapat memberikan dampak bagi udara disekitar.
Namun ada hal baru di kita Solo yaitu, hadirnya Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo, Mojosongo, Solo, yang resmi beroperasi, Senin (30/10). Generator listrik dengan teknologi plasma gasifikasi itu digadang-gadang menjadi solusi sampah perkotaan di Kota Solo dan sekitarnya.
PLTSa Putri Cempo yang dioperatori oleh PT Solo Citra Metro Plasma Power (SCMPP), kerja sama antara PT Solo Citra Metro Plasma dengan BUMN PT Pembangunan dan Perumahan (PP). Pembangkit listrik itu diperkirakan mampu mengolah 545 ton sampah menjadi 8 mW listrik.
Jumlah tersebut jauh lebih banyak dari produksi sampah Kota Solo yang hanya di kisaran 300-350 ton per hari. Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka mengatakan kekurangan tersebut akan dipenuhi dengan mengimpor sampah dari kabupaten sekitar Solo.
PLTSa ini bisa menjadi acuan untuk kota-kota di seluruh Indonesian sehingga pengelolaan sampah bisa secara teratur dan mengurangi jumlah sampah sehingga dapat merubah keadaan dari sampah yang ada di Indonesia. *
* Muhamad Agung Arlan Kurniawan, mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unpas, bermukim di Ciumbuleuit, Cidadap, Kota Bandung, Jawa Barat.



