Oleh Farhan Helmy
Oleh Farhan Helmy
DIBERGAGAI WA grup yang saya ikuti banyak komentar terhadap penolakan Prof. Emil Salim terhadap pemberian penghargaan Climate Hero Award dari Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) karena merasa gagal menjalankan konvensi Rio 1992. Beliau mengaku salah, gagal dan minta maaf yang terkait dengan perubahan iklim dan keanekaragaman hayati. Pro dan kontra atas sikapnya,dari yang yakin dunia ini baik-baik saja dengan yang sebaliknya.
Bisa dipahami apa yang diperjuangkannya yang salah satunya telah melahirkan Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim PBB (UNFCCC) di tahun yang sama masih jauh dari harapan.
Saya menjadi salah satu saksi mata bagaimana kertas di mesin fax di ruangannya yang sempit di Kementrian Lingkungan Hidup, Jalan Merdeka Barat 15, terus menyala untuk mengkomunikasikan berbagai teks perundingan dengan para stafnya.
Sesuatu yang mungkin tidak pernah terbayangkan oleh generasi kita saat ini yang sudah menikmati kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) lewat video call, WA, email, etc. Lembaran-lembaran fax itu dikirim dari Rio de Jainero, dikomentari oleh para stafnya dikertas fax yang dikirim, difotocopy, lalu dikirim kembali lewat mesin fax yang sama.
Perubahan iklim itu soal global, perlu upaya dan komitmen kolektif dari berbagai negara, pemangku kepentingan termasuk warganya. Paris Agreement yang ditandatangani seluruh pimpinan negara yang tergabung dalam UNFCCC tahun 2015 masih jauh dari harapan. Komitmen negara-negara secara agregat yang memungkinkan suhu rerata global berada pada rerata 1.5 derajat di akhir abad ini kecenderungannya tidak terpenuhi (AR6 Synthesis Report, IPCC, 2023).
Kegeramannya tidak sendirian. Gugatan dari berbagai warga global lintas generasi sedang berlangsung, diantaranya “Extinction Rebellion”. Pesannya lugas kita menuju kepunahan kalau tidak ada upaya yang progresif.
Berbagai dampak bencana hidrometeorologis dan hilangnya keanekaragaman hayati sudah, sedang dan akan berlangsung kalau kita mengatasinya tidak konsisten dan menjadikan “ekonomi bahan bakar fosil” terus digelorakan tanpa henti.
Paris Agreement yang didukung secara ilmiah mempunyai milestone di tahun 2030 emisi global harus turun setengahnya dan di tahun 2050 tercapai “net zero” bumi berada dalam keseimbangan. Emisi yang dikeluarkan akan mampu diserap dan dikelola sehingga pemanasan global bisa dapat dikelola pada tingkat yang tidak membahayakan kehidupan semua mahluk di bumi ini.
Tidak banyak bangsa ini melahirkan orang seperti Pak Emil yang punya visi, dedikasi dan keberpihakan pada lingkungan sehingga beliau pada posisi kekecewaan seperti sekarang ini.
Saya yakin beliaupun menyadari bahwa “Ada masa ada orangnya. Ada orang ada masanya”. Pembelajaran bagi kita yang selalu beliau ingatkan siapapun harus menjalankan pembangunan berkelanjutan secara konsisten dan penuh komitmen.
Dua tahun lalu saya menuliskan perjalanan bagaimana KLH saat beliau memimpin melakukan banyak transformasi kelembagaan dan inovasi. Sudah pas apa yang disampaikan, cara-cara baru harus terus digali. “Pembangunan Berkelanjutan” tentunya juga harus didukung oleh generasi yang terus berlanjut untuk konsisten memperjuangkannya.
Ini catatan subyektif penggalan perjalanan saya melihat langsung saat menjadi menjadi bagian dari KLH di masa lalu (1989-1994).
Mudah-mudahan tulisn ini bisa memperkaya dialog. Bagaimanapun Pak Emil sudah menjadi fase penting dari sejarah pergerakan lingkungandan pelembagaannya. ** ( Penulis Presiden Dilans Indonesia)





