Opini

Ketersediaan Buku Kurang dan Siapa yang Paling Bertanggungjawab

Ketersediaan Buku Kurang dan Siapa yang Paling Bertanggungjawab

69views

Oleh Backtia Adnan Kusuma,.M.Pd

Ketersediaan  buku kurang.  Oleh sebab itu Lampung Tengah melalui Inovasi Bunda Literasi TBM Berbasis Inklusi Sosial Menopang Kegiatan Membaca dan Menulis dari Rumah. Untuk ketersediaan buku di TBM masih kurang  seperti diungkapkan penggerak literasi Ina Murata, Lampung Tengah.  Sementara itu menurut Muhammad Subhan dari Sumatra Barat, ternyata, minat baca masyarakat di daerah tidak terlalu jelek. Membaca tetap menjadi prioritas dan kebutuhan.

MERESPON— dua tokoh literasi dari tanah Sumatra itu saya berpendapat bahwa akses  buku bermutu di daerah-daerah kurang, karena selama ini hanya mendorong membaca melulu, tapi tak mendorong menulis, akibatnya terjadi dikotomi, menggerakkan budaya membaca tapi tak menggerakkan budaya menulis. Kedua pilar ini harus ditumbuhkan dan digerakkan secara bersamaan, simultan dan memassal.

Kalau budaya baca tinggi, otomatis mendorong budaya menulis ikut terbangun, karena membaca dan menulis tak bisa dipisahkan, kata Pennsbaker, psikolog terkemuka AS, siapa yang membaca seharusnya juga memiliki kemampuan menulis, sebab membaca dan menulis dua keping mata uang yang tak dipisahkan. Dan, intervensi Pemerintah Kab Kota Provinsi wajib ikut serta mendorong dan menumbuhkan ekosistem perbukuan lokal, caranya memperbanyak pelatihan menulis, intervensi anggaran APBD untuk pembelian buku, jangan hanya mendorong menulis, tapi tak mendorong dan memberi efek ekonomi bagi penulis dan penerbit. Nah, guru dan pustakawan menulis buku, sekarang tugas Bupati Walikota Gubernur, membeli dalam bentuk partai besar buku -buku karya pustakawan, penulis biar mereka bisa hidup. Bukan sebaliknya mereka menulis, mereka menerbitkan, mereka menjual sendiri, mereka mendesain, mereka editornya, tapi Negara tak hadir, apalagi Bupati Walikota Gubernur tak peduli karena mereka tak punya keberpihakan hidupnya industri buku lokal di daerah.

Sekarang kita butuh walikota, bupati, Gubernur, kadis perpustakaan yang Care akan hidupnya industri buku di daerah. Kita patut berterima kasih Bupati, wakil bupati Maros Andi Chaidir Syam, Wabup Suhartina Bohari dan Kadis Perpustakaan Maros Amiludin A yang begitu memiliki keberpihakan menyediakan anggaran miliaran untuk membeli buku buku kemudian dihibahkan kepada perpustakaan desa, lorong, komunitas baca di Kabupaten Maros.

Jangan hanya mendorong menulis, tapi mendorong menerbitkan, mendistribusi, menyediakan pangsa pasar dan membeli karya tulisan buku mereka.

Inilah efek TPBIS membaca menulis wajib memberi efek ekonomi meminjam buku karya Dr.Adin Bondar, M.Si. literasi dimulai dari Diksi dan diakhiri Aksi, menegaskan kalau Membaca dan Menulis selain berefek ekonomi juga berefek intelektual” Knowledge Driven Of Economy. ** Penulis Penggiat Literasi Kabupaten Maros dan Mendapatkan  penghargaan tertinggi Nugraha Jasadharma Perpustakaan Nasional RI .

Leave a Response