Kolom Mahasiswa
Oleh: Suci Fitriani
“GADIS yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.” Itulah salah satu kalimat yang terucap dari otak pintar Kartini. Seorang pahlawan emansipasi wanita yang sangat dikenal dan dijunjung tinggi hingga kini. Itu hanya satu dari puluhan bahkan ratusan kata bijak yang diucap olehnya. Tanpa sadar, kata-kata tersebut berhasil membuka banyak pemikiran para wanita untuk memperjuangkan emansipasinya hingga saat ini.
Salah satu cara yang ia lakukan untuk memperjuangkan hak tersebut yaitu dengan banyak melakukan literasi menggunakan buku-buku yang tersedia di perpustakaan dalam rumahnya. Bisa dibilang bahwa Kartini menghabiskan waktunya untuk membaca buku. Dalam kata mutiara di atas, Kartini ingin menyampaikan bahwa seorang gadis yang cerdas akan ilmu pengetahuan dan mempunyai pandangan yang luas, akan mengubah pandangan dirinya terhadap segala hal. Mereka tidak akan mengikuti semua hal yang dilakukan oleh nenek moyang mereka dan menanggung beban kebodohan yang sama.
Dampak dari sebuah literasi memang sangat luar biasa. Dalam satu buku saja, seseorang bisa mendapatkan banyak sekali pelajaran, apa lagi jika buku yang ia baca lebih dari satu setiap tahunnya. Coba bayangkan apabila seseorang membaca seminimalnya satu buah buku dalam satu bulan. Maka dalam satu tahun, ia sudah mendapatkan puluhan bahkan ratusan pengetahuan dari 12 buku yang sudah dibacanya.
Manfaat dari sebuah literasi memang sangat istimewa, tapi sayangnya hampir semua orang tidak sadar akan hal itu. Sebagiannya lagi mungkin sadar, tapi rasa malas berhasil mengalahkan kesadaran mereka itu. Hal ini tentu saja bukan merupakan hal yang positif. Banyak sekali dampak buruk yang bisa terjadi jika kita malas untuk melakukan literasi. Salah satunya yaitu, kebodohan yang tidak akan kunjung berhenti.
Kebodohan terjadi akibat tidak adanya pengetahuan. Maka dari itu, diperlukan sebuah penangkal untuk mengatasinya. Membaca buku merupakan salah satu upaya yang bisa kita lakukan. Mungkin ini sangat terdengar klise, namun benar adanya bahwa buku merupakan sumber dari ilmu pengetahuan. Ada sebuah istilah yang mengatakan bahwa buku merupakan jendela dunia. Dengan membaca buku kita bisa mengelilingi dunia, bahkan dunia itu ada di dalam genggaman tangan kita sendiri.
Minimnya literasi yang terjadi saat ini tentu bisa memengaruhi emansipasi yang sudah diperjuangkan oleh Kartini semasa hidupnya. Bagaimana seorang wanita bisa mendapatkan kesetaraan jika dia saja masih bersedia untuk menanggung kebodohan dalam dirinya sendiri? Hal ini tentu harus diubah. Emansipasi tidak bisa didapatkan dengan minimnya literasi dalam kehidupan. Rasa haus akan ilmu pengetahuan harus tertanam di dalam diri. Jika tidak, masa depan bangsa akan terus gelap seiring dengan berjalannya waktu.
Suci Fitriani, mahasiswi Prodi Jurnalistik Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, bermukim di Kabupaten Bandung, Jawa Barat





