In Memoriam H.Oce Permana
Oleh AS Haris Sumadiria
SEJAK awal berkiprah di dunia media, Kang Oce, begitu kami biasa memanggil H. Oce Permana, dikenal luas sebagai wartawan kelompok kerja kejaksaan, kehakiman dan kepolisian (Pokja Kejakimpol) di Bandung Raya (Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat). Posisi dan jabatan itu dipegangnya sampai akhir hayat. Ia bergabung dengan Harian Bandung Pos, salah satu surat kabar terbesar dan terkemuka di Bandung pada zamannya. Surat kabar ini berhenti terbit pada 2003.
Di Redaksi Harian Bandung Pos, setahu saya, Kang Oce termasuk generasi kedua, antara lain bersama Dede Suryana, Iwan Ridwan, Dedi Gunadi Komar (alm), dan Wawan Kartiwa (alm). Sedangkan generasi pertama antara lain H. Tatang Sukardi (alm), H. Eddy Djunaedi, Johny Irwan Tanuwijaya (JIT), dan H. Ato Supartono Mazunus (alm). Saya sendiri termasuk generasi ketiga, bergabung dengan Bandung Pos sejak 1 Agustus 1983.
Selepas mengundurkan diri dari Bandung Pos, Kang Oce pernah mendirikan, memimpin, dan mengelelola penerbitan sendiri. Itulah Mingguan BOM. Kalau tidak salah, BOM merupakan singkatan dari barisan orang merdeka. Saat itu tabloid mingguan ini cukup disegani dan namanya cukup populer terutama di Bandung Raya dan sekitarnya. Ia juga bersama keluarga merintis usaha, antara lain bidang kuliner. Iga Galabag misalnya, rumah makan iga bakar di Kota Bandung, mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.
Ia merasa bahagia ketika para anggota Ikatan Keluarga Bandung Pos (IKBP) bisa menikmati hidangan iga bakar dan sop iga yang sengaja diundangnya ke RM Iga Galabag. Terlebih lagi dengan posisinya sebagai Ketua IKBP. Ia ingin tetap mempersatukan para mantan wartawan dan karyawan Bandung Pos. Ia ingin mengembangkan tali silaturahmi dan persaudaraan. Ia ingin para awak Bandung Pos dan keluarganya tetap bersama dalam suka dan duka.
Karena itulah, Kang Oce bersedia menerima jabatan sebagai Dirut PT Bandungpos News Network, penerbit media digital Bandungpos.id yang sekarang tiap hari rutin mengunjungi khalayak warganet. Perusahaan yang baru seumur jagung ini juga mendirikan Bandungpos TV, yang nanti akan lebih banyak tayang pada kanal youtube selain di media daring Bandungpos.id sendiri.
Dalam pendirian Bandungpos News Network, Kang Oce termasuk figur senior yang sangat bersemangat dan istikamah. Tidak hanya menyumbangkan pikiran dan tenaga, tetapi juga dana, serta selalu menyediakan diri jadi tuan rumah rapat-rapat dan pertemuan redaksi. Sejauh mungkin ia menyempatkan hadir. Pada saat selepas dirawat di rumah sakit dua bulan lalu pun, ia masih tetap berkirim pesan via WA. “Ris, saya mohon maaf belum bisa gabung rapat lagi. Saya masih harus istirahat (recovery) di rumah. Tapi alhamdulillah sudah bisa duduk di kursi roda,” ucapnya saat itu.
Pada saat lain, ia termasuk rajin menelepon saya secara khusus hanya untuk membicarakan tentang Bandungpos.id. Maklum, salain memimpin usaha bersama keluarga, Kang Oce juga berkiprah juga dalam berbagai organisasi. Antara lain sebagai Ketua Asosiasi Fitsal Kota Bandung, Kepala Humas KONI Kota Bandung, dan pengurus Asosiasi Kota (Askot) PSSI Kota Bandung. Selain itu, ia juga menjabat sebagai Wakil Manajer Persib dalam Liga Indonesia XII 2006. Kang Oce, memang termasuk tipikal jurnalis yang tidak bisa diam. Bisa disebut hiperaktif. Tak terkecuali pada saat masih istirahat sakit sekalipun, ia masih keluyuran menyempatkan diri menengok kantor, kata sopir pribadinya.
Dua minggu lalu, Kang Oce merasa sembuh, merasa sehat. Ia lalu mengundang beberapa sahabat dekatnya antara lain Omay Komar, Dede Suryana, dan Umar, untuk bertemu dan makan siang bersama di salah satu rumah makan khas Sunda miliknya yang baru didirikan di Jl. Cianjur, Kota Bandung.
Seminggu setelah itu, Kang Oce kembali jatuh sakit. Ia masih sempat berangkat sendiri ke RS Al Islam Kota Bandung tanpa dipapah. Sejak saat itulah ia harus berbaring. Ia mendapat berbagai penangan medis secara optimal. Kondisinya ternyata terus memburuk, sampai akhirnya pada Kamis 19 Januari 2023 pukul 18.44 Kang Oce dinyatakan sudah berpulang. Ia wafat dalam usia 71 tahun.
Kang Oce begitu bangga dengan profesinya sebagai jurnalis. Terbukti pada suatu hari di sela-sela rapat salah satu rumah bakso, juga miliknya di Jl. Banteng, Kota Bandung, ia sempat menunjukkan kartu pers kepada saya. “Nepi ka ayeuna, Akang masih keneh jadi wartawan, Ris,” katanya sambil tersenyum.
Sejauh yang saya tahu, Kang Oce memang termasuk jurnalis senior yang setia terhadap profesi, santun dalam berkata, ramah dalam berinteraksi, bijak dalam bersikap, royal dalam bersedekah, akrab dan hangat dalam berkawan dengan siapa pun, dan senantiasa mengingatkan para kolega dekatnya untuk lebih rajin beribadah, lebih mendekatkan diri dengan Sang Khalik.
Kang Oce, yang tiada henti mengabdi, kini sudah kembali. Ia berpulangn dengan meninggalkan banyak kenangan manis di mata keluarga, sahabat, rekan sejawat, dan terutama komunitas serta masyarakat olah raga Bandung Raya yang sangat dicintainya. “Ris, mun bisa mah, jabatan dirut teh ulah Akang. Meujeuhna dicekel ku nu ngora,” katanya dalam satu kesempatan. Itulah pesan terakhir almarhum. Wilujeng angkat, Kang Oce. *
AS Haris Sumadiria, jurnalis senior, dosen komunikasi dan jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati dan beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta di Bandung.





