
Oleh Farhan Helmy Presiden Dilans Indonesia
BUKAN — sekedar presentasi dan asal tahu, memberikan berbagai informasi publik bagi penyandang disabilitas. UUD 1945 dan berbagai peraturan regulasi diantaranya UU 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, UU 8/2016 tentang Penyambutan Disabilitas, dan lainnya menjamin kesetaraan akses informasi sebagai bagian dalam pengambilan keputusan
Masalah ini harus diatasi bukan sebagai warga penerima informasi pasif. Jumlahnya yang lebih dari 23 Juta orang adalah, hampir sepersepuluh dari warga negara yang tidak boleh diabaikan begitu saja. Warga negara ini rentan terhadap potensi dampak pembangunan yang sering kali bias pada keuntungan kelompok kepentingan tertentu.
Salah satu yang menarik perhatian saya adalah soal pengelolaan daerah aliran sungai (#DAS), kawasan dimana perubahan ruang dan interaksinya terjadi dalam suatu siklus hidrologi yang harus dijaga keseimbangan daya dukung dan daya tampungnya. Tak terkecuali warga difabel diperkirakan akan ada di berbagai konsentrasi penduduk dan berbagai kegiatan sosial dan ekonomi.
Berdasarkan Permen PUPR 4/2015, kami memiliki 7977 Daerah Aliran Sungai (DAS). dari 128 Wilayah Sungai (WS). Dalam suatu pertemuan yang difasilitasi oleh Pusara PUPR akhir tahun lalu diakui bahwa ketersedian berbagai peta ini terbatas. Badan Informasi Geospasial (BIG) pernah menerbitkan Atlas Taktual Nasional Indonesia (#ATNI) yang berisi informasi tiga dimensi yang dapat diraba oleh difabel netra dan dilengkapi.deskripsi huruf braille.
Tentunya tidak semua informasi spasial baik peta dasar dan 85 peta tematik, termasuk bencana yang diproduksi oleh berbagai Kementrian dan lembaga tersedia. Walaupun spiritnya dalam satu kerangka satu peta (One Map) Kebutuhannya tidak sekedar skala makro, bahkan dalam melakukan mobilitas dalam keseharian termasuk ketika terjadi bencana.
Bagi difabel mungkin dimanapun berada sama saja, namun dengan peta ini mereka akan merasakan sensasi lain karena adanya orientasi lokasi yang berbeda 🙏
Oleh karena itu, saya dan kawan-kawan DILANS Indonesia dibantu oleh para relawan mahasiswa Geodesi dan Geomatika ITB membuat mock up peta Sumur Bandung dengan 3D printing untuk difabel dengan berbagai ukuran baik sebagai alat peraga ataupun ukuran saku yang mereka bisa rasakan secara otentik. Bagi difabel mungkin dimanapun berada sama saja, namun dengan peta ini mereka akan merasakan sensasi lain karena adanya orientasi lokasi yang berbeda
Mudah-mudahan upaya kecil ini dapat menggugah banyak pihak.
Usulannya sederhana dan tidak memakan sumber dana yang banyak. Kira-kira ini yang diusulkan: (1), Peta DAS makro Nasional dan 2 DAS Citarum dan Ciliwung, dicetak 120 x 80 cm2 (2). Maket 3D Printing di tempat tertentu di DAS Citarum dan sekitarnya (Cirata, Saguling, Jatiluhur (3). Booklet DAS dan Krisis Iklim dicetak dalam Braille (4). Literasi dan advokasi secara masif secara multi-media. **





