Opini

Pengembangan Program Sumur Bandung Inclusive District Platform (SBIDP) yang Perlu Mendapatkan Dukungan

pengembangan program Sumur Bandung Inclusive District Platform (SBIDP)

97views

Oleh Farham Fahmy (Presiden Dilans Indonesia)

DALAM dua minggu ini saya bersama para aktivis DILANS Indonesia mengunjungi dua rumah produksi yang dikelola oleh para aktivis difabel yang bergerak dalam UMKM: Cemara Paper dan Creative D’Pro. Keduanya kami kunjungi selain untuk melihat secara langsung proses produksi yang dilakukan, juga menjajaki kolaborasi dalam pengemasan dan produksi berbagai produk yang bisa mendukung pengembangan program Sumur Bandung Inclusive District Platform (SBIDP) di kawasan Kecamatan Sumur Bandung.

SBIDP merupakan program multi-pihak berbasis komunitas untuk mendorong perwujudan kawasan inklusif yang sebenar-benarnya yang melembaga serta menjadi contoh bagaimana isu keberlanjutan dan inklusi sosial diintegrasikan kedalam gagasan ekonomi sirkuler (circular economy) dengan melibatkan komunitas dan warga di kawasan ini.

Kawasan ini dinamis. Berbagai komunitas kreatif serta industri rumahan yang terus tumbuh dan berkembang, termasuk menjadi pemasok barang dan jasa kuliner dan lainnya baik. Setidaknya bisa menjadi tempat bagi eksperimen lebih dari 300 Cafe/restoran yang ada di kawasan ini dan sekitarnya.

Kawasan ini juga merupakan kawasan ring-1 kota Bandung dengan jejak sejarah masa lalu yang mungkin tidak dijumpai di kawasan lainnya di Kota Bandung. Kawasan dengan luas wilayah 340 Ha, dihuni 38.266 penduduk dengan 7.493 Kepala Keluarga. Secara administratif mencakup 4 Kelurahan dengan 37 RW, dan 231 RT.

Kedua rumah produksi yang kami kunjungi ini berada di dalam kompleks Sekolah Luar Biasa (#SLB) Negeri Cicendo, dikelola oleh Ibu Asti Gustiasih dan Bu Erlin Keduanya difabel daksa yang dijalankan bersama suaminya masing-masing.

Cemara Paper lebih berfokus pada kriya yang menggunakan kertas daur ulang yang diproduksinya sendiri maupun yang berasal dari sumber lainnya. Creative D’Pro lebih terfokus desain dan produksi dan barang jahitan.

Awalnya didukung oleh program CSR Biofarma bersama SLB, yang sejalan dengan waktu telah berkembang dan banyak memproduksi dan mendistribusikan karya ke banyak pengguna. Selain Biofarma dan berbagai organisasi baik pemerintah maupun non-pemerintah. Usaha mereka sudah dirintisnya sejak lama, namun operasi di kawasan ini baru berjalan sejak tahun 2021.

Tentunya mereka berdua tidak sendirian dalam menjalankannya. Semangat berjejaring dan membangun ketrampilan yang telaten membuat gambaran yang otentik, inilah suatu ekosistem yang ideal yang semestinya dikembangkan di berbagai tempat untuk memberdayakan warga difabel dan lansia (#DILANS).

Kapasitas dan ketrampilan yang mungkin didapat melalui program pelatihan, yang kemudian terhubung dengan berbagai jejaring untuk keberlanjutannya. Termasuk kolaborasi bersama antara BBC76 Community arts and science for everyone, Indonesia Pastry Alliance (IPA), dan DILANS Indonesia dalam pengembangan industri makanan dan minuman dalam satu ekosistem rantai pasok berbasis komunitas..

Keberadaannya di SLB sekaligus menjadi tempat pengenalan dan pelatihan bagi para siswanya dalam memahami produk-produk daur ulang, sekaligus juga bisa berpraktek dan ikut serta dalam produksi serta mendapatkan kompensasi bagi siswanya yang terlibat. Mudah-mudahan dapat menginspirasi 44 SLB lainnya yang ada Bandung Raya.***

Leave a Response