Kolom Sosial Politik
Oleh Ridhazia
MEGAWATI Soekarnoputri menuai banyak kritik mengenai ucapannya tentang tinggi badan. Mantan Presiden itu juga sesumbar kalau keturunannya selektif ketika memilih kekasih. Jangan yang pendek dan jelek.
Mengejek…
Ucapan Ketua Umum PDIP itu dianggap publik tidak etis. Ia melakukan body shaming. Yang dimaksud body shaming yaitu pernyataan yang mengejek atau menghina ukuran tubuh dan penampilan seseorang.
Body shaming menurut definisi Association of Anorexia Nervosa and Associated Disorders (ANAD) yakni segala sesuatu atau bentuk tindakan serta praktik menghina bentuk maupun ukuran tubuh yang dimiliki oleh orang lain.
Pendek tapi panjang
Rupanya, Ibu Megawati belum mengetahui kalau manusia yang berpostur pendek itu lebih tangguh dan sehat. Bahkan panjang umur ketimbang yang tinggi semampai.
Sebuah penelitian Department of Geriatric Medicine, University of Hawaii, seperti dilansir Medicaldaily, Senin (12/5/2014) membuktikannya. Temuan terbaru kalau manusia yang tubuhnya pendek, kurang dari 157 cm, hidupnya lebih lama ketimbang yang posturnya lebih tinggi dari 162 cm.
Genetik!
Tidak cukup alasan jika manusia dihinakan oleh manusia lain. Pasalnya tinggia atau pendek tubuh seseorang ditentukan oleh faktor gen. Anugerah Tuhan ini memainkan peran penting dalam pemeliharaan sel induk atau sistem kekebalan tubuh sebagaimana ditemukan penelitian Christian Albrechts University pada penelitian tehadap penduduk Amerika keturunan Jepang.
Peneliti mengamati 8.006 orang Amerika keturunan Jepang yang lahir antara tahun 1900 dan 1919. Para pria itu diikuti selama 50 tahun. Sekitar 1.200 usianya 90-an dan 100 tahun dan hampir 250 masih hidup saat ini.*
Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, pemerhati komunikasi sosial-politik, bermukim di Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung.





