Kolom Sosial Politik
Oleh Emeraldy Chatra
APA yang terjadi hari ini mengingatkan saya kepada anak tetangga di akhir tahun 90an, sebelum reformasi. Sebutlah nama anak itu Ali. Ia mahasiswa ekonomi semester akhir.
Ali sangat sering bertamu ke rumah saya dan mengajak saya ngobrol sampai tengah malam. Sepertinya ia senang betul bertemu dengan orang yang mau jadi penampungan pikirannya.
Sebagai dosen yang sudah berpengalaman mengajar 10 tahun saya tahu banyak dari pendapatnya yang ilusif, tidak ilmiah, bahkan ada juga yang ngawur alias tidak logis. Tapi saya hampir tidak pernah membantah. Mungkin karena sikap saya seperti itu ia merasa tetap nyaman, tetap berapi-api dan tetap buka mulut.
Istri saya sampai heran melihat sikap saya. Sebab dia tahu saya sering berdebat dengan orang-orang yang lebih senior. Bahkan di antaranya ada yang sudah doktor. Mungkin di mata istri saya agak tengil dan tak tahu diri karena berani melawan orang yang lebih hebat.
Keheranan istri saya jawab begini:
Saya tidak bangga menang debat dengan anak muda seperti Ali. Betul, banyak dari pendapatnya yang tidak logis, tidak berdasar, khayali, dan bla bla bla. Tapi apa untungnya bagi saya mematahkan argumen-argumennya? Apakah perlu saya memperlihatkan bahwa lebih tahu dari dia?
Saya tidak tahu apakah sikap saya benar atau tidak. Saya hanya ingin merefleksikan kehendak nurani yang tidak bisa menerima sikap jumawa dan sombong dari sejumlah kaum senior di Taman Budaya, Padang terhadap yunior-yunior, termasuk saya.
Sejak SMP hingga sekarang saya sangat akrab dengan pergaulan di Taman Budaya. Saya menjadi saksi sikap petentang-petenteng sejumlah budayawan senior terhadap budayawan yunior. Seperti yunior lainnya, saya pun pernah jadi sasaran kesombongan mereka di tengah orang banyak.
Saya tidak suka sikap senior seperti itu. Lantas, apakah saya harus mewarisi dan membalaskan kepada yang lebih yunior seperti Ali? Biar kejengkelan dan sakit hati terbalas? Biar di mata Ali saya orang hebat yang pendapatnya selalu bernas dan benar?
Engga bangetlah. Itu bukan saya. Saya lebih suka menjadikan yang senior, termasuk yang sok hebat itu sebagai lawan debat. Kalau kalah, ya normal karena saya masih yunior. Kalau menang, itu bonus hehe.
Sekarang Ali sudah ‘jadi orang’ orang di Jakarta. Jadi orang sukses. Lebih cerdas dalam berpikir dan lebih rendah hati. Ia pun rasanya lebih hormat kepada saya ketimbang dulu. Saya merasa senang sekali.
Kalau saja dulu saya mematahkan pendapat-pendapat dan mengecilkan Ali, mungkin lain ceritanya. Boleh jadi ia tetap jadi orang sukses, hebat, tapi tidak mampu memperlihatkan sikap hormatnya pada saya.
Hingga sekarang saya tetap mempertahankan sikap untuk tidak menepuk dada di depan yang yunior, terutama mahasiswa. Saya memang makhluk pencerita, tapi tidak ingin selalu didengar. Mendengarkan cerita para mahasiswa bagi saya lebih asyik daripada menggurui dan memperlihatkan siapa saya.
Sayang sekali justru mahasiswa yang banyak menutup diri dan takut berbicara kepada saya. Mungkin mereka sering dapat serangan dari dosen-dosen mereka, sehingga persepsi mereka terhadap saya menjadi kurang baik. Mungkin mereka merasa saya pun akan mematah-matahkan pendapat mereka.*
Dr Emeraldy Chatra, M.Ikom, dosen senior dan Ketua Prodi S2 Komunikasi Universitas Andalas, bermukim di Kota Padang, Sumbar.





