Opini

Beginilah Esensi PEMAAFAN

207views

Kolom Sosial Politik
Oleh: Ridhazia

SEMUA agama besar di dunia mempertimbangkan pemaafan (forgiveness) sebagai yang diyakini individu yang relijius. Sebab pemaafan berdampak positif dalam mempertahankan keharmonisan hidup antara diri sendiri, antara diri sendiri dengan orang lain dan manusia dengan Tuhan sebagai yang diyakini individu (Poloma & Gallup, 1990 dalam Bedell, 2002).

Bukti ilmiah

Seluruh penelitian mengkonseptualisasikan bahwa pemaafan sebagai proses mengurangi motivasi yang negatif menjadi positif. Secara ilmiah juga terbukti kalau pemaafan ( forgiveness) telah menjadi inti hidup manusia. Sekaligus menjadi hal yang paling penting dalam proses pemulihan komunikasi interpersonal setelah konflik (Hill, 2005).

Disinilah, pemaafaan bukan sebatas lisan dan tertulis di media sosial. Tetapi komitmen memaafkan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan.

Bukti ilmiah lain menunjukkan bahwa pemaafan dapat mengurangi depresi dan kecemasan, selain terhindar dari membalas dendam (dalam Worthington & Rachal, 1997) hingga pemafaan dapat menjadi pangkal perbaikan perkawinan dan bertumbuhnya niat baik diantara pasangan menikah (dalam McCullough, Worthington & Rachal, 1997).

Adalah Hill, Hasty dan Moore (2011) yang membuktikan kalau setiap individu selalu berada pada posisi membutuhkan dimaafkan dan memaafkan. Pemaafan salam hal ini dapat menjadi alat penting untuk pemeliharaan hubungan interpersonal dan intrapersonal (Exline & Zell, 2009)

Penelitian lain mencatat individu dengan level pemaafan yang rendah terbukti memiliki resiko besar depresi, juga kesehatannya rentan terganggu. Sebaliknya, yang memiliki level pemaafan tinggi mampu menjalin hubungan yang baik dengan individu lain.

Maafin saya…

Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, pemerhati komunikasi sosial-politik, bermukim di Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung.

Leave a Response