Opini

Buku: Pendorong Entitas Urang Sunda

424views

Kolom Sosial Politik
Oleh: Budi Setiawan

PADA 23 April 2023 lalu, dunia memperingati Hari Buku Sedunia (World Book Day). Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melalui United Nations Education, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) telah menetapkan tanggal tersebut sejak 1995 pada Konferensi Umum UNESCO di Paris.

Peringatan Hari Buku Sedunia juga dijadikan momentum penghormatan kepada buku dan penulis (books and copyright) di seluruh dunia serta mendorong setiap orang untuk mengakses buku. Hari Buku Sedunia tahun 2023 ini mengangkat tema “Indigenous Languages” (Bahasa Pribumi).

Tema yang diangkat tahun ini menarik memang. Menurut UNESCO, tema ini diangkat mengingat ribuan bahasa pribumi di seluruh dunia menghilang dalam waktu cepat. Bahkan, mayoritas bahasa-bahasa yang hilang mewakili sebagian besar keanekaragaman budaya adat di dunia.

Tertarik pada tema Hari Buku Sedunia tahun ini, penulis menjadi teringat buku berjudul “Semangat Baru – Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesusasteraan Sunda Abad ke-19” karya Mikihiro Moriyama (2003). Buku yang sebenarnya diambil dari disertasi berjudul asli “A New Spirit – Sundanese, Publishing, and the Changing Configuration of Writing in Nineteenth Century West Java” itu mengulas panjang tentang kehidupan bahasa dan sastra Sunda di abad ke-19 dikaitkan dengan kegiatan intelektual, kebijakan kolonial, penerbitan karya tulis, dan pendidikan bagi anak-anak bumiputera (dalam hal ini pribumi Sunda).

Dijelaskan dalam disertasinya upaya-upaya pemerintah kolonial Belanda di awal abad ke-19 dalam menemukan dan memurnikan, bahkan mendayagunakan bahasa Sunda melalui penerbitan buku-buku berbahasa Sunda. Lewat cara itu, kaum pribumi Sunda tak hanya menjadi melek aksara tapi juga melek cetak sehingga membentuk ilmu pengetahuan baru di kalangan urang Sunda sendiri.

Dalam kajian literatur akademis masa kolonial, para akademisi Belanda menemukan posisi bahasa Sunda sebagai bahasa pribumi yang “terkooptasi” oleh budaya dan bahasa Jawa Mataram. Padahal secara spesifik memiliki keunikan tersendiri di antara bahasa-bahasa lokal lainnya di Indonesia. Keunikan itu telah menetap di wilayah tatar Sunda, khususnya Priangan (atau dalam terminologi masa itu disebut “Berg-Javaan” alias bahasa Jawa pegunungan), sejak lama dan berkembang selama beberapa generasi.

Karena “keunikan” itulah, bahasa Sunda harus ditempatkan dan dipisahkan dari bahasa Jawa (termasuk Melayu dan Arab) yang memang berkembang dan “dominan” saat itu. Dengan kata lain, lewat keunikan bahasa Sunda itulah, masyarakat Sunda bisa berlepas diri dari kungkungan bahasa Jawa Mataram yang bertahan selama 2 abad lamanya.

Atas pertimbangan tersebut, tampaknya pemerintah kolonial Belanda saat itu merasa perlu mentransformasikan bahasa dan budaya lisan (sastra) Sunda ke dalam tradisi baca melalui penerbitan buku-buku berbahasa Sunda.

Namun menurut JA Wilkens, seorang pegawai pemerintahan di bidang pendidikan bahasa Jawa di Surakarta, tujuan penerbitan ke dalam buku berbahasa lokal (termasuk bahasa Sunda) sebenarnya atas pertimbangan praktis. Penerbitan buku-buku itu bukan diarahkan untuk menjadikan kaum pribumi mendapatkan pengetahuan dari apa yang dibacanya, tapi tidak lebih hanya mengajari kaum pribumi membaca dan menulis dalam bahasa mereka sendiri (Mikihiro, hlm 92).

*Bangkitnya Literatur Sunda*
Terbitnya buku kamus bahasa Belanda-Melayu dan Sunda pertama kali pada 1841 (Nederduitsch – Maleisch en Soendasch Woordenboek) menjadi wujud penghargaan khusus kaum akademisi Belanda akan eksistensinya bahasa Sunda di antara bahasa masyarakat lainnya.

Beberapa tahun kemudian penerbitan buku-buku berbahasa Sunda pun mulai bertambah jumlahnya. Dalam live streaming Youtube acara Dies Natalis Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran pada 27 Oktober 2020 lalu, Mikihiro mencatat sepanjang 1850-1945 sudah terbit 640 buku dengan 500 judul buku berbahasa Sunda. Artinya dalam setahun ada 5-6 judul buku bahasa Sunda yang diterbitkan penerbit buku saat itu.

Salah satu tokoh asal Belanda yang berperan dalam kebangkitan literasi Sunda adalah Karel Frederik Holle, administratur perkebunan teh di Cikajang, Garut. Dia sangat tertarik pada literasi dan kebudayaan Sunda.

Berkat interaksinya dengan kaum pribumi Sunda, Holle telah melahirkan penulis dan sastrawan Sunda semisal Moehamad Moesa (Penghulu Besar Limbangan), R.A. Lasminingrat, putri Moehamad Moesa yang kemudian menjadi tokoh pendidikan dan sastrawan wanita Sunda. Juga ada Hasan Mustapa (Penghulu Besar yang pernah bertugas di Aceh dan Bandung), yang kemudian menjadi sastrawan Sunda yang berhasil melahirkan banyak karya.

Munculnya penulis-penulis dari tatar Sunda itu mengindikasikan transformasi literasi dari model dibunyikan (lisan) secara bertahap memasuki era literasi aksara. Ini semakin mendorong kebijakan pemerintah kolonial menyokong rencana-rencana Holle dalam menerbitkan buku-buku berbahasa Sunda. Indikasinya bisa terlihat dari pertumbuhan jumlah buku berbahasa Sunda di wilayah Priangan yang cukup signifikan, mampu melampaui penerbitan buku-buku berbahasa Melayu.

Berkembangnya dunia percetakan buku-buku berbahasa Sunda tersebut semakin menguatkan pengakuan bahwa literasi Sunda bukan hanya semata pada entitas bahasa. Namun juga pengakuan pada entitas masyarakat dan kelompok etnisnya juga.

Pengalaman sejarah ini memberi sebuah hikmah bahwa kehadiran buku dan penulis buku mendorong eskalasi kebudayaan masyarakat tertentu. Membaca buku bukan semata membuka cakrawala pengetahuan, tapi dengan menulis buku pun bisa berperan dalam meningkatkan eksistensi dan entitas diri penulis serta masyarakat yang diwakilinya.

Di situlah kita menemukan kehebatan buku sebagai agen perubahan sosial dan budaya. Tanpa kehadiran buku, kita bisa membayangkan peradaban masyarakat berjalan stagnan. Sebagaimana dinyataka penyair Inggris, TS Eliot, yang mengingatkan betapa sulitnya membangun peradaban tanpa budaya menulis dan membaca buku.*

Budi Setiawan, jurnalis, pemerhati sosial politik, bermukim di Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Leave a Response