Kolom Sosial Politik
Oleh: Ridhazia
ADE Armando diberitakan memilih jalan baru kehidupannya. Ia telah resmi menjadi politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Posisinya sebagai dosen sekaligus pegawai negeri sipil pada Universitas Indonesia (UI) otomatis ditinggalkan. Ia pensiun lebih awal pada usia 62 tahun.
Seperti diketahui, Ade Armando pernah menjadi korban pengeroyokan di depan Gedung MPR/DPR Senayan pada Senin (4/11/2022) lalu. Ia mendapatkan bogem mentah dari pria bertopi dan tersungkur di atas aspal setelah sekitar 30 orang bergantian melucuti dia hingga hanya bercelana dalam dengan keadaan babak belur. Ia pun memperoleh perawatan di HCU RS Siloam Jakarta akibat pendarahan otak.
Modal Politik
Latar pendidikan tinggi sekaligus dosen FISIP UI lebih dari cukup bagi Ade Armando menjajal dunia politik. Apalagi ia makhluk populer yang cukup berani mengambil risiko dengan segala kontroversinya. Dan, semua ini menjadi modal politik yang lebih dari cukup untuk memasuki gelanggang politik.
Dalam studi ilmu politik, modal politik menurut Kimberly L Casey adalah modal simbolik kandidat untuk bisa memenangkan suatu kontestasi politik. Seorang kandidat yang mempunyai modal politik yang lebih besar dari kandidat lainnya memiliki peluang yang lebih besar untuk menang dalam suatu kontestasi politik.
Berbekal pendapat ilmiah tersebut, Ade Armando termasuk seseorang yang memiliki modal simbolik potensial yakni jaringan sosial untuk memelihara keberlangsungan pengakuan publik secara timbal balik. Terlepas dari pernyataan kontroversinya.
Kontroversial
Dalam catatan saya, nama Ade Armando identik dengan sosok makhluk kontroversial. Pernyataan sensitif di ruang publik dimulai pada 2015 ketika ia berpendapat kalau LGBT tidak diharamkan dalam Islam. Tahun 2017 ia dilaporkan ke Bareskrim Polri atas kasus dugaan tindakan pidana ujaran kebencian karena mengunggah foto Habib Rizieq memakai topi Santa Claus jelang perayaan Natal.
Menyusul heboh Sukmawati Soekarnotputri yang membandingkan kidung dengan suara adzan, ia mencicit di media sosial dengan mengatakan adzan tidak suci. Akibatnya ia kembali dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada 2018 atas dugaan penyebaran kebencian yang bermuatan SARA dan/atau penodaan suatu agama.
Meme Joker Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada 2019 menambah amunisi popularitasnya semakin melimpah. Ia dilaporkan ke Polda Metro Jaya. Tercatat pula ia pernah berpendapat ikhwal sholat 5 waktu yang tidak ada dalam Alquran. Hal itu dilontarkannya saat mengomentari pernyataan dari Imam Masjid New York, Imam Shamsi Ali.
Bahkan ia pernah menyatakan hal paling sensitif bahwa Allah bukan orang Arab di akun Facebook-nya pada 25 Januari 2017. Unggahan tersebut ia dilaporkan ke Polda Metro Jaya. Ia pun ditetapkan sebagai tersangka sejak 2017.*
Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, pemerhati komunikasi sosial politik, bermukim di Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.





