Kolom Mahasiswa
Oleh: Rifan Putra Utama
ChatGPT (Generative Pre-Training Transformer) kecerdasan buatan besutan openAI perusahaan milik Elon Musk dan Sam Altman menggoyang dunia.
ChatGPT telah memiliki satu juta pengguna hanya dalam 1 minggu sejak diluncurkan. Kehadiran ChatGPT akan mendisrupsi segalanya seperti bom atom, perangkat lunak yang akan meluluh lantahkan dunia yang kita kenal sekarang.
GPT dikembangkan agar bisa menjalankan berbagai macam tugas manusia. Kini ChatGPT dapat melakukan berbagai macam hal seperti menjawab pertanyaan, melakukan pemrograman dasar, menulis artikel dan esai selain itu ChatGPT bisa meniru, menjelaskan, bahkan mengingat apa yang sudah dikatakan.
ChatGPT bisa heboh karena bisa mengerjakan sesuatu yang biasanya dilakukan hanya oleh orang – orang yang kompeten dibidangnya. Bisa jadi tidak ada satu manusia pun yang menguasai kemampuan sebanyak yang bisa dilakukan oleh ChatGPT. belum lagi kecepatan dalam menyelesaikan pekerjaan hanya dalam hitungan detik.
Jadi, ChatGPT tetap dinilai berpotensi mendisrupsi dunia kerja termasuk mendisrupsi pekerjaan di sektor knowledge economy. Dia bisa mendisrupsi para _copywriter, content writer, programmer, dan knowledge worker_ lainnya. ChatGPT juga membuat para guru dan dosen cemas karena para murid atau mahasiswanya bisa saja memakai ChatGPT untuk menyelesaikan tugas–tugas mereka.
Jelas akan ada pekerjaan – pekerjaan yang akan tergantikan oleh AI, namun seharusnya kita sekarang sudah lebih baik dan siap mengantisipasinya, karena informasi dan ilmu sudah lebih mudah diakses. Saat ini manusia memerlukan AI agar bisa bekerja lebih produktif dan bisa menyelesaikan problematika secara eksponensial.
Lihatlah ChatGPT sebagai tools untuk membantu kita berkarya lebih produktif, pandanglah ChatGPT seperti kalkulator yg membuat berhitung jadi lebih mudah. Maka dengan memanfaatkan ChatGPT sebagai Tools kita bisa memanfaatkan waktu, tenaga dan pikiran untuk menyelesaikan pekerjaan yang lebih penting dan lebih krusial. Biarlah AI yang melakukan pekerjaan teknis dan berulang. Pada akhirnya penggunaan
AI akan mengotomasi semua pekerjaan teknis, bahkan Sebagian pekerjaan kreatif. Maka, fokuslah pada pekerjaan yang strategis pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh robot.*
Rifan Putra Utama, _Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Konsentrasi Jurnalistik Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





